Metamorfose “Cicak-Buaya”menjadi jangkrik

Jangkrik adalah binatang berongga yang banyak dijumpai disekitar kita. Berdasarkan kelompoknya, jangkrik termasuk golongan binatang lunak (Mollusca). Dalam bahasa sehari-hari (terutama di Surabaya dan Jatim), ungkapan “Jangkrik“, berarti menyatakan rasa kekecewaan atau rasa kesal terhadap sesuatu. Ungkapan “jangkrik” bisa juga mencerminkan hasil yang tidak diinginkan. Ternyata cicak-buaya bisa bermetamorfosa menjadi jangkrik.

Kata jangkrik sering keluar dalam ucapan sebagai ungkapan kekesalan, termasuk kekesalan terhadap seseorang yang cukup akrab. Bagi kebanyakan orang, kata “jangkrik“, terasa sangat kasar. Tapi bagi orang Surabaya, kata “jangkrik“, menandakan keakraban. Entah sejak kapan kata “jangkrik” menjadi kata untuk bergumam. Kata yang hampir sepadan dengan “jangkrik” adalah “jancuk“. Kata “jancuk” juga terasa sangat kasar bagi orang kebanyakan, tapi dalam bahasa “Suroboyoan”, kata jancuk adalah bahasa sehari-hari yang sudah biasa.

Istilah kata “jangkrik” semakin dipopulerkan dalam sebuah iklan rokok akhir-akhir ini. Dikisahkan “seorang” jin memberikan kesempatan kepada seorang lelaki untuk meminta apa saja yang diinginkan oleh si laki-laki, maka jin akan memenuhinya. Si laki-laki harus mengucapkan keinginannya supaya dipenuhi jin. Si laki-laki berpikir keras, dia akan meminta apa. Dia menginkan banyak hal, sementara permintaan hanya satu yang akan dipenuhi.

Karena terlalu bingung, sampai hari gelap, si laki-laki belum bisa menentukan apa permintaannya kepada jin. Sang jin yang sudah tidak sabaran menunggu, mencolek si laki-laki yang sedang kebingungan. Kaget tercolek oleh jin, si laki-laki spontan berkata “Jangkrik“, karena dia kaget dan kesal. Mendengar ucapan si laki-laki yang berkata “jangkrik“, jin beranggapan bahwa si laki-laki menginginkan menjadi jangkrik, maka jin mengabulkan permintaan si laki-laki, maka berubahlah si laki-laki ia menjadi jangkrik. (Mungkin laki-laki itu orang Surabaya).

Visualisasi kebingungan yang menghasilkan jangkrik, mungkin bisa dianalogikan pada kasus Cicak versus Buaya. kalau terlalu lama berpikir dan tidak bisa mengambil keputusan, maka hasilnya akan menjadi “JANGKRIK“. Cerita Cicak-Buaya, mempunyai kemiripan dengan si laki-laki jangkrik dalam visualisasi iklan rokok yang dijelaskan diatas. Kasus cicak-buaya diombang-ambingkan kesana kemari, gocek kiri, gocek kanan, dan sampai sekian lama ditunggu tidak ada hasil yang sesuai harapan. Yang kemudian terjadi adalah antiklimaks, yang mirip dengan iklan yaitu jangkrik.

Dalam iklan rokok, si laki-laki hanya tinggal menyebut keingnannya, maka akan terkabul. Dalam penyelesaian cicak-buaya, hanya tinggal melaksanakan rekomendasi Tim-8, maka persoalan akan hampir selesai. Tapi karena terlalu lama berpikir kesana-kemari, mempertimbangkan terlalu banyak hal, sehingga bingung sendiri tidak tau harus memutuskan apa. Maka yang terjadi kemudian adalah ketidak puasan dan kekecewaan banyak pihak. Cicak versus buaya bermetamorfosa menjadi jangkrik. Hasil jangkrik yang kemudian disesali oleh banyak orang, bahkan disesali oleh yang mengambil keputusan dan yang melaksanakan keputusan.

Kalau pemimpin tidak berani mengambil tindakan, maka hasilnya akan selalu menjadi jangkrik. Kalau pemimpin selalu ragu, maka tidak akan ada keputusan yang pasti. Padahal sang pemimpin dibekali kewenangan yang cukup untuk bertindak lebih tegas. Tapi apa mau dikata, itulah keberadaan pemimpin kita. Mau protes, silahkan, mau diam, ya terserah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s