COP 15 Copenhagen dibayang-bayangi kegagalan

Tanggal 23 Nopember lalu, Indonesia mengadakan Dialog Nasional tentang Perubahan Iklim. Dialog ini dimaksudkan untuk menyempurnakan Second National Communication (SNC) for Climate Change yang akan dibawa ke pertemuan COP 15 UNFCCC di Copenhagen Desember ini. KLH sangat optimis dengan COP 15 UNFCCC akan menghasilkan kesepakatan tindak lanjut Bali Road Map. Tapi Prof. Emil Salim, mantan Menteri LH, ragu dengan kesungguhan negara-negara maju (terutama Amerika) untuk menghasilkan kesepatan yang signifikan. 

Dialog diawali dengan perdebatan cukup sengit tentang metoda inventarisasi gas rumah kaca (GRK).  Tim KLH yang dikomandani oleh Bu Nelly (Masnellyati Hilman, Deputy Men LH), mengadopsi metoda yang berbeda yang dilakukan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), yang dikomandani oleh Rachmat Witoelar (mantan Menteri LH).  Dialog semakin “diperruncing” oleh Emy Hafid, yang mempertanyakan mengapa dua lembaga negara DNPI, dan KLH mengadopsi metoda yang berbeda untuk inventarisasi GRK. Dengan dua metoda yang berbeda, sudah pasti hasil akhir akan berbeda pula.

Prof. Emil Salim yang berbicara kemudian, memfokuskan pada upaya yang akan diperjuangkan di Copenhagen. Menurut Emil Salim apapun hasil SNC, yang utama adalah bagaimana “memaksa” negara-negara maju terutama Amerika, supaya menyepakati penurunan emisi.  Emil Salim, yang merupakan salah satu juru runding Indonesia di COP 13 bali, rupanya tau betul kecendrungan Amerika. Pak Emil Salim, yakin, di Copenhagen, Amerika akan lagi-lagi berkelit dari upaya menyetujui kesepakatan legal penurunan emisi.

Dalam dialog itu, Prof. Emil Salim (mantan MenLH) agak berargumen sengit dengan Ibu Liana (Staf Khusus Men LH), soal target dan strategi DELRI (delegasi Indonesia) ke Copenhagen. Emil Salim berpendapat,  tak perlu membujuk USA agar mau terikat secara legal dengan Kyoto Protocol. Kesepakatan internasional tetap bisa jalan tanpa keikutsertaan Amerika. Sementara Ibu Liana dan Ibu Nelly beranggapan sangat penting untuk mengajak USA agar mau meratifikasi Kyoto Protocol. Bu Liana dan Bu Nelly beranggapan, Indonesia harus berupaya dengan sekuat tenaga mengajak USA agar mau masuk kesepakatan internasional dalam Kyoto Protocol.

Pandangan Bu Nelly dan Bu Liana itu agaknya didasari oleh pernyataan Presiden Obama pada waktu kampanye dan diawal masa jabatannya.  Beberapa kali Obama mengatakan akan mengambil langkah-langkah yang lebih konkrit bersama dunia inter nasional untuk mengurangi emisi. Tapi statemen Obama, agaknya tidak didukung oleh Senat Amerika, dan tidak didukung oleh dunia usaha Amerika.

Perkembangan terbaru menunjukkan tanda-tanda bahwa Obama mulai mencari-cari alasan untuk memberikan komitmen pengurangan emisi. Perkembangan terbaru inilah yang oleh Prof. Emil Salim dikatakan akan mengganggu negosiasi di COP 15 Copenhagen. Menurut Emil Salim, Obama saat ini lebih memfokuskan “program populis“nya yaitu pemenuhan asuransi kesehatan bagi rakyat Amerika. (Ini adalah pemenuhan janji kampanye).  Obama berdalih bahwa krisis keuangan telah mengakibatkan banyak rakyat Amerika tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu Obama akan memprioritaskan pemberian asuransi kesehatan bagi rakyat Amerika “yang kurang mampu“.

Keengganan Amerika itulah yang mencemaskan banyak pihak termasuk DELRI. Menurut Bu Nelly dan Bu Liana, Indonesia akan tetap mengupayakan dan memperjuangkan agar Amerika bisa menyepakati “legal binding” pengurangan emisi. Emil Salim berpendapat, dunia internasional tidak perlu harus mengikutkan Amerika. DELRI yang akan di sertai oleh pejabat KLH, akan bernegosiasi dengan pihak-pihak lain untuk memperjuangkan Bali Road Map. Sebagai penggagas Bali Road Map, Indonesia sangat berkepentingan untuk menggolkan proposal itu.

Negosiasi di Copenhagen, bisa-bisa lebih seru ketimbang di Bali. Sewaktu di Bali, hampir saja “dead lock“, para “parties” tidak bisa mencapai kesepakatan. Sampai akhirnya COP 13 diperpanjang dan Presiden SBY harus turun langsung ke Bali, barulah kemudian Bali Road Map disepakati di Nusa Dua. Pada proses negosiasi itu, Prof. Emil Salim sebagai juru runding (negotiator) Indonesia, adalah orang yang paling berperan menelorkan Bali Road Map. COP 15 Copenhagen akan jauh lebih sulit dari yang di Bali. Karena itu bayangan kegagalan COP 15 sudah mulai menghantui, termasuk DELRI.

Kalau sampai COP15 Copenhagen tidak bisa menyepakati rencana penurunan emisi pasca 2012, maka upaya penurunan GRK dan upaya pengendalian perubahan iklim akan mengalami kesulitan yang semakin besar. Negara-negara Annex-1, akan berkilah dan menghindar dari komitmen. Kalau demikian adanya, maka bencana perubahan iklim, akan tinggal menunggu korban. Sudah pasti yang akan menjadi korban terbesar adalah negara-negara miskin, termasuk Indonesia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s