Tergelincir kedalam parit di kebun cabe

Setelah beristirahat sejenak di persimpangan Pargaulan, Lintong Ni Huta, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Silaban. Tujuan kami adalah untuk ziarah ke makam bapak, tapi sebelum kesana kami sempatkan mampir ke makam Ompung Samuel yaitu mantan Kepala Negeri Silaban tahun 1940 an. Sayang, tujuan kami untuk ziarah ke makam bapak tidak dapat terlaksana, karena hujan deras di hutan dan salah satu mobil rombongan kami tergelincir ke dalam parit di saluran kebun cabe.

Makam ompung Kepala Negeri Silaban, terletak di pinggir jalan raya antara Lintong Ni Huta dan Dolok Sanggul. Makam ini persis berada di sebelah kiri dari tugu Datu Mangambe Silaban, jadi lokasinya di pertigaan jalan arah ke Sigarang-garang dan ke arah Huta Soit. Ketiga mobil rombongan berhenti di pinggir jalan di depan makam ompung. Kami rame-rame turun dari mobil dan bergerombol memperhatikan makam Oppung. Tentunya diakhiri dengan foto bersama didepan makam ompung.

Berpose di depan Makam Ompung Samuel Silaban, Mantan Kepala negeri Silaban tahun 1940 an


Habis foto bersama, kami bergeser ke arah tugu Datu Mangambe yang persis berada di sebelah kanan makam Ompung Samuel Silaban. Anak saya Dennis bertanya:
Patung apa itu pa?”.
“Itulah patung nenek moyang marga Silaban, namanya Datu Mangambe. Dari dialah nomor generasi kita dimulai, jadi kalau dia Silaban nomor generasi satu, papa nomor generasi 12, dan kamu nomor generasi 13″. Datu Mangambe mempunyai saudara dua orang yaitu Datu Bira dan Datu Guluan”.
“Kok ada 4 patung cewek?”.
“Ya, Datu Mangambe punya istri 4 orang, jadi patung cewek itu adalah patung istrinya”
.
Saya mencoba menjawab beberapa pertanyaan anak dan keponakan saya.

.
Kami kembali bergerak setelah beberapa saat berada di depan Datu Mangambe. Kendaraan meluncur ke arah Barat, lalu berbelok ke kanan menuju arah Dusun Nagatimbul. Sambil jalan, saya menceritakan kawasan yang kami lalui. Di sebelah kiri ada SD Negeri Silaban, dimana saya pernah menjadi siswa kelas I pada tahun 1967. Kondisi sekolah itu sekarang tentu sudah jauh berbeda dengan ketika saya masih sekolah di sana dulu.

Di perempatan berikutnya kami berbelok ke kanan, sebab kalau kami berbelok ke kiri, maka kami akan bisa tiba di Gereja HKBP Silaban. Kalau kami terus lurus diperempatan ini, nanti bisa sampai di Dusun Sipagabu. Karena tujuan kami berikutnya adalah Dusun Lumban Silintong yang berada di arah kanan, jadi kami belok kanan.

Di Dusun Lumban Silintong ada rumah Ompung Samuel Silaban, dimana ibu dulu berjuang untuk melahirkan saya. Supaya kami bisa menuju makam bapak, kami harus mampir dulu untuk pinjam golok dan arit untuk menebas semak belukar di jalan menuju makam bapak. Anak saya Dennis menyempatkan bikin foto anak kerbau, yang kebetulan di tambat di sebelah rumah ompung. Fotonya seperti dibawah ini.

Karena hari sudah sore, kami segera bergegas menuju makam keluarga yang berada di puncak sebuah perbukitan di sebelah Timur Tao Silaban. Jalan menuju puncak perbukitan dari sisi danau sudah tertutup oleh semak dan pohon-pohon, jadi kami harus memutar lebih jauh untuk bisa mendekati kawasan makam. Jalan memutar itu adalah jalan tanah yang sudah ditumbuhi rumput dan tumbuhan semak. Di kiri dan kanan jalan terdapat kebun penduduk setempat, yang ditanami berbagai sayuran seperti cabe, wortel dan sebagian ditanami kopi.

Jalannya berbelok-belok dan sempit, jalan itu digunakan untuk mengangkut hasil kebun. Gerimis mulai turun ketika kami memasuki jalan semak belukar. Semakin jauh kami memasuki semak belukar, hujan semakin deras. Di lokasi mobil tak dapat lagi naik ke perbukitan, kami berhenti, hujan turun sangat deras, sehingga kami menunggu saja di dalam mobil. Sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda hujan akan reda.

Setelah kurang lebih lima belas menit menunggu, kami akhirnya memutuskan pulang, tanpa sampai di makam bapak. Dengan hujan deras seperti itu, kami tidak mungkin menembus semak belukar yang lebat. Kalau kami paksakan, kami semua bisa mengigil kedinginan, dan kami tidak mempunyai persiapan apapun untuk cuaca yang demikian.

Diperjalanan pulang, “jalan hutan” semakin licin, karena air dan jenis tanah yang memang berlumpur. Mobil yang dikemudikan adik saya, tak mampu mengatasi belokan yang sedikit menanjak, setir yang sudah dibelokkan ke kanan, tapi karena jalan licin, ban terbanting ke kiri akhirnya tergelincir ke dalam parit. Dua ban sebelah kiri menggantung, sementara as mobil depan dan gardan tersangkut di tanah.

.

Kijang Innova itu terpuruk di parit, padahal jarak ke jalan raya, hanya sekitar 300 meter lagi. Hari sudah sore, dengan kondisi mobil nyangkut seperti itu, mobil harus dinaikkan ke jalan, kalau hanya ditarik begitu saja, as roda bisa patah. Kami terpaksa mencari bantuan tenaga penduduk kampung untuk mengangkat mobil. Hujan sudah mulai reda, tinggal gerimis kecil. Beruntung ito, anaknya namboru, berhasil mengerahkan sejumlah orang untuk membantu kami.

Proses “pengangkatan” mobil cukup memakan waktu yang lama. Kami mencoba berbagai upaya, dengan pengangkatan manual dengan tangan, tidak membawa hasil meski ada banyak orang yang membantu. Yang bergerak hanya hanya per dan shock breaker sementara “body” mobil, dan as roda tidak bergerak sama sekali. Orang-orang yang membantu kami berusaha mencari cara yang paling tepat untuk mengangkat mobil.

Kami putuskan mengangkat mobil dengan mengungkit ban. Parit disebelah jalan, kami tutup dengan tanah, agar ada ruang bagi kami untuk mendorong dan sekaligus tempat meletakkan kayu dan papan pengungkit ban. Kami akan mengungkit ban belakang dengan bantuan sejumlah kayu dan papan. Sebagian dari kami mencari kayu untuk landasan dan pengungkit. Setelah landasan dianggap cukup kuat, maka kami coba mengungkit ban dan sambil mendorong body mobil. Pada ungkitan pertama, kayu pengungkit patah, tidak cukup kuat mengangkat mobil.

Terpaksa dicari lagi kayu yang lebih kuat. Kali ini kayunya cukup kuat dan kami berhasil mengangkat ban belakang yang tergantung sambil didorong oleh beberapa orang. Tahap terakhir adalah menarik mobil ke arah belakang. Akhirnya Kijang Innova itu terlepas dari jebakan parit.

Pada saat mobil bergerak menuju jalan raya, jam sudah hampir pukul 6 sore. Langit masih cerah jam 6 sore di area kebun cabe penduduk itu. Berarti hampir satu setengah jam proses pengangkatan mobil dengan bantuan hampir 20 orang penduduk setempat. Semula saya sudah sangat kuatir, kalau-kalau mobil tidak bisa diangkat sampai hari gelap. Syukur semua akhirnya selesai sebelum hari gelap. Trimakasih Tuhan, akhirnya kami boleh melanjutkan perjalanan, meski ziarah ke makam bapak tidak terlaksana.

6 thoughts on “Tergelincir kedalam parit di kebun cabe

  1. Salah satu penyebab ompung kita pada jaman dulu punya istri lebih dari satu adalah karena tingkat kesehatan yang masih belum baik. Banyak ibu-ibu meninggal pada waktu melahirkan, maklum persalinan pada masa itu sangat sederhana. Ari-ari diputus dengan sayatan kulit bambu, karena kulit bambu dianggap lebih bersih dari pada alat yang lain. Apa mau pake pisau dapur ??.

    Oppung boru saya, meninggal pada saat melahirkan.

    Like

  2. Tujuan tak tercapai tetapi hati boleh senang karena lepas dari jeratan mobil terpuruk, saran saya sebagi keturunan raja Pandua dan Kepala Negeri Silaban dengan didukung oleh fasilitas yang tersedia saat ini tentu Amanguda dapat menelusuri sejarah ompung kita dahulu, saya yakin anda punya data dan tolong dihinmpun untuk dipublikasikan sesuai kaidah kebenaran agar kita semua penduduk negri margu mengetahui sejarahnya sehingga bijak. orang pintar bilang begini pelajarilah sejarah agar besikap bijaksana, karena dengan mengetahui sejarah akan mengajari kita bahwa kondisi sekarang adalah buah dari pekerjaan sebelumnya, hasil nanti adalah buah dari kegiatan sekarang. Terimaksih Amanguda Togar Salam dari kami sekeluarga Sangla

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s