Bencana..oh bencana (Bagaimana sih mengelola bencana ?)

Belum selesai ngurus pengungsi gempa Jawa Barat, tau-tau giliran Sumatera Barat luluh lantak diguncang gempa besar. Ujian ketabahan masih harus dijalani oleh bangsa ini. Seorang kawan saya di facebook sampai nulis statusnya, “Mungkin gempa dengan 1000 Skala Richter (SR) baru membuat kita orang Indonesia berubah dan bertobat”.

Ampun.., jangankan 1000 Skala Richter, dengan gempa 9 Skala Richter saja di akhir tahun 2004, Aceh sudah hancurrrr…, dan lebih dari dua ratus ribu orang tewas. Katanya gempa dengan 10 SR, dampak kerusakannya 1000 kali dari gempa 9 SR. Jadi kalau sampai ada gempa 1000 SR, tidak kebayang seperti apa. Mungkin lebih dahsyat dari gempa Danau Toba 74.000 tahun lalu.

gempa sumbar Semoga para korban gempa Sumatera Barat, cepat mendapat pertolongan, dan mereka semua tabah dan tawakal menghadapi musibah gempa ini. Sampai saya tulis posting ini (Kamis 01-10, jam 14.30), kabar sementara, sudah 250 orang tewas di Sumatera Barat, masih banyak yang terjebak di reruntuhan bangunan. Angka ini akan terus berkembang. Kerugian materil belum bisa dihitung.

Dari pengamatan saya sepintas di TV, penanganan bencana nampaknya masih sporadis, tidak sistematis, panik, dan tidak terkelola dengan baik. Tengoklah gempa Jawa Barat, gempa Sumatera Barat, atau banjir bandang seperti di Sungai Batang Gadis di Sumatera Utara, ditangani dengan pengelolaan ala kadarnya.

Masyarakat, panik, bingung, berlarian tidak karuan. Sebagian ada yang bengong, tak berbuat apa, malahan ada yang menonton saja. Pertolongan tidak dapat dilakukan dengan segera, bantuan sulit disalurkan dan menumpuk di posko. Sulit mendapatkan informasi yang akurat. Keluarga korban, kesulitan mencari anggota keluarga yang mungkin hilang. Hal-hal seperti itulah permasalahan yang timbul di lapangan.

Kejadian banjir bandang di Sungai Batang Gadis menjadi sangat ironis. Bantuan makanan dan obat-obatan tertahan dan menimbun di posko bencana, tidak dapat disalurkan ke lokasi bencana. Padahal masyarakat korban sudah kehabisan bahan makanan. Alat transportasi tidak segera tersedia di tempat pada waktu yang dibutuhkan. Pendek kata “ketersiapan” semua pihak nyaris pada titik terrendah. Ketersiapan aparat petugas rendah, demikian juga ketersiapan masyarakat.

Manajemen bencana yang ada di negeri kita masih kacau. Belajar dari bencana tsunami Aceh, kita belum mampu menyiapkan suatu sistem tanggap bencana yang baik. Dengan potensi gempa yang demikian sering, ditambah dengan kemungkinan badai dan banjir bandang, negeri ini semestinya sudah harus mempunyai sistem pengelolaan bencana yang handal.

Sekedar membandingkan dengan Jepang, (memang tidak fair membandingkan dengan Jepang). Di Jepang sistim pengelolaan bencana sudah cukup baik. Ketersiapan semua stakeholder sudah sedemikian baik, karena dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. Gempa yang menghancurkan kota Kobe pada tahun 1985, menjadi titik awal pengelolaan gempa yang sistematis di Jepang. Gempa Kobe mehancurkan kota Kobe, puluhan ribu nyawa melayang.

Sejak gempa Kobe itu sistem “early warning system” disiapkan, sistem tanggap darurat dibangun, sistim informasi bencana dikembangkan, masyarakat dilatih agar mempunyai ketersiapan yang baik. Seluruh komponen manajemen bencana dibangun, mulai dari tahap pre-bencana, penanggulangan bencana dan pemulihan masyarakat. Semua komponen benar-benar disiapkan dalam suatu sistem manajemen yang terpadu.

