Para wartawan yang jadi kacung para kapitalis stasiun TV

Sejak beberapa bulan terakhir, saya agak sering menyaksikan acara “Kick Andy” di MetroTV. Sebenarnya sudah agak lama, saya sekali dua menyaksikan acara itu. Di awal-awalnya, saya tidak begitu suka menyaksikan karena Andy F Noya sebagai presenter terkesan menggurui, dan secara keseluruhan penampilannya kurang oke.

Belakangan, Andy F Noya mulai agak memperbaiki acaranya dan mengangkat tema-tema kemanusiaan yang menyentuh. Boleh jadi “rating”nya beberapa tahun belakangan melorot sehingga acara itu dipermak habis. Beberapa bulan terakhir (atau mungkin sekitar setahun), saya lihat “Kick Andy” (KA) mulai “meniru” Oprah, talkshow Amerika yang tersohor itu. Sejak KA dipermak itulah, saya mulai sering menyaksikannya, dan saya perhatikan “rating” KA mulai naik lagi. Itu terbukti dengan banyaknya slot iklan di KA.

Beberapa bulan ini, saya menilai Andi F Noya sebagai seorang wartawan senior, mampu mengangkat sisi tertentu dari para narasumbernya, sehingga acara KA benar-benar punya kualitas bagus. Sebagai presenter Andy F Noya, mampu membawakan acara itu menjadi suatu acara yang selain bermutu tapi juga bisa dinikmati sebagai entertain. Secara pribadi saya terkesan dengan KA.

Tapi ketika Jumat 25 September lalu saya menyaksikan KA, saya menjadi tidak respek dengan KA termasuk Andy F. Noya. Kesan saya menjadi berbalik karena KA mengangkat isu Lumpur Lapindo dengan mewawancarai korban yang masih belum “mendapatkan” kompensasi yang semestinya. KA menampilkan betapa buruknya pengelolaan korban lumpur Lapindo.

lumpur lapindoSekitar sejam sebelum acara KA di MetroTV, saingannya TVOne mengangkat isu Lumpur Lapindo. Seperti halnya MetroTV, TVOne juga menyajikan “testimoni” sejumlah warga yang merasa lebih baik kehidupannya dari sebelumnya.

Dua stasiun TV berita, (yang nota bene mengklaim diri obyektif), menyajikan satu isu yang sama, yaitu Lumpur Lpindo, dari dua sisi yang sama sekali berbeda. Kedua stasiun TV berita itu sama sekali tidak meng “cover both sides” sebagaimana seharusnya masmedia. TVOne menampilkan bahwa perusahaan Lapindo Brantas sangat baik mengelola korban lumpur Lapindo. Sebaliknya Metro TV menampilkan bahwa perusahaan Lapindo Brantas sangat tidak manusiawi dan menelantarkan korban lumpur Lapindo.

Disinilah para wartawan dari kedua stasiun TV hanya menjadi kacung dari para kapitalis pemilik media. Padahal di kedua stasiun, terdapat wartawan senior yang tadinya saya nilai cukup obyektif dan idealis. Ternyata ketika kepentingan para kapitalis menekan, para wartawan senior itupun tunduk hanya jadi kacung, jadi “pekerja” TV semata. Mereka tidak lagi mencerminkan karakter wartawan yang sesungguhnya.

Hal ini terjadi ketika para kapitalis pemilik kedua stasiun TV sedang berebut menjadi ketua partai. Surya Paloh sebagai kapitalis pemilik MetroTV sedang “berperang” melawan Aburizal Bakrie, yang menjadi salah satu pemilik TVOne. Pertrungan perebutan ketua umum partai, rupanya diteruskan juga melalui perang media. Dan para kapitalis yang berebut kekuasaan itu menggunakan para kacungnya, yaitu para wartawan, termasuk Andi F Noya di MetroTV, dan Karni Ilyas di TVOne.

Ironis memang, sampai-sampai kawan saya Suko Widodo, yang dosen komunikasi FISIP Unair melukiskan kedua media TV itu, sedang melakukan perelingkuhan media-politik. (Jawa Pos, 28 Sept 09). Saya sendiri menilai, itu bukan lagi sekedar perselingkuhan media-politik, tapi sudah berada di ranah pelacuran media.

Mau bagaimana lagi, itulah kenyataan. Uang (baca kapitalis) mendikte para wartawan idealis sekalipun.

One thought on “Para wartawan yang jadi kacung para kapitalis stasiun TV

  1. Apapun yang ditayangkan oleh ke 2 stasiun TV tsb, kembali lg kepada para pemirsa yang memberi penilaian. Akhirnya waktu juga yang akan membuktikan atau malah melupakan permasalahan diatas.

    Terkait Surya Paloh vs Aburizal Bakrie berlanjut ke Metro TV vs TV One via Andy F Noya vs Karni Ilyas, semua orang tau itu semua adalah acara pertarungan jelang Munas Golkar.

    Sebgmn judul postingan ini “Para wartawan yang jadi kacung para kapitalis stasiun TV” dari dulu sudah menjadi perdebatan. Media (wartawan) – Iklan (Perusahaan) adalah simbiosis, krn media perlu hidup shg media juga merupakan sebuah industri. Sebaliknya Media tanpa iklan berdampak kepada perilaku wartawannya yang meminta uang kepada nara sumber or cara2 lainnya.

    Untuk itu sekarang muncul Blog, sebagai media alternatif. Kiranya para wartawan memiliki blog pribadi utk mengaspirasikan idealismenya yang tertahan oleh birokratisme redaksi dimedia tempat ia bekerja.

    Salam kenal
    Horas

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s