Bakudapa ombak “Sail Bunaken”

Pesona taman laut Bunaken memang sangat menggiurkan. Sejak mendarat di bandar udara Sam Ratulangi, Manado, rencana sudah disusun untuk menjelajahi taman laut Bunaken. Bagaimanapun, sudah sampai tanah Minahasa, tentu harus menyempatkan waktu untuk mampir ke Bunaken. Beruntunglah saya punya teman lama yang menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kota Manado, Ferry T Siwi, saya lalu mengontak Ferry untuk booking perahu ke Bunaken. Saya pikir kalau banyak orang yang ingin ke sana pada hari yang saya jadwalkan, bisa-bisa saya tidak kebagian kapal atau perahu. Dengan kontak Ferry, tentu kepastian akan dapat kapal akan lebih terjamin.

Begitulah, siang itu begitu selesai makan siang yang enak di restoran Wisata Bahari Menado, kami langsung meluncur ke Marina Plaza. Sesampai disana, Wendy, koleganya Ferry sudah menunggu kami. Ternyata ia sudah lama menunggu dan sudah menyiapkan kapal menuju Bunaken. Saya agak terkejut juga, karena kapal yang dibuking ternyata cukup besar, padahal kami hanya enam orang ditambah pemandu dan pengemudi menjadi sepuluh orang.

Kapal yang disiapkan adalah KM Bintang Laut yang mampu mengangkut sampai 40 orang. Tapi ya tidak jadi soal, kapal besar atau kecil, yang penting sampai ke Bunaken. Segera saja kami masuk ke kapal, dan sejenak kapal Bintang Laut yang dikomandani Fandi mulai bergerak meninggalkan dermaga Marina Plaza. Saya, Justamaji, dan Antho, rombongan dari Surabaya, lalu dari Bogor ada Wakil Walikota, Pak Achmad Ru’yat, Harry Sucahyo dan Tyas Ajeng, dari Pemkot Bogor, kami siap menuju Bunaken.

Baru saja kapal Bintang Laut yang berukuran lebar 3,5 meter dan panjang 22 meter bergerak dari dermaga, goncangan ombak Teluk Manado langsung terasa. Baru sekitar 20 meter dari dermaga, goncangan ombak semakin terasa meningkat. Ketika kedua mesin kapal sudah dihidupkan, kecepatan kapal semakin tinggi dan goncangan ombak semakin menjadi-jadi. Saya yang semula masih berdiri di geladak kapal segera mencari tempat duduk yang aman dan berpegangan pada salah satu tiang kapal. Semula kami semua masih tertawa-tawa karena kapal yang dipermainkan ombak, seolah goncangan itu hanya suatu yang mengasyikkan.

Tiba-tiba sebuah ombak yang lebih besar mengangkat kapal cukup tinggi dan kemudian terhempas lagi, kami semua mulai terdiam. Pak Ru’yat segera minta jaket pelampung, lalu, Antho yang lebih dekat dibagian haluan mengambil jaket pelampung dan menyodorkan ke saya untuk kemudian saya sampaikan ke Pak Ru’yat. Pak Antho mengambil pelampung yang lain dan menyodorkan ke Pak Harry untuk dipakai ibu Tyas. Ketika selesai mengambil jaket pelampung, sebuah ombak mengangkat kapal cukup tinggi dan pegangan Pak Antho terlepas dari tiang kapal, lalu Pak Antho terjatuh di lantai kapal. Pegangan tangan saya semakin erat ke tiang kapal. Teman-teman lain terlihat mulai agak cemas, saya juga ikut cemas, tapi tidak bicara apa-apa.

Ditengah-tengah goncangan gelombang yang cukup besar itu, ketiga orang awak kapal kelihatan tenang-tenang saja, saya juga jadi berusaha untuk meyakinkan diri, bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Kapal terus meluncur dengan kecepatan penuh. Raungan mesin yang berkapasitas 40 PK seolah tidak menghiraukan tingginya ombak. Hampir 20 menit perjalanan dengan kondisi ombak yang turun naik, kami semua terlihat tegang. Sebagian ada yang terlihat agak pucat. Untunglah kapalnya agak besar, kalau saja kapal yang lebih kecil seperti speed boat, barangkali cerita Bunaken akan menjadi lain. (Terimakasih Ferry, karena memilih kapal yang cukup besar).

Setelah menempuh sekitar separoh jarak antara dermaga Marina Plaza ke Bunaken, ombak mulai mengecil. Tak lama kemudian, kami sudah bisa berjalan-jalan dan mulai tertawa lagi. Ombak yang semakin lemah membuat kapal menjadi tenang dan kami penumpang bisa melepaskan ketegangan yang sempat terjadi.

Pak Ru’yat mulai bercanda lagi dan membuat beberapa pose untuk dipotret. Dengan santainya Wakil Walikota Bogor itu duduk dan membaringkan tubuh diatas anjungan KM Bintang Laut. Beliau bergaya seperti seorang peragawan. Dari segi tampang, sebenarnya beliau sangat potensial menjadi foto model. Lihatlah gayanya dengan kaca mata hitam dan jaket pelampung. Tidak berlebihan kalau Pak Ru’yat menjadi cover majalah mode.

Begitu sampai di lokasi taman laut, awak kapal segera menurunkan alat pemantau bawah laut. Kapal Bintang Laut dilengkapi dengan dua buah kotak pengamat karang. Dari kotak yang dilapisi kaca itulah kami mengamati karang yang berada di dasar laut. Berbagai bentuk karang dan terlihat dengan jelas, karena air laut yang jernih. Karang-karang laut itu hanya sekitar 2-3 meter dari permukaan air, sehingga dapat terlihat dengan terang, karena sinar matahari masih tembus. Ikan beraneka warna berenang kesana kemari mengitarai karang. Pemandangan yang sangat menakjubkan. Di beberapa bagian terlihat “sumur”, yaitu bagian laut yang lebih dalam, yang dasarnya tidak terlihat.

Setelah lebih kurang 15 menit menikmati keindahan karang Bunaken, kapal bergerak menuju pulau Bunaken, dimana terdapat beberapa bangunan berupa rumah dan musium Bunaken.

Kami akhirnya sampai juga ke Taman Nasional Bunakaen (TNB). Wakil Walikota Bogor, Pak Achmad Ru’yat, yang ikut bersama rombongan meramaikan suasana dengan canda-canda yang segar dengan gayanya bak foto model. Sail Bunaken, we will be coming back some day.

One thought on “Bakudapa ombak “Sail Bunaken”

  1. bunaken emang keren, tapi kok pas saya snorkling cuma liat batu batuan ya, tapi pas ke tempat lain liat pemandangan luar biasa

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s