Sekali-sekali Presiden jadi pramusaji

Menjadi pramusaji, melayani orang menyiapkan