Belasungkawa untuk korban gempa Jawa Barat

longsor gempaDuka kembali menjerat saudara kita, tak dinyana tak diduga gempa tektonik mengoyak-ngoyak sebagian wilayah Jawa Barat. Tanggal 2 September 2009 menjadi saat buruk bagi banyak orang, sejumlah bangunan hancur di berbagai daerah yang menimbulkan banyak korban. Bencana alam tak dapat diduga, dia hadir semena-mena, sesungguhnya kita bisa mengurangi resikonya.

Sejumlah orang tewas mengenaskan tertimpa rumah dan bangunan roboh. Mereka tidak sempat menyelamatkan diri. Kota-kota yang relatif dekat dengan pusat gempa seperti Tasikmalaya, Garut dan daerah sekitarnya menjadi kawasan yang paling parah kerusakannya. Bangunan yang konstruksinya tidak dirancang untuk tahan gempa, ambruk. Kondisi terparah adalah bangunan rumah tinggal yang konstruksinya sederhana, bangunan yang spesifikasi teknisnya tak memenuhi standar.

Kalau saja bangunan rumah dibuat “agak dekat” dengan spesifikasi teknis yang memadai, maka risiko yang terjadi bisa lebih kecil. Pengalaman saya di beberapa daerah di Jawa Barat, banyak rumah-rumah penduduk, tampak luarnya berupa bangunan tembok. Tapi seringkali, tembok tersebut kurang kuat konstruksinya, karena dibuat dari batako dan kemudian diplester sederhana dengan campuran semen yang minimal. Bahkan banyak yang tidak dilengkapi dengan besi tulangan yang memadai.

Bangunan-bangunan sederhana itu, sudah barang tentu sangat rentan terhadap gempa. Jangankan gempa dengan kekuatan 7,3 Skala Richter (SR), mungkin dengan gempa di sekitaran 5 SR saja sudah ambruk. Masyarakat kelas menengah kebawah, menekan harga konstruksi bangunan dengan konstruksi yang lebih murah, ketika terjadi gempa, kerugian menjadi cukup fatal. Bahkan bisa menelan korban jiwa.

Di daerah perdesaan, yang paling rawan adalah kawasan lahan kritis. Karena mengeksploitasi lahan kurang mempertimbangkan kelestarian alam, hutan dirambah sampai gundul. Lahan-lahan miring bahkan dijadikan pertanian palawija, yang sangat rentan terhadap longsor. Saat terjadi bencana gempa tektonik, kawasan lahan kritis menjadi longsor.

Menurut berita, di kawasan Cianjur (desa Cikangkareng, Cibinong), batu-batu besar longsor menimpa kawasan permukiman akibat gempa tektonik tanggal 2 September 2009. Korban tewas sampai Rabu (3/9), setidaknya sudah 15 orang. Yang dinyatakan hilang, jumlahnya lebih banyak, belum termasuk korban luka-luka.

Gempa “Jawa Barat”, menelan korban yang cukup besar, belansungkawa kepada para korban. Semoga korban segera mendapat bantuan untuk meringankan beban menghimpit. Mudah-mudahan risiko bencana alam bisa dikurangi dengan “ketersiapan” yang lebih baik. Semua pihak perlu bahu-membahu membenahi kekurangan yang ada, untuk meningkatkan “ketersiapan bencana“. Semoga risiko bisa dikurangi.

One thought on “Belasungkawa untuk korban gempa Jawa Barat

  1. Turut berdukacita untuk semua korban.
    Saya dengar korbannya terus bertambah.

    Ah, mari lebih menyayangi bumi ini dan juga semoga oh semoga sosialisasi antisipasi bencana alam itu cepat tersebar luas. Biar gak jatuh lbh banyak korban lagi…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s