Mudik, bagaimanapun harus pulang kampung

Mudik, ritual tahunan untuk bernostalgia, pulang kampung menjenguk keluarga. Setelah sekian lama merantau, meninggalkan kampung halaman, kini saatnya untuk bertemu lagi dengan orang-orang tercinta. Kerinduan akan kampung halaman sedemikian besar, sehingga bersusah payah pun akan dilakukan demi mudik. Berebut mencari tiket, berdesakan di kereta api, bis, atau kapal, tak jadi soal, yang penting bisa pulang ke kampung.

KA Kertajaya LebaranMudik, tradisi yang semakin kental dimasyarakat urban. Sering sulit untuk menjelaskan, mengapa sampai harus menantang maut dan bahaya untuk bisa mudik. Lihatlah foto disebelah, pemudik dari Jakarta dengan kereta api Kertajaya jurusan Surabaya. Bahkan dilokomotif pun, orang berdiri berdesakan, pemandangan yang sesungguhnya sangat memilukan.

Keselamatan tidak dihiraukan, asal bisa ikut bergerak menuju stasiun tujuan, bergelantungan juga tak mengapa. Perjalanan kereta api Kertajaya dari Stasiun Senen, Jakarta ke stasiun Pasar Turi Surabaya bisa mencapai 15-17 jam (tergantung kesibukan lalulintas kereta api.) Kalau sampai berdiri (syukur kalau bisa “duduk”) di lokomotif demikian, maka setiap saat orang bisa jatuh dan celaka. Berdiri selama berjam-jam di lokomotif di terpa panas matahari, sangat menantang maut. Tapi para penumpang itu sudah nekat. Mengenaskan bila seperti keluarga Siswanto, niatnya mudik, tapi malah tewas sekeluarga.

Lain lagi cerita pemudik tujuan Solo, seorang pemuda 25 tahun sebut saja Bambang, naik kereta api dari stasiun Pasar Senen. Menjelang Cirebon, petugas dan kondektur kereta api mendapati Bambang tak sadarkan diri. Pemuda yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh bangunan ini, ternyata dibius seseorang. Uang hasil tabungannya sekitar satu juta rupiah beserta hand-phone raib. Setelah ditunggu lebih dari satu jam di stasiun Cirebon, Bambang baru sadar, dan menceritakan, kalau ia diberi “minuman kemasan” oleh seseorang.

Minuman dalam kemasan itu rupanya sudah disuntik dengan obat bius, sampai si pemuda kehilangan kesadaran. Semua jerih payah Bambang selama beberapa bulan sirna dalam seketika, digerayangi sipembius. Padahal untuk mengumpulkan uang itu, Bambang sudah bersusah payah bekerja sebagai buruh bangunan, menghemat dari hari ke hari, dengan harapan pada saat mudik bisa pulang membawa uang.

Boleh jadi si pembius juga sesama pemudik. Jahat nian si pembius, menghabiskan harapan Bambang untuk mudik. Teganya si pembius merampok uang hasil jerih payah bekerja selama berbulan-bulan. Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati Bambang menghadapi kenyataan seperti itu.

Saya jadi teringat cerita seorang ibu dari Sragen. Saya bertemu si ibu di terminal bandar udara Hongkong dan kemudian si ibu duduk di sebelah saya di pesawat menuju Surabaya. Si ibu bercerita kalau dia hampir satu tahun kerja menjadi pengasuh orang tua di sebuah keluarga di Hongkong. Dia terpaksa pulang, ketika orang tua yang diasuhnya meninggal dunia. Keluarga Hongkong, tidak membutuhkan tenaga si ibu lagi, meski kontrak awal untuk 2 tahun.

Padahal bekerja selama satu tahun, ia belum sempat menikmati gaji, karena habis dipotong oleh PJTKI yang memberangkatkannya ke Hongkong. Potongan itu sebagai pengganti semua biaya keberangkatannya ke Hongkong. Hari itu ia mengaku tak punya uang kecuali senilai 50 ribu rupiah. Untuk bisa kembali ke Sragen, ia harus meminjam kepada saudaranya yang tinggal di Surabaya. Untung sesampainya di bandara Juanda Surabaya, saudaranya sudah menunggu menjemput si ibu. Setahun ia bekerja di Hongkong, tapi pulang tidak bisa bawa apa-apa. Berat sekali bekerja untuk menunjang keluarga.

UP-DATE

Menurut berita TV (16 Sept), seorang TKI yang baru pulang dari luar negeri, dibius sampai tewas.
Kejam sekali hidup…
.
Foto dipinjam dari sini.

One thought on “Mudik, bagaimanapun harus pulang kampung

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s