Ketika “tidak” maksudnya “ya”, dan sewaktu “ya” berarti “tidak”

Dalam cerita dongeng anak-anak masa lalu, figur kancil sering di gambarkan sebagai binatang yang cerdik, tapi sebenarnya dia licik. Kancil sering menipu lawan-lawannya. Meski sesungguhnya kalau bertarung secara “fair“, kancil akan kalah, tapi dengan kepintaran, dan kelicikannya, dia bisa menundukkan lawan-lawannya. Kancil juga sering berbohong untuk mendapatkan keuntungan dan kepentingan bagi dirinya.

Entah karena terinspirasi oleh dongeng kancil, di masyarakat kita sehari-hari, kerap kali kita temui, kelicikan, kebohongan dan tipu menipu. Kebohongan itu bahkan sering dinyatakan di hadapan orang ramai. Cilakanya kebohongan dilakukan oleh orang-orang yang tugasnya adalah untuk membasmi kebohongan. Ironis !.

Sering kita mendengar dan menyaksikan orang mengatakan “tidak“, padahal maksudnya “ya”, atau sebaliknya seseorang bilang “ya”, tapi sejatinya berarti “tidak”. Semakin kuat dan keras orang itu mengatakan “tidak”, padahal yang sebenarnya adalah yang dimaksudkan itu benar-benar “ya” adanya. Tangannya mengacungkan jempol keatas, padahal maksud sesungguhnya adalah menundukkan jempol ke bawah.

yes and noKebohongan itu seolah suatu hal yang lumrah, apalagi ketika terjadi masalah yang menyangkut kepentingan publik. Hari-hari ini, kita semakin sering melihatnya di tayangan televisi.
“Tidak ada tekanan dari pihak manapun kepada institusi kami supaya menangguhkan penahanan pak B dan pak C. Sekali lagi saya katakan tidak ada tekanan sama sekali. Ini adalah untuk kepentingan yang lebih besar. Sampaikan ini kepada masyarakat bahwa kami tidak ditekan. Kami bekerja profesional.”

Begitu pak N menjelaskan dengan berapi-api di depan wartawan. Air muka Pak N seperti menahan amarah yang amat sangat. Apakah orang percaya begitu saja dengan omongan Pak N ??. Kebanyakan orang justru tidak percaya pada pernyataan itu. Publik dan penonton televisi dengan mudah mengetahui, bahwa penangguhan yang dimaksudkan, adalah hasil dari tekanan berbagai pihak, bahkan oleh tekanan publik.

**
Kebohongan menjadi keniscayaan yang dilakukan banyak orang. Padahal semakin bertambah hari, orang semestinya semakin arif dan bijaksana, sekaligus semakin jauh dari kebohongan dan kemunafikan. Tapi apa mau dikata, kenyataannya, banyak orang yang justru sangat pintar dan sangat cerdas, tetapi tidak didukung oleh moral dan hati yang baik. Sehingga mereka sangat mudah berbohong. Maka kebohongan justru semakin canggih dan menjadi selebriti.

4 thoughts on “Ketika “tidak” maksudnya “ya”, dan sewaktu “ya” berarti “tidak”

  1. Itulah fenomena sosial yang terjadi sekarang.

    Moral manusia semakin rusak,ga ada lagi kejujuran,ga ada lagi transparansi.
    semua terbungkus menjadi satu sampai membusuk di dalam hatinya.

    Horas Amang uda….
    Ale,manukkun nama au jo parjolo manjou aha au tuhamu alana au silababan tio No.18 do hape hamu No.12
    dang huantusi be mangrtong i.
    hehehe…

    Salam kenal ma ate amang uda…
    Molo adong waktu mampir tu blog ku
    sekedar cerita2…

    Horas….

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s