Maju, jatuh, bangun, jatuh lagi, maju terus

Ya, baru saja dikayuh sekali, sudah jatuh. Dengan susah payah sepeda yang terasa sangat kebesaran, bisa juga ditegakkan berdiri. Coba naiki lagi, setelah kurang lebih 5 meter, jatuh lagi. Bangkit lagi, setelah beberapa kali terjatuh, akhirnya bisa juga. Orang belajar naik sepeda biasanya akan pernah terjatuh sebelum bisa mengendarai dengan lancar. Analogi belajar naik sepeda itu menjadi salah satu ilustrasi kotbah masa advent kedua, yang menggambarkan pertumbuhan iman seseorang.

Waktu saya belajar naik sepeda, saya memakai sepeda dewasa yang ukurannya tidak sebanding dengan ukuran badan saya. Ketika itu saya sekitar kelas 5 SD. Sepeda yang tersedia di rumah adalah yang biasa dipakai ibu saya, atau yang biasa dipakai bapak. Kami tidak punya sepeda dengan ukuran untuk anak-anak. Jadi kalau mau belajar naik sepeda, ya harus memakai sepeda yang besar. Karena itu tingkat kesulitan belajar naik sepeda cukup tinggi pada waktu itu. Saya, belajar naik sepeda pada umur sekitar 11 tahun itu, sebenarnya sudah terlambat. Adik saya sudah terlebih dulu bisa naik sepeda. Teman-teman sebaya saya pada umumnya sudah bisa naik sepeda pada waktu kelas 3 SD, yaitu umur sekitar 9 tahun.

Sekarang, anak-anak belajar naik sepeda bahkan sejak umur 2-3 tahun. Anak saya Daniel, belajar naik sepeda roda-4 pada umur 2 tahun. Foto diatas adalah ketika Daniel berumur sekitar 3 tahun. Anak sekarang tak perlu belajar naik sepeda dengan sepeda ukuran orang dewasa, karena sepeda ukuran kecil sudah ada. Malahan sepeda dibantu dengan dua buah roda kecil di belakang, sehingga si anak tidak jatuh. Setelah semakin lama, posisi roda kecil ditinggikan, sehingga yang satu akan terangkat pada waktu si anak menaiki sepeda itu. Dengan posisi roda kecil yang tinggi, itu si anak akan terbiasa dengan seolah tidak ada lagi roda kecil. Akhirnya si anak lambat laun tidak akan membutuhkan lagi roda kecil. Dan ia akan naik sepeda dengan lancar.

Cara belajar naik sepeda anak saya berbeda dengan cara saya belajar naik sepeda dulu sewaktu masih anak-anak. Meski cara belajar tidak sama, tapi baik dulu dan sekarang, belajar naik sepeda tetap butuh proses. Tidak ada orang yang baru sekali mencoba, langsung bisa naik sepeda. Kotbah advent kedua menggambarkan proses pertumbuhan iman seseorang. Tidak terasa sudah advent kedua, masa penantian kedatangan Juru selamat. Sebentar lagi Natal, umat Kristiani di seluruh dunia, mempersiapkan perayaan Natal.

Menurut kotbah pak pendeta kemarin, sesungguhnya yang terutama adalah penantian kedatangan Mesias. Ia bisa datang kapan saja, tidak peduli manusia siap atau tidak. “Ready or not, the Messiah is coming”. Advent mengingatkan kesiapan manusia agar senantiasa mempersiapkan diri. Jatuh bangun dalam membangun iman untuk maju terus.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s