Kelalaian mengemudi mudik berakhir dengan tewas tertabrak Argo Wilis

Niatnya mau berlebaran di kampung halaman, sowan kepada para sesepuh, dan silaturahmi dengan sanak saudara. Begitu kuatnya keinginan Siswanto dan anak isterinya untuk mudik tahun ini hingga jauh-jauh hari ia pulang dari Bandar Lampung. Tapi apa hendak dikata, niat mudik tak kesampaian, Sang Pencipta berkata lain, Siswanto dan anak istri tewas tertabrak kereta api.

Tragis nian akhir hidup Siswanto, ia mengajak istrinya Anah, serta anaknya Weni, dari Bandar Lampung, tapi berakhir dengan kematian yang mengenaskan. Ketiganya tewas ditempat kejadian, sewaktu mobil kijang yang mereka sewa ditabrak kereta Argo Wilis di Desa Pakah, Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jatim, Senin 7 September 2009.

tabrakanMobil kijang yang ditumpangi keluarga Siswanto hancur, nyaris tak berbentuk. Selain Siswanto dan anak istrinya, pengemudi, Junaidi, juga tewas bersama penumpang lain. Hanya seorang yang selamat, itupun kondisinya masih sangat kritis. Kecelakaan maut itu terjadi ketika Junaidi mengemudikan mobilnya melewati perlintasan kereta api yang tidak berpalang pintu.

Begitu kerasnya tabrakan, sampai-sampai dua penumpang mobil terlempar keluar, dan tewas di tempat. Iiihhhh… mengerikan… Anehnya, masinis kereta api bahkan tak menyadari tabrakan, sampai-sampai mobil kijang terseret sejauh 1 km dari perlintasan. Padahal kecelakaan itu terjadi disiang bolong jam 11.30. Masinis baru menghentikan kereta setelah orang berteriak-teriak ke arah lokomotif.

Membaca berita itu, saya jadi tercenung. Apakah perjalanan harus berakhir seperti keluarga Siswanto, ataukah ada faktor keteledoran alias kelalaian pada kejadian itu. Kematian tak dapat diatur oleh manusia, di ranah ini, Tuhan punya otoritas mutlak. Tapi menurut saya, kecelakaan (terutama kecelakaan lalulintas) dapat dihindarkan oleh manusia.

Saya mencoba mencermati kecelakaan yang menimpa keluarga Siswanto. Mereka berangkat dari Bandar Lampung hari Minggu 6 September 2009 sekitar jam 11 siang. Kemudian sampai diperbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, dimana kecelakaan terjadi, jam 11.30. Perkiraan saya jarak tempuhnya sudah sekitar 800 km. Kalau dihitung jarak itu ditempuh dalam waktu total 24 jam dan 30 menit.

Setidaknya mereka berhenti 2 kali untuk makan (masing-masing rata-rata 45 menit), dan 2 kali isi BBM (masing-masing sekitar 20 menit, termasuk ke toilet). Mereka menyeberang selat Sunda (sekitar 2 jam ?, saya kurang tau). Jadi menurut saya, Junaidi dan penumpangnya nyaris tidak berhenti selama perjalanan 24 jam kecuali untuk hal-hal yang saya sebut diatas.

Jadi dapat dipastikan, Junaidi, sipengemudi sangat kelelahan dalam menyetir mobil. Dan ini sangat bahaya. Apalagi dia tidak familiar dengan jalan disekitar Mantingan, maka ketika ia hendak melewati persimpangan kereta api, boleh jadi kewaspadaan Junaidi sudah nyaris tidak ada. Dia mengemudi ibarat orang setengah “melayang” alias setengah sadar. Disinilah yang saya katakan sebagai kelalaian alias keteledoran dalam mengemudi.

Beberapa tahun lalu, saya pernah mengemudi dari Surabaya ke Jakarta dengan mobil bersama keluarga. Saya tidak mau mengemudi di malam hari, karena jarak pandang yang sempit dan tidak faham jalan secara detail. Saya berangkat pagi-pagi dari Surabaya, setelah sekitar 3 jam, berhenti sebentar, dan makan siang di Semarang, kemudian menginap di Cirebon. Baru besoknya melanjutkan perjalanan sampai Jakarta.

