Amunisi apa yang dibawa Indonesia ke Copenhagen (COP 15) ???

Hanya sekitar 2 mingguan lagi COP 15 UNFCCC akan diadakan di Copenhagen. Kegiatan spektakuler yang diikuti banyak pihak dan menjadi fokus perhatian banyak orang. Banyak pihak skeptis bahwa COP 15 Copenhagen tidak akan menghasilkan kesepakatan yang berarti. Tapi tidak sedikit yang masih bersemangat tinggi untuk mencapai kesepakatan. Itulah yang muncul dalam National Dialog for Climate Change, Get ready for Copenhagen, yang diadakan KLH dan UNDP di Jakarta 23 Nopember 2009.

Tidak tanggung-tanggung, Menteri Lingkungan Hidup Norwegia, Mr. Erik Solheim juga ikut datang dan bicara di Jakarta. Ditengah segala kesibukannya, Men LH Norwegia masih menyempatkan datang ke Jakarta untuk bicara dalam Dialog Nasional Indonesia. Menurut saya, ini adalah apresiasi yang luar biasa dari seorang Menteri LH Norwegia. Dalam sambutannya, Mr. Erik Solheim memuji Indonesia sebagai negara yang mempunyai komitmen tinggi dalam bidang Lingkungan Hidup. Keberhasilan Indonesia dalam COP 13 di Bali 2007 yang lalu dinilai Mr. Solheim sebagai prestasi yang sangat baik. Karena akhirnya COP 13 di Indonesia menghasilkan “Bali Road Map”, yang nantinya akan dibahas dan diperjuangkan di Copenhagen.

Pada acara di Hotel Borobudur itu, dilakukan penandatanganan “Second National Communication” (SNC) Indonesian on Climate Change oleh sejumlah Menteri. Pada kesempatan itu yang hadir hanya 2 Menteri yaitu Menteri Kehutanan dan Menteri Lingkungan Hidup. Menteri yang lain, diwakili oleh pejabat di masing-masing Departemen, Lembaga.  SNC adalah dokumen  yang memuat kegiatan Adaptasi dan Mitigasi yang akan dilakukan Indonesia untuk mengantisipasi perubahan iklim. Secara Nasional Indonesia menargetkan mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26% pada tahun 2020. Komitmen Indonesia itu dimuat dalam dokumen SNC sekaligus menegaskan pernyataan Presiden SBY pada pertemuan G-20 di Pittsburgh, USA beberapa waktu lalu.

SNC inilah yang akan dibawa oleh DELRI ke Kopenhagen untuk dilaporkan ke UNFCCC. Target Indonesia untuk menurunkan emisi GRK sebesar 26% dalam kondisi business as usual (BAU). Artinya, Indonesia melakukan pengurangan emisi GRK dengan upaya sendiri melalui program mitigasi dan adaptasi yang dilakukan. Dalam SNC juga disebutkan bahwa Indonesia dapat menurunkan emisi GRK sampai 41 persen dengan skenario ada bantuan teknologi dan pendanaan internasional.

Karena itu DELRI akan membawa proposal menurunkan GRK sampai 41 persen dengan bantuan teknis dan pendanaan melalui kesepakatan internasional. Proposal inilah salah satu yang akan diperjuangkan di Copenhagen. Perjuangan DELRI yang lebih besar tentulah menggolkan Bali Road Map menjadi  kesepakatan internasional yang mengikat (legally binding agreement).  Untuk ini diperlukan amunisi yang mantap dari DELRI. Dalam hal persiapan amunisi inilah dilakukan dialog nasional perubaha iklim.

Penurunan emisi GRK sebesar 26 persen termasuk angka yang sangat optimistis. Dari 26 persen itu, rencananya 14 persen adalah penurunan emisi GRK dari sektor kehutanan.  Angka ini rencananya dicapai dengan asumsi bahwa pada tahun 2010, “illegal logging” bisa ditekan menjadi nol. Ini suatu asumsi yang sangat ambisius mengngingat konon saat ini dari total produksi hasil hutan Indonesia, 50% masuk kategori “illegal logging“. Jadi kalau ditargetkan dalam 10 tahun bisa memberantas “illegal logging” hingga tuntas, itu adalah suatu yang luar biasa. (Perlu dikupas lebih dalam, bagaimana caranya memberantas illegal logging hingga bisa sampai menjadi nol).

Target penurunan 26 persen itu diawali dengan inventarisasi gas rumah kaca untuk dijadikanbasis data (base line data). Dengan begitu dalam kurun waktu tertentu, bisa ditetapkan, kemajuan yang diperoleh untuk menurunkan GRK. Yang menjadi persoalan adalah, metoda apa yang digunakan untuk inventarisasi GRK. Kalau menggunakan metoda yang berbeda, sudah pasti hasil yang diperoleh akan berbeda, meski menggunakan data yang sama. Padahal di Indonesia akurasi data dari berbagai lembaga bisa sangat berbeda-beda untuk obyek yang sama.

Masalah ini sempat menjadi perdebatan sengit dalam dialog nasional tersebut. Penyusunan SNC dikordinir oleh KLH dengan unsur dari departemen dan lembaga terkait seperti Departemen Kehutanan, Departemen Perhubungan, Departemen Pertanian, Departemen ESDM dan lain-lain. Disisi lain Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), yang diketuai Presiden, juga melakukan inventarisasi GRK.  Disinilah masalahnya, sudah pasti data dari kedua lembaga ini akan berbeda. Sekretaris DNPI, Agus Purnomo, mengatakan bahwa DNPI akan menyesuaikan target yang disusun dengan menggunakan metoda yang sama dalam penyusunan SNC. Meski metoda yang sama, hasil akhir akan berbeda, karena akurasi data dari berbagai sumber akan berbeda.

***
Sayang penampilan Men LH, Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, MSc. kurang meyakinkan ketika menyampaikan sambutan. Hari itu Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, MSc. memberikan kata sambutan setelah didahului sambutan dari Kepala Perwakilan UNDP di Indonesia, Mantan Menteri LH Rachmat Witoelar, dan Menteri LH Norwegia, Erik Solheim. Rachmat Witoelar memberikan sambutan tanpa teks dengan bahasa Inggeris yang lancar. Beliau juga memuji sekaligus mengharapkan Norwegia akan sukses melaksanakan COP 15. Kemudian Menteri LH Norwegia memberi sambutan tanpa teks sambil memuji Indonesia yang menunjukkan komitmen tinggi akan perubahan iklim.

Giliran Men LH Gusti Mohammad Hatta memberikan sambutan dengan membacakan teks tertulis yang sudah disiapkan dalam Bahasa Indonesia. Ketika membacakan sambutannya, Men LH tidak menambahkan sebuah kata pun diluar teks. Ia bahkan tidak menyampaikan respond apapun terhadap sambutan MenLH Norwegia yang sudah memuji-muji Indonesia. Agak aneh seorang pejabat tinggi negara sebagai Menteri, tidak merespon orang orang yang sudah berbicara sebelumnya. Dalam diplomasi antar negara, respon dan tata krama adalah hal yang sangat wajar dilakukan.

Sambutan dalam bahasa Indonesia itu juga menjadi tanda tanya bagi saya. Forum itu adalah forum internasional, sejumlah lembaga dan para ahli dari UNDP, JICA Uni Eropa, Perwakilan negara-negara sahabat dan undangan lainnya.Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris. Men LH Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, MSc., tidak sepatah katapun berbicara dalam bahasa Inggeris. Saya jadi bertanya-tanya kenapa.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s