Suatu ketika sekitar tahun 2001, saya sempat mengunjungi “Eartquake Management Operation Room” di Hyogo Prefecture di Jepang. Kepada saya dan rombongan, dijelaskan bagaimana cara kerja pengelolaan bencana di Jepang pasca bencana gempa Kobe. Seluruh komponen pengelolaan bencana sudah tersedia, bahkan “operation room” tersebut dapat beroperasi selama beberapa minggu seandainya terjadi bencana dan tidak ada sistem fasilitas lain yang berfungsi.

Kalau terjadi bencana, listrik terputus, aliran air tidak ada, telepon tidak berfungsi, rumah sakit hancur, jalan tidak bisa digunakan, tapi operation room itu masih bisa mengendalikan penanganan bencana untuk beberapa minggu. Bangunan operation room nya dibangun untuk bisa bertahan terhadap gempa dengan kekuatan diatas 8 Skala Richter. Peralatan informasi dan komunikasi di operation room sangat lengkap dan selalu di up-date dengan teknologi terbaru. Semua peralatan di operation room akan mampu beroperasi selama beberapa minggu meski tak ada supply tambahan termasuk enerji dan air.

Tentu saja sistem manajemen bencana di Hyogo bukan cuma “operation room” yang canggih. Di luar itu, masyarakat dilatih bagaimana menghadapi bencana. Murid-murid TK pun diajari dan dilatih dengan peralatan simulasi bencana. Latihan terhadap murid TK termasuk bagaimana bila si anak tinggal di rumah sendirian, dan tiba-tiba terjadi gempa. Anak-anak dilatih sedemikian rupa, dan tau harus berbuat apa untuk menghadapi bencana, sampai pertolongan datang.

Bagaimana sih mengelola bencana untuk mengurangi resiko yang fatal. Kapan kita bisa mempunyai “ketersiapan bencana” yang memadai. Ini tugas semua warga Indonesia, tidak mungkin Pemerintah melakukan semuanya.

Gambar di pinjam dari sini.

4 thoughts on “Bencana..oh bencana (Bagaimana sih mengelola bencana ?)

  1. Update-1, menurut Okezone.com, kamis 1 Okt, jam 15.00 WIB kabarnya korban tewas di Sumbar sudah 464 orang.

    Update-2, menurut Okezone.com, Jumat 2 Okt. jam 10.30; PBB mengatakan korban tewas sudah mencapai 1.000 orang.

    Update-3 Menurut detiknews, jumat 2 Okt. jam 11.45, Menteri Kesehatan bilang korban tewas tidak akan sampai 4 ribu orang.

    Like

  2. Mulai dari diri sendiri kalau soal seperti ini….
    Kalau mau selamat sulit mengharapkan pemerintah yg notabene urusannya sudah banyak….

    Smoga jumlah korna tidak terus bertambah😦 hiks
    sedih nian…

    Like

  3. jumlah korban kok beda-beda ya, apa harus ada keppres untuk menentukan jumlah korban?? atau harus ‘mengintip’ bulan dulu tuk nentuin jumlah korban. Yang jelas beberapa desa tertimbun.

    Like

  4. Ketika saya mengikuti seminar nasional penanganan bencana sedimen, di Magelang 11 – 12 November 2009, Indonesia sebenarnya sudah dilatih diajari secara ahli tidak hanya trampil dalam perkuliahan khusus penanganan bencana yaitu di Magister Pengelolaan Bencana Alam (MPBA) kerjasama JICA Departemen PU dan UGM..dan untuk angkatan VI – IX ini kerjasama tersebut dengan PU PUSBIKTEK UGM,, dan saat ini telah dihasilkan sekitar 119 lulusan yang dianggap ahli dalam hal penanganan bencana, mereka tersebar di berbagai instansi di Pemerintah Daerah dan Pusat Pak…sehingga diharapkan mereka bisa meneruskan kepada semua pihak dan masyarakat untuk bisa mengatasi kejadian bencana alam termasuk gempa di daerah masing – masing.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s