Antara keyakinan verbal, seremonial, ritual dan operasional

Orang menjalani kehidupan atas dasar suatu keyakinan. Tanpa keyakinan dan kepercayaan, seseorang sebenarnya tak ubahnya seperti robot, atau bahkan setingkat dengan hewan. Meyakini sesuatu diwujudkan dalam tindakan keseharian. Seorang penutur mengatakan bahwa wujud keyakinan seseorang dapat dikelompokkan dalam empat katagori.

Pertama, seseorang merefleksikan keyakinan dan kepercayaanya, lebih pada aspek verbal. Orang yang masuk kelompok ini, hampir selalu mengucapkan keyakinannya di mana saja dan kapan saja. Pengucapan keyakinan itu dilakukan biasa dilakukan dalam bentuk satu atau dua buah kata, atau bahkan dalam kalimat yang utuh. Biasanya sudah ada “kata-kata standar”, sebagai perwujudan keyakinannya. Sehingga orang yang mendengarnya jadi tau bahwa orang itu mempunyai keyakinan A (misalnya), atau keyakinan B.

Dalam situasi apapun, kata-kata standar itu, akan meluncur dengan mudah dari mulutnya. Bila ada sesuatu kejadian, maka kelompok ini akan cepat-cepat bergumam mengucapkan kata-kata keyakinannya. Hal itu bisa terjadi di rumah, di jalan, di pasar, di kantor, di angkot, di hotel bahkan di WC sekalipun.

Agak sulit untuk mengetahui dan membedakan, apakah orang tersebut secara sungguh-sungguh meyakini apa yang dia sebutkan, atau pengucapan itu sudah “otomatis“. Ibarat seseorang yang sering “latah” mengucapkan sesuatu kata, hampir di setiap kesempatan, orang latah selalu otomatis menyebut suatu kata yang latah. Bahkan hanya dengan menyentuh pundak orang latah, secara otomatis, ia akan mengucapkan suatu kata secara berulang-ulang.

jagung Seumpama orang tersebut adalah anggota “Partai Jagung”, maka dalam setiap kesempatan, ia akan selalu mengucapkan “Jagung paling baik”.
Atau ia akan sekedar mengatakan: “Jagung, jagung, jagung”; tanpa jelas apa maknanya. Bahkan di setiap tempat ia akan bilang : “Jagungku, terbaik dari semua jagung“, atau, “Jagung asyiik”…
Mungkin juga ia ngomel “Ya ammpunn, jagung…!”.

Kategori kedua, adalah orang yang mewujudkan keyakinannya secara seremonial. Kelompok ini secara demonstratif menunjukkan keyakinan dan kepercayaannya dalam bentuk simbol-simbol seremoni atau kegiatan normatif. Orang dalam kelompok ini akan “mempertontonkan” semua simbol-simbol keyakinannya.

Rumahnya dihiasi ornamen-ornamen yang melambangkan keyakinannya. Stiker keyakinannya ditempel disemua tempat yang bisa di tempel, di mobil, di sepeda motor, di kantor, kamar mandi, kulkas, penuh dengan stiker yang menunjukkan keyakinan dan kepercayaannya. Pergi kemanapun pakai t-shirt atau jaket yang bertuliskan keyakinannya. Tujuannya supaya orang melihat dan mengira bahwa seolah-olah ia adalah seorang yang taat akan keyakinannya.

Kelompok ini akan selalu berusaha melakukan “show of force”, berusaha menunjukkan tanda-tanda fisik dan simbol-simbol. “Pujian” dan pengakuan orang lain, sangat penting, bahkan sanjungan yang tidak terucapkan pun akan dikejar oleh orang yang masuk kategori ini.

Orang yang masuk kategori ini bahkan ada yang mau merekayasa, supaya dilihat orang banyak. Sangat penting baginya, bahwa perbuatannya diketahui oleh orang banyak. Ada yang tidak segan-segan mengundang mas-media agar kegiatan show of force nya disebarluaskan. Pada masa seperti sekarang ini, rekayasa publikasi dapat dikemas sedemikian rupa. Sudah tentu ada ongkos yang dikeluarkan untuk kemasan publikasi itu.

Disisi lain, sistem kemasyarakatan dan sistem politik kita mendukung orang-orang dalam kategori kedua ini. Bukankah sekarang orang berlomba-lomba ingin menjadi selebriti, salah satu tujuannya ya, supaya bisa terpilih jadi anggota legislatif atau menjadi kepala daerah. Sistem politik seperti ini mendorong orang untuk memuji-muji dirinya secara berlebihan.

Ribery-doaKategori ketiga adalah kelompok ritual. Dimana-mana orang yang masuk kategori ini tak pernah melewatkan ritual-ritual keyakinannya. Bagi mereka ini, dalam kondisi dan situasi apapun, acara ritual tak boleh terlambat, apalagi terlewatkan. Upacara-upacara sangat penting, dan tidak boleh diabaikan.

Upacara formal dan non-formal selalu diutamakan kelompok ini. Apa saja kegiatan selalu disertai dengan upacara formal dengan ritual-ritual keyakinan. Tanpa ritual seolah hidup tidak bisa berjalan. Tanpa upacara, kegiatan serasa tidak lengkap. Padahal hubungan antar manusia tidak selalu harus formal yang normatif. Apalagi hubungan dengan Sang Pencipta, komunikasi dengan Yang Maha Kuasa dapat dilakukan dengan bahasa yang sederhana, dengan cara yang mudah, meski tidak digampangkan.

Ketiga kategori diatas, tidak akan mempunyai makna kalau tidak dilengkapi dan ditunjukkan dengan kategori keempat (terakhir). Yang terakhir ini adalah kategori operasional. Kelompok ini adalah orang-orang yang mewujudnyatakan keyakinannya secara langsung. Mereka tidak memerlukan promosi atau pemberitaan, yang terutama adalah berbuat suatu karya nyata. Keyakinan tidak cukup hanya diucapkan secara verbal, tidak juga cukup dalam bentuk seremonial, acara-acara ritual dianggap tidak memadai dalam kehidupan.

Implementasi keyakinan yang dilakukan oleh manusia sebagai ummat, tidak akan lengkap tanpa operasionalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan yang hanya diwujudkan dalam bentuk verbal, tidak akan menghasilkan apa-apa. Ritual ummat tak harus dengan seremonial, apalagi dengan kemasan publikasi. Prinsip “Apa yang diberikan oleh tangan kanan, tidak perlu diketahui oleh tangan kiri”, diyakini sebagai suatu pedoman.

saling bantuKeyakinan ummat diwujudkan secara operasional, dengan mempraktekkan “kasihilah musuhmu”, mereka mendoakan penyiksa kelompoknya. Mereka menolong yang lemah, membantu yang kesulitan, mengunjungi dan menghibur orang-orang sedih, orang-orang di pengungsian. Mereka bekerja keras, agar bisa membantu orang lain. Operasionalisasi keyakinan tidak memperhitungkan pujian, tidak membutuhkan publikasi. Bagi mereka yang penting
Just do it !
.

**
Ditulis kulakan berdasarkan khotbah seorang pendeta. (agak “ngos-ngosan” juga saya menulis posting seperti ini).
*
Gambar dipinjam dari sini, dari sini, dan dari sini.

One thought on “Antara keyakinan verbal, seremonial, ritual dan operasional

  1. Saya kira tadi akan berhenti di kategori ketiga amangboru, tapi ternyata masih ada kategori keempat yang jauuuh lebih baik menurut saya.

    Ketawa sebenernya baca kategori kedua, nempel stiker dimana2. Sellau pengen keliatan org dengan simbol2. Ah…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s