Ketumpulan hati nurani

Musim kemarau yang panjang berlalu, hujan sudah turun beberapa kali di Surabaya. Meski siang masih tetap panas, tapi kesejukan di petang hari sudah mulai terasa. Tanaman di halam rumah saya kembali tumbuh lebih bergairah, pucuk-pucuk baru berkembang, bunga yang tadinya tidak ada, sebagian mulai muncul. Beberapa tanaman, sudah harus dipangkas.

Saya mencari gunting rumput ditumpukan barang-barang, gunting sudah agak tua, karena selama beberapa bulan tak digunakan. Ketika saya coba memangkas tanaman, gunting yang sudah tumpul tak mampu memotong dengan baik. Bahkan dahan kecil tidak bisa putus. Padahal saya ingin membentuk tanaman menjadi lebih menarik dan lebih indah dipandang. Pruning yang saya lakukan kurang berhasil. Gunting tumpul perlu diasah, atau harus kah saya mengganti dengan gunting yang baru?.

Gunting tumpul memang bisa menjengkelkan, saya ingin membentuk tanaman dengan memotong disana-sini, sehingga terbentuk kombinasi dahan yang bagus. Tapi kalau gunting sudah tumpul, semangat untuk merapikan tanaman bisa menjadi surut.

Gunting atau pisau yang menjadi tumpul, sesungguhnya sangat mudah menajamkannya kembali. Ambil batu gosok, asah pisaunya berulang kali maka pisau akan menjadi gres untuk memotong. Meski karatan sekalipun, pisau masih mudah diasah untuk menjadi tajam. Cuma kalau tadinya niatnya adalah untuk membentuk dan memotong tanaman (pruning), jika ditengah keasyikan bekerja, tau-tau harus “beralih” jadi mengasah gunting dan pisau, maka hal itu bisa membuat dongkol.

Setumpul-tumpulnya pisau, tetap masih bisa diasah menjadi tajam. Tapi kalau hati yang menjadi tumpul, sulit sekali untuk menajamkannya kembali, apalagi kondisi sekeliling sering mendorong penumpulan. Ketumpulan hati menyebabkan kehilangan kemampuan untuk berbagi rasa. Hati menjadi kosong, tidak bisa melihat perasaan orang lain.

Hati yang kosong bisa memberi ruang bagi masuknya “kontaminan“. Kedengkian, kebebalan, permusuhan dan hal-hal buruk bisa menjadi kontaminan mengisi hati kosong. Pencemar-pencemar hati akan mewarnai tindak tanduk dan perilaku orang yang hatinya kosong.
Hati yang tumpul tak mampu menerima pencerahan, tidak mempunyai keadilan. Ia tak bisa berbagi kebahagiaan kepada orang lain.

Ketumpulan hati yang membuat orang bisa tega membiarkan orang lain menderita, meski sesungguhnya ia bisa menolong. Ketika Mbah Minah “mencuri” tiga buah Kakao di Jawa Tengah, ia ditangkap polisi, kemudian dituntut jaksa dan akhirnya diadili, ketumpulan hati menjadi panglima disitu. Mbah Minah sedikit beruntung, karena pak Hakim tidak tumpul hatinya. Mbah Minah tak jadi dikurung, hanya dihukum percobaan.

Ketumpulan hati juga yang menjerat hakim Pengadilan Negeri Tangerang dan Pengadilan Tinggi Banten sehingga Prita Mulyasari didenda Rp. 204 juta gara-gara curhat melalui email tentang pelayanan buruk Rumah Sakit Omni Internasional. Prita beruntung karena didukung banyak orang, sehingga beberapa orang mengumpulkan “koin untuk Prita“. Meski para penegak hukum hatinya tumpul, tapi hati publik terbuka dan tajam untuk membantu Prita.

Ketajaman nurani publik terusik, melihat tumpulnya hati para penegak hukum. Publik menginginkan keadilan, penegak hukum hanya membaca pasal-pasal hukum dalam buku undang-undang. Hatinya tumpul, hati mereka buta meski matanya melihat. Mereka tidak bisa menangkap makna keadilan dalam huku dan undang-undang itu.

Kembali ke gunting rumput saya yang tumpul. Saya coba asah, tapi karena guntingnya sulit di buka, jadi asahannya tidak baik. Gunting itu tetap tumpul. Akhirnya saya mengganti gunting dengan membeli yang baru. Kalau saya tidak ganti, tanaman di halaman rumah saya akan tumbuh liar, jelek dan tak beraturan. Kalau hati nurani kita tumpul, mungkin Tuhan akan mengganti kita dari bumi ini. Kalau hati penegak hukum tumpul, mereka bisa digantikan oleh orang lain yang lebih tajam hatinya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s