Menunggu Santa Claus ala Indonesia

Di negara-negara barat, dongeng Santa Claus ditujukan untuk anak balita. Para balita diberi tau, kalau mereka berkelakuan baik, maka pada malam Natal, Santa Claus akan memberikan hadiah yang diinginkan si anak. Dikisahkan, pada malam Natal, Santa Claus akan berkeliling dunia mengunjungi anak-anak baik, dan memberi hadiah-hadiah yang diimpikan si anak. Dalam dunia nyata yang sebenarnya, tentulah tidak mungkin Santa Claus berkeliling dunia dalam satu malam mengunjungi semua anak baik.

santa claus rallyDongeng Santa Claus hidup ditengah masyarakat Barat, tujuannya adalah untuk memotivasi anak-anak agar menjadi anak baik. Ceritanya, anak yang sudah berkelakuan baik, akan mempersiapkan kaus kaki dan meletakkannya dibawah pohon Natal. Tengah malam ketika si anak tidur lelap, “Santa Claus” akan turun dari kereta kudanya dan masuk rumah melalui cerobong asap untuk meninggalkan hadiah dibawah pohon Natal.

Dalam kenyataan yang sebenarnya, orang tua sianaklah yang meletakkan hadiah dibawah pohon Natal pada saat si anak sedang tidur lelap. Karena itu ketika si anak semakin besar, ia mulai mengerti kenyataan sebenarnya akan akan dongeng Santa Claus. Secara bertahap si anak mulai tidak mengharapkan hadiah lagi dari Santa Claus.

Hal yang menarik dari dongeng Santa Claus, ialah bahwa ia adalah seorang dermawan tua yang tinggal di kutub Utara. Sepanjang tahun Santa Claus mencatat kebaikan anak-anak dan pada malam Natal ia akan membagikan hadiah kepada semua anak baik di seluruh dunia. Santa Claus yang pergi melanglang buana menemui anak-anak, ia tidak menunggu kedatangan anak-anak, tapi dia lah yang bergerak menemui setiap anak baik. Kedermawanan Santa Claus benar-benar tulus. Kakek Santa tidak mengharapkan imbalan dari siapapun, ia juga tidak mencari pujian.

Tapi itu Santa Claus, di Indonesia berbeda lagi. Banyak “dermawan” yang rame-rame secara sengaja atau tidak memblow-up kegiatannya, dan malah sering mengakibatkan masalah. Di akhir bulan Ramadhan, banyak “dermawan” membagi-bagi zakat, dan umumnya berakhir ricuh. Kericuhan terjadi karena “orang berpunya“, membagi zakat dengan cara yang tidak bijaksana.

Tahun 2008, Haji Saikhon di Pasuruan, membagi zakat kepada orang miskin, dan berakhir dengan jatuhnya 21 orang korban tewas, jumlah yang sangat banyak. Kejadian tahun 2008 itu ternyata tidak dijadikan pelajaran, di tahun 2009 ini masih terjadi kericuhan pembagian zakat. Bahkan Gubernur DKI, Fauzi Bowo, ikut-ikutan amburadul membagi zakat dengan cara yang keliru, dan berakhir ricuh.

Kericuhan pembagian zakat terjadi karena, dermawan, si orang kaya, menunggu dirumahnya, dan meminta orang miskin, datang untuk mengambil hadiah. Bila orang-orang miskin ini diminta datang ke rumah orang kaya untuk mengambil uang, mereka akan datang berbondong-bondong dalam jumlah besar. Bisa dibayangkan, bagi mereka yang tak mampu, beberapa lembar uang sepuluh ribuan sangat berarti. Mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan berkah zakat itu.

Kalau saja si orang kaya sedikit bijaksana, bila mereka benar-benar tulus ingin berbagi, akan lebih berarti bila si dermawan yang datang mengunjungi orang miskin membagi zakat ditempat tinggal para orang miskin itu. Seandainya mereka mau meniru cara Kakek Santa Claus, yang dengan sukarela mendatangi anak yang akan menerima hadiah, tentu cerita pembagian zakat akan menjadi lain.

6 thoughts on “Menunggu Santa Claus ala Indonesia

  1. sangat ironis sekali nasib para penerima zakat ini…
    bukan nkebahagiaan yang mereka dapatkan, tetapi justru malah duka yang mereka terima…

    kenapa yah para dermawan tidak mau menyerahkan hal seperti ini kepada pihak yang mengurusu hal seperti ini…

    apa karena mereka tidak percaya atau mereka sengaja ingin memberikannya langsung?

    apalagi kejadian seperti ini bukan untuk yang pertama kalinta terjadi, sudah terlalu sering terjadi, pihak berwajib pun sangat kewalahan untuk mengatasinya, itu disebabkan membludaknya para warga yang ingin mendapatkan pembagian zakat tersebut.

    semoga saja hal seperti ini tidak kita jumpai dan kita dengar lagi ditahun yang mendatang.
    semoga saja para dermawan memberikan dan menyerahkan pada lembaga yang mengurus tentang pembagian zakat ini, agar hal seperti ini bisa dihindari…

    Like

  2. Jangankan untuk berbagi, entah itu dengan cara yang benar atau kurang benar, sekedar membiarkan masyarakatpun mencari nafkah di hutan yang sudah lama diusahainya tidak mau. Segala yang bernama HAU, babat sude!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s