Saya tidak mau mempertaruhkan keselamatan keluarga dengan memaksa mengendara terus sampai Jakarta. Saya juga tidak mau menyerahkan nasib keluarga saya dengan sepenuhnya kepada supir, (yang sering sulit diberi tau). Saya lebih baik capek, tapi istri dan anak saya selamat sampai di tujuan.

Karena itu, saya tidak merasa heran, mengapa Junaidi yang membawa keluarga Siswanto, mengalami kecelakaan, ditabrak kereta api. Dengan keletihan mengemudi selama 24 jam, kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Mengemudi dalam keadaan setengah mengantuk, sangat berbahaya.

Tapi tau tidak, hampir semua pengemudi bis malam dari Jakarta ke Jawa, mengemudi dengan setengah mengantuk. Tidak percaya, coba aja tanya supir bis malam. Tentu saja kalau kita tanya saat kita sebagai penumpang, si supir tidak akan mengaku. Tanyalah saat supir santai, pasti semua akan diceritakan. Betapa bis malam, sebenarnya bisa sampai tujuan dengan selamat, itu sudah mujizat. Iiihhhh…seramnya naik bis malam.

***
Gambar di pinjam dari sini.

4 thoughts on “Kelalaian mengemudi mudik berakhir dengan tewas tertabrak Argo Wilis

  1. Wiiiih ngeri bener…
    Masa iya para supir itu nyetir setengah melayang?
    Sereeeeeeeeeeeeem !!!

    Tapi pak, nyeberang selat sunda memang sekitar 2 jam.
    Mungkin dipikirnya itu sudah cukup ya buat istirhat.

    Tempo hari saya Jkt – Mlang dengan suami, nyetir gantian.
    jalan malam lebih enak karena sepi dan udara segar.
    tapi kalo sudah ngantuk… ya berhenti, gak mau ngoyo….

    Like

  2. Aduh bergidik membayangkan supir bus malam yg nyetir sambil ngantuk-ngantuk.
    Memang iya pasti ada saat-2nya mereka ngantuk, itu sebabnya ada kenek yg tugasnya mengajak ngobrol biar gak ngantuk. Masalahnya klo dua-2 sama2 ngantuk, matilah kita sudah.
    Bener bang, daripada berharapa pada sopir (yg susah ditegur dan ga mo ngaku klo dia ngantuk), lebih baik kita nyetir sendiri. Tp juga kalo jalan keluar kota jangan egois, kalo memang ngantuk ya sebaiknya kita beristirahat dulu 1-2jam ngopi-2 dan tiduran bentar. Dan ga boleh makan terlalu kenyang krn akan memicu rasa kantuk.

    Turut berduka cita buat Siswanto & keluarga…..

    Like

  3. Wah, serem!
    Yang terbaik memang tidak usah pergi kemana-mana yeeee…:)
    Naik apapun sebenarnya bahaya…

    Aku setuju denganmu, banyak supir emang mau jujur bercerita tentang ‘ngantuknya’ ketika nyetir malam…

    Like

  4. Insiden kecelakaan ketika musim mudik lebaran tiba, seolah merupakan suatu hal yang sulit terhindarkan. Jalanan yang padat dipenuhi berbagai kendaraan, juga stamina pemudik yang terkadang kurang diperhatikan.
    Selayaknya pengalaman mudik di tahun-tahun yang lalu dapat dijadikan pelajaran. Bahwa mudik memerlukan berbagai persiapan dan juga kedisiplinan. Terutama, dari pihak pemudik itu sendiri. Jangan sampai nyawa dijadikan taruhan hanya karena ketidakdisiplinan sebagian pihak. Mari kita jadikan mudik sebagai momen yang aman dan menyenangkan untuk bersilaturahim.
    Pasang Iklan Gratis

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s