Apa aja sih hak pasien dan keluarga.

Saya sedang asyik mendandani wajah ibu, kerut-kerut di wajahnya saya coba ditutupi sedikit, supaya terlihat lebih segar. Noda-noda hitam, diwajah senior (tua) itu juga saya “kurangi” supaya agak samar. Saya masih “pemula” dalam merias wajah, jadi belum bisa menampilkan hasil yang bagus. Ditengah keasyikan itu telpon genggam saya berbunyi, adik saya yang di Semarang dikabarkan mengalami kecelakaan sepeda motor, dan sampai tidak sadarkan diri. Saya buru-buru menghentikan kegiatan mendandani wajah ibu saya. Adobe Photoshop yang saya gunakan untuk mendandani foto wajah ibu, segera saya tutup, dan komputer saya matikan.

Belakangan saya lagi ketagihan menggunakan Adobe Photoshop, tapi kemampuan saya baru sebatas manggabung obyek foto menjadi satu dengan sedikit penghalusan. Adobe Photoshop itulah yang saya gunakan mendandani foto wajah ibu saya malam itu. Ketika mempraktekkan Adobe Photoshop itulah kabar kecelakaan adik di Semarang menghentikan kegiatan praktek belajar Adobe Photoshop.

Saya segera mencari informasi yang lebih lengkap tentang kecelakaan itu. Ternyata lebih dari 2 jam, adik saya belum sadar. Saya bertanya-tanya, separah apa kecelakan itu sampai pingsan 2 jam lebih. Akhirnya saya segera bergegas untuk berangkat malam itu juga ke Semarang. Saya menyiapkan beberapa keperluan kalau-kalau saya harus menginap di Semarang, termasuk pakaian ganti dan perlengkapan mandi. Saya ajak Mas Aman, pemuda yang sering membantu menyopiri di rumah, untuk bersama-sama ke Semarang.

Jam sudah menunjukkan pukul 20.40, ketika Mas Aman dan saya meluncur meninggalkan rumah. Perjalanan ke Semarang makan waktu kurang lebih 6-7 jam, karena itu Mas Aman dan saya akan bergantian menyetir. Saya menyetir duluan, dan Mas Aman saya suruh istirahat tiduran lebih dulu. Mobil Kijang keluaran 2003 yang kami pakai sebenarnya masih mampu diajak lebih kencang, tapi karena susut pandang malam hari relatif sempit, dan saya tidak tau kondisi jalan, maka mobil kami pacu maksimum 80 km/jam saja.

Sampai di Tuban, rasa kantuk mulai terasa. Sambil membeli minuman suplemen energi, saya menghentikan kendaraan di pinggir jalan sebelum masuk kota Tuban. Mas Aman membeli dua botol minuman energi, dan dia minum sebotol saat itu juga untuk lebih menahan rasa kantuk. Saya bergeser dari kursi kemudi, yang kemudian di ambil alih oleh Mas Aman. Saya mewanti-wanti bahwa perjalanan ke Semarang bukanlah perjalanan terburu-buru, karena itu tak perlu ngebut.
“Kalau kamu merasa ngantuk, berhenti dulu untuk istirahat. Saya tidak mau ada kecelakaan”, saya mengngingatkan.

Setelah mobil melaju, saya menutup mata untuk mencoba tidur. Tapi, seberapa besarpun usaha untuk tidur, tetap saja tak mampu terlelap. Mobil melaju terus dari Tuban, menuju Lasem, lalu Juwana, Rembang, Pati, Kudus, Demak dan akhirnya sampai Semarang. Jam hampir menunjuk 04.30, ketika kami berhenti di depan RS. Panti Wilasa di Jl. Dr. Cipto Semarang. Rumah sakit ini termasuk kecil, apalagi halaman depannya langsung ke jalan raya. Dari luar tak terlihat seperti rumah sakit yang tertata bagus. Saya langsug menuju ruang IGD menanyakan informasi pasien, oleh petugas IGD saya disuruh menanya di kounter informasi.

Saya terpaksa membangunkan petugas informasi yang tertidur di kursinya. Sambil minta maaf, saya menanyakan informasi adik saya. Petugas menanyakan nama dan alamat, setelah saya menyebut nama, bapak petugas berkata:
“Oh ya di kamar Betha-4, langsung saja ke sana”.
“Trimakasih pak”, jawab saya.
Di pintu masuk di sebelah ruang informasi, saya bertanya letak kamar Betha kepada petugas security.
“Bapak lurus sampai mentok, lalu belok kanan, disana kamar Betha, lihat saja nanti nomor 4”.

Saya melangkah menuruti petunjuk petugas security. Benar saja, di ujung lorong saya melihat tanda penunjuk ruang Betha. Ada kamar Betha 1 sampai Betha 8. Di bagian depan, menghadap ke kamar Betha-1 terdapat ruang perawat. Saya menuju ruang perawat, yang pagi itu dijaga dua orang suster. Saya minta ijin untuk melihat pasien, adik saya, dan mengatakan kalau saya kakaknya yang baru tiba dari Surabaya. Tanpa menunda-nunda, suster perawat memperbolehkan saya langsung menuju Kamar Betha-4.
“Silahkan langsung saja masuk, tapi kayaknya dia masih tidur”, perawat menjelaskan.

Sambil sedikit jinjit, saya dorong pintu kamar Betha-4 yang tidak terkunci. Di ruangan berukuran kurang lebih 3 x 5 meter itu ada 4 tempat tidur, dan hanya satu yang terisi. Saya lihat adik saya memejamkan mata, ia masih tidur, tak terlihat ada luka di kepala. Saya merasa lega melihat kondisinya, sebelumnya saya membayangkan kondisi yang cukup parah dengan luka-luka yang cukup. Informasi yang saya terima ketika di Surabaya, ia pingsan cukup lama. Ternyata, kondisinya tidak seburuk yang saya bayangkan. Saya belum ingin membangunkannya, biarlah dia tidur sebentar lagi. Saya pun keluar ruangan dan menuju lobby depan rumah sakit. Mau coba duduk, tapi mungkin lebih baik coba istirahat di dalam mobil saja, pikir saya. Kursi mobil direbahkan, jadi bisa lebih santai.

Hampir jam 6 pagi, ketika saya kembali ke ruang Betha-4. Ternyata adik sudah terbangun, lalu saya duduk disebelah tempat tidurnya menayakan kondisinya saat itu.
“Kepala aja masih agak pusing, kalau bagian badan yang lain enggak ada yang terasa sakit, dan tak ada luka“.
Saya coba memijit kaki dan tangan, apakah dia merasa kesakitan. Dan syukur tak merasa kesakitan, kaki dan tangan dapat digerakkan seperti biasa. Berarti selain kepala, tak ada bagian tubuh lain yang cedera. Dia lalu menceritakan kronologis kejadian yang diingatnya sampai tiba di rumah sakit. Panjang lebar, seingatnya.

Mendengar penjelasannya itu, berarti kondisinya tergantung pada hasil CT Scan yang dilakukan terhadap kepala. Bila hasilnya tidak ada masalah, tentu hanya tinggal istirahat dan pemulihan. Kemudian saya ke ruang perawat untuk menanyakan tindakan apa saja yang sudah dilakukan dan bagaimana proses selanjutnya. Suster perawat menjelaskan bahwa sudah dilakukan CT Scan malam harinya, dan sudah ditangani dokter. Menurut suster, hasil CT Scan cukup baik, tidak ada kelainan.
“Boleh saya lihat hasil CT Scannya suster?“, tanya saya.
“Oh, boleh saja”.
Suster mengambil sebuah amplop coklat besar dan menyodorkannya kepada saya. Saya mengeluarkan foto CT Scan dan mencoba mengamatinya. Saya tak bisa memahami makna negatif foto hitam seperti itu. Didalam amplop ada selembar kertas dari laboratorium yang melaksanakan CT Scan. Tulisan di kertas itu cukup jelas; “tidak ada kelainan, tidak ada pendarahan, tidak ada keretakan tempurung kepala“.

Saya lega sekali membaca hasil CT Scan terhadap kepala adik saya.
“Kalau begini bagaimana proses pengobatan selanjutnya suster?”.
“Maaf pak, saya tidak berwenang menjawabnya, nanti bapak tanyakan saja kepada dokter Gunadi yang menanganinya”.
Baiklah, trimakasih suster. Oh ya, sampai sejauh ini berapa biaya yang sudah dihabiskan, dan obat apa saja yang diberikan?”. Saya bertanya lagi.
“Sebentar pak ya”.
Suster membuka sebuah map dan sesaat kemudian memeriksa di komputer di depannya. Setelah ketemu filenya, dia menyebut angka rupiah yang sudah terpakai.
“Tapi itu belum termasuk biaya obat, karena pihak apotik belum sempat memasukkannya tadi malam. Obat yang sudah diberikan, hm…ada anti biotik, penghilang rasa sakit, dan penetral saraf kepala. Obatnya cukup mahal pak. Rincian biayanya nanti bapak dapat sewaktu pasien mau pulang dari rumah sakit”
“Terimakasih suster”.

Suster itu cukup ramah, tapi saya masih penasaran bagaimana caranya menentukan jenis dan harga suatu obat yang diberikan kepada pasien. Obat anti biotik saja, jenisnya puluhan, kalau dihitung dari pabrik farmasinya, mungkin jenisnya sudah ratusan. Ada anti biotik generik, sampai antibiotik yang khusus atau yang mahal sekali. Apa yang dipertimbangkan dokter ketika memutuskan memberikan obat tertentu kepada pasien. Apakah dokter memilih berdasarkan produsen (pabrik), atau harga, atau keampuhannya, atau keseuaian dengan pasien, atau pertimbangan lain. Bagaimana hak pasien dan keluarga untuk tau obat yang mana yang akan diberikan. Bagaimana pasien mengetahui kenapa dokter memberikan obat tertentu.

Dokter mempunyai kewenangan penuh untuk menetapkan obat yang diberikan kepada pasien. Pasien dan keluarga biasanya tidak mampu dan tidak tau, apa saja pertimbangan dokter menentukan obat A, dan bukan obat B. Dokter juga manusia biasa, boleh jadi ketika memutuskan memberikan obat tertentu, sebagai manusia ia dipengaruhi subyektifitas tertentu. Seandainya terjadi kelalaian, maka biasanya pasien dan keluarga yang menanggung risiko. Hak pasien dan keluarga dipertaruhkan.

Dalam hal menanggung risiko, pasien dan keluarganya, sangat kurang informasi tentang risiko apa yang mungkin terjadi. Secara peraturan, hak pasien dan keluarga dilindungi undang-undang, ada undang-undang kesehatan, ada undang-undang perlindungan konsumen. Tapi siapa dan bagaimana menjamin bahwa hak pasien dan keluarga dilaksanakan sesuai undang-undang.

Ketika Prita Mulyasari menuliskan keluhannya terhadap pelayanan rumah sakit Omni Internasional, Prita malah diadukan, ditahan, diadili di pengadilan. Kalau hak pasien dan keluarga, sangat mudah menjadi “daerah abu-abu” subyektifitas dokter, bagaimana kondisi pelayanan kesehatan kita kedepan. Banyak kejadian “Mal Praktik“, tapi apakah pelanggar “Mal Praktik” sudah diadili dengan benar ??. Horas.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s