COP15 dan skeptis yang mempertanyakan perubahan iklim

Konperensi besar COP 15 UNFCCC telah resmi dimulai. Menurut berita perwakilan dari 192 negara hadir di Copenhagen, Denmark untuk “bernegosiasi” bagaimana mengatasi perubahan iklim yang terjadi. Perhelatan akbar PBB ini barangkali termasuk  yang terbesar dibanding event-event PBB yang lain. Menurut rencana, Presiden Amerika, Barack Obama akan hadir pada penutupan COP 15.

Selain negosiasi tentang target penurunan emisi GRK, dengan tindakan-tindakan lanjutannya, COP 15, juga merupakan kesempatan berbagai pihak untuk membahas berbagai hal yang terkait dengan global warming dan perubahan iklim.  Terdapat banyak “side events” yang sudah mendahului pembukaan resmi COP15. Selain itu, ada juga berbagai pihak yang menjadikan COP15 sebagai arena untuk demonstrasi tentang lingkungan.

Pada COP 15 di Copenhagen, kembali muncul issu dari berbagai pihak yang skeptis dengan agenda COP 15 UNFCCC. Pihak-pihak yang tidak sependapat dengan Climate Change, kembali angkat suara tentang peranan CO2 dalam perubahan iklim. Tentangan kelompok ini terhadap UNFCCC sebenarnya bukan hal baru. Kelompok ini berkeyakinan, bahwa perubahan iklim bukan disebabkan oleh kegiatan manusia. Argumentasi lain yang dikemukakan adalah bahwa justru CO2 sangat berguna di alam, karena membantu pertumbuhan flora.

Kelompok ini yang kemudian dikenal dengan nama “Oregon Petition“, mengklaim bahwa secara scientifik, fakta-fakta gas CO2 dan perubahan iklim tidak dapat dibuktikan. “Oregon Petition”, yang juga dikenal dengan istilah  “Petition Project”, mengakui bahwa, GRK tidak akan mengakibatkan  “pemanasan yang luar biasa dan kerusakan atmosfir bumi.  (catastrophic heating of the Earth’s atmosphere and disruption of the Earth’s climate).  Petisi itu antara lain berbunyi:

“We urge the United States government to reject the global warming agreement that was written in Kyoto, Japan in December, 1997, and any other similar proposals. The proposed limits on greenhouse gases would harm the environment, hinder the advance of science and technology, and damage the health and welfare of mankind.

There is no convincing scientific evidence that human release of carbon dioxide, methane, or other greenhouse gasses is causing or will, in the foreseeable future, cause catastrophic heating of the Earth’s atmosphere and disruption of the Earth’s climate. Moreover, there is substantial scientific evidence that increases in atmospheric carbon dioxide produce many beneficial effects upon the natural plant and animal environments of the Earth.”

Sebagaimana ditulis oleh Wikipedia, banyak fakta dan data yang terkait dengan isi petisi dan para penggagasnya yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Meski demikian lebih banyak pihak yang tetap dengan semangat untuk mencari kesepakatan tentang bagaimana menghambat pemanasan global.

Masih ada beberapa hari kedepan, untuk melihat apakah para pemimpin dunia bisa menyepakati hal-hal penting untuk kampanye perlindungan iklim. Hari-hari negosiasi akan menjadi panjang dengan perdebatan sengit tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh semua pihak.

Akan halnya delegasi Indonesia, COP 15 Copenhagen, akan membuktikan seberapa tangguh Indonesia memperjuangkan proposal “Bali Road Map” dan REDD. Apakah Indonesia bisa memberikan argumentasi yang kuat sekaligus meyakinkan dunia.  Ataukah delegasi yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad hatta, Menteri LH Indonesia hanya akan menjadi “pelengkap”. Akhir Desember ini akan dibuktikan, apakah Indonesia bisa berjuang untuk dunia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s