Mau permen atau nyumbang ?

Kalau anda membeli sesuatu di toko tradisional, maka harga batang-barang di toko itu biasanya sudah dibulatkan atau kelipatan Rp. 500. Harga beras misalnya Rp. 5.500 pe kilo, atau contohnya, harga kangkung 3 ikat = Rp. 1.000. Pembulatan itu “dipaksakan” untuk memudahkan dalam menyediakan uang kembalian. Dan biasanya, pembulatan selalu dilakukan keatas. Dalam pelajaran matematika, pembulatan bisa dilakukan kebawah atau keatas.

Atau boleh jadi si penjual, sudah tidak mau repot dengan uang kembalian Rp. 100, atau Rp.200. Situasi ini sangatlah merugikan konsumen, padahal harga sesungguhnya dari barang-barang itu boleh jadi dibawah harga yang ditawarkan pedagang.

uang cepekBerbeda dengan pasar modern (supermarket), di pasar ini, harga-harga masih dipasang dengan harga satuan yang angkanya dengan bilangan macam-macam, sampai satuan harga Rp. 50,- (lima puluh rupiah). Jadi harga sebuah sikat gigi misalnya, Rp. 1.780,-. Atau harga sandal jepit Rp. 11.540. Malahan ada barang barang (sepatu) yang ditulis harganya Rp.9.999,-. Dan biasanya harga-harga itu masih ditambah dengan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen. Jadi dalam struk pembelian, anda akan menemukan harga sepatu tertera Rp. Rp.10.998,-.

Kasir di pasar modern sering “lupa” menyediakan uang kembalian pecahan kecil Rp. 50, atau Rp. 100,-. Sebagai gantinya ia akan menyediakan permen. Ada permen dihargai Rp. 50,-; kadang-kadang permen dihargai Rp. 100. Jadi kalau anda belanja di pasar modern, dan seharusnya kembalian uang anda Rp. 3.650; maka si kasir akan memberikan uang pecahan Rp. 1.000 sebanyak 3 lembar, pecahan Rp 500 selembar dan 3 buah permen. Sambil berbasa-basi, kasir akan mengatakan “Maaf, tidak ada uang kecil”.

Saya tidak tau, pengembalian uang dengan diganti permen tersebut, apakah inisiatif si kasir atau inisiatif manajer toko modern itu. Pernah saya tanya kepada kasir, ia cuma bilang, “Maaf pak uang kecilnya lagi habis”. Saya tentu tidak memperpanjang masalah itu dengan si kasir.

Beberapa waktu lalu, saya belanja ke salah satu supermarket di kawasan tempat saya tinggal. Ketika akan menerima uang kembalian, si kasir bertanya: “Kembalian Rp.200,- boleh dimasukkan untuk sumbangan anak yatim pak ?”. Saya belum pernah ditawarin kasir hal seperti ini. Jadi sambil agak bengong saya jawab: “Oh, ya, boleh, silahkan”,. “Terimakasih pak”, jawab si kasir. Di struk pembelian, tertera “charity” Rp. 200,-.

Uang kembalian yang disumbangkan ke anak yatim, lebih bermakna ketimbang dikembalikan dalam bentuk permen. Agar lebih transparan, pengelola supermarket hendaknya membuat laporan realisasi sumbangan tersebut. Boleh jadi dengan laporan yang transparan, “uang kembalian” bisa jadi lebih besar.

One thought on “Mau permen atau nyumbang ?

  1. Ada rasa kesal ketika kembalian diganti dengan permen. Karena itu kan dipaksakan.
    Namun sekarang mulai banyak yang menawarkan untuk disumbangkan pak, and I completely support the program. Periodically they do make the report. Kadang akhir bulan atau per dua bulan sekali.
    Sayang belum banyak yang begitu…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s