Ah,…… ya memang jadi repot lagi Gus !

Sejak wafatnya Gus Dur sampai kemarin hari Minggu, sudah tiga kali saya mendengar khotbah pendeta di Gereja yang membahas Gus Dur. Bagi bangsa Indonesia, terutama kaum minoritas, Gus Dur adalah pahlawan kemajemukan. Gus Dur penuh fenomena, penuh paradoks dan penuh keceriaan.

Bagaimana tidak fenomena, dalam kurun waktu yang demikian singkat saya mengikuti khotbah pendeta di gereja sampai tiga kali yang membahas perjuangan Gus Dur bagi kaum Non-Muslim di Indonesia. Ketiga khotbah itu tidak hanya membahas hasil karya Gus Dur, tapi juga mendoakan dan mengajak jemaat untuk mendoakan keluarga Gus Dur agar tabah menghadapi masa sulit. Gus Dur di doakan di gereja. Itu luar biasa.

Gus Dur adalah tokoh bagi semua umat, dia berbuat banyak bagi golongan minoritas. Sejujurnya saya tidak suka menuliskan dan mengatakan kata minoritas. Karena itu bertentangan dengan hal-hal yang saya yakini selama ini. Tapi untuk menegaskan keberadaan Gus Dur, kata minoritas itu harus digunakan dalam posting ini. Tanpa itu rasanya akan sulit menyatakan karakter dan apa yang sudah dilakukan Gus Dur.

Suka atau tidak suka, ditengah-tengah Bangsa Indonesia masih lekat pemahaman mayoritas dan minoritas. Sejak lama pengelompokan itu hidup di masyarakat dan nyaris dilembagakan secara sistematis dan secara formal. Saya selalu berusaha mengatakan pada diri sendiri, bahwa bangsa ini adalah satu. Tak ada dikotomi mayoritas-minoritas. Tapi saya pun tidak bisa lari dari beberapa kenyataan. Saya merasakan dan melihat kenyataan yang ada itu. Saya masuk dalam kelompok minoritas.

Selama bertahun-tahun dijaman orde baru maupun di jaman orde lama, pengelompokan mayoritas – minoritas berlangsung di masyarakat dan juga di lembaga-lembaga formal. Sudah barang tentu terjadinya pengelompokan di lembaga formal tidak secara jelas tertulis dalam aturan main dan dokumen.

Gus Dur, adalah orang yang memutarbalikkan fakta dikotomi mayoritas-minoritas bangsa ini. Sebelum menjabat sebagai Presiden, ia sudah banyak memperjuangkan demokrasi dalam pengertian sesungguhnya. Terlebih lagi ketika ia menjadi Presiden, kebijakan dan upaya demokrasi terus ia lakukan. Sejarah bangsa ini mencatat dengan baik usaha yang dilakukan Gus Dur.

Secara pribadi, sampai saat ini saya tidak bisa memahami dan mengerti, bagaimana seorang seperti Gus Dur bila melakukan hal itu. Dari segi background dan dari banyak aspek, ia adalah bagian dari kelompok mayoritas. Satu-satunya penjelasan yang bisa saya fahami adalah bahwa Gus Dur benar-benar adalah anugerah Tuhan bagi Bangsa Indonesia. Tidak mudah menemukan orang seperti dia.

Bagi kaum minoritas, salah satu perjuangan Gus Dur yang masih sulit dilaksanakan adalah pendirian gereja. Meski aturan normatif sudah ada, bahwa tidak boleh ada halangan untuk mendirikan rumah ibadah, tapi pelaksanaan di lapangan masih belum banyak berubah.

Kalau saja Gus Dur lebih lama menjadi Presiden, barangkali pelaksanaan pembangunan rumah ibadah akan jauh lebih mudah. Tapi apa mau dikata, sejarah berkata lain, Gus Dur tidak sempat ber lama-lama menjadi Presiden.

Tapi boleh jadi ada hikmahnya juga dibalik lengsernya Gus Dur dari jabatan Presiden. Kalau Gus Dur lebih lama, bisa juga kontra produktif. Karena beliau serba sangat paradoksal. Hal itu mungkin adalah isyarat bagi bangsa ini, agar lebih banyak lagi orang-orang seperti Gus Dur untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Ah…. ya memang (masih) repot lagi Gus……
Selamat jalan Gus Dur….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s