Musim hujan akan datang, waspada banjir bandang

Saat ini hampir sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau yang panas. Tapi sebagian daerah sudah mulai diguyur hujan. Baru sekali hujan, Kabupaten Mandailing Natal di Sumatera Utara sudah dihantam banjir bandang dan tenggelam.  Kebanyakan daerah lain, juga akan segera menyusul. Banjir akan segera menghiasi pemberitaan media cetak dan media elektronik dalam beberapa bulan kedepan.

Menurut analisa BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), musim hujan akan mulai pada bulan Oktober – November. Prediksi BMKG memangbelum menjelaskan seberapa besar intensitas hujan yang akan turun pada musim hujan nanti.  Saat ini dengan pemanasan global, sangat sulit membuat prediksi (pra-kiraan) yang akurat tentang kondisi iklim dan cuaca.

Dengan asumsi bahwa curah hujan rata-rata saja, banjir bandang seolah sudah tidak bisa dihadang. Apalagi kecenderungan hujan selama beberapa tahun terakhir ini, intensitas sangat tinggi tetapi dalam jangka waktu yang singkat. Artinya musim hujan lebih singkat, tetapi derasnya hujan turun sangat besar. Maka hampir pasti banjir bandang, tanah longsor akan terjadi.

Mengapa banjir bandang sulit dihadang ?.  Sekitar satu dekade terakhir, musim kemarau umumnya sangat panjang dan kering. Sedemikian kering, sehingga permukaan tanah sampai retak cukup dalam. Keretakan tanah terjadi juga di kawasan lahan kritis. Pada dekade yang sama penggundulan hutan terjadi sangat besar, sehingga luas lahan kritis bertambah besar, dan kondisinya semakin buruk.

Lahan kritis pada sisi bukit dan gunung tidak lagi ditumbuhi pohon yang mempunyai akar untuk mengikat tanah dan tebing. Keretakan tanah pada lahan kritis, dengan hujan yang tidak terlalu besar akan menimbulkan tanah longsor. Apalagi dengan gejala pemanasan global, yang mengakibatkan curah hujan bisa sangat besar, maka bencana tanah longsor bisa semakin meluas.

Salah satu faktor yang memperbesar perluasan lahan kritis dalam satu dekade terakhir adalah inkonsistensi dalam penataan ruang. Daerah diluar Jawa ditengarai yang paling parah dalam pengendalian tata ruang. Penyebabnya salah satunya adalah otonomi daerah yang kebablasan. Sebagaimana diketahui, selama pelaksanaan otonomi, terjadi banyak penambahan wilayah otonom baru berupa kabupaten dan kota.

Diantara sekian banyak Kabupaten yang baru, banyak daerahnya berupa kawasan lindung dan lahan kritis.  Sebagai daerah baru, maka segala upaya dilakukan untuk mengembangkan kabupaten baru tersebut, termasuk dengan eksploitasi tata ruang. Banyak kabupaten baru merubah hutan lindung menjadi kawasan pertanian dan perkebunan. Jadi otonomi punya sumbangan dalam penggundulan hutan dan meluasnya lahan kritis. Hujan sedikit saja di lahan kritis akan menyebabkan terjadinya banjir bandang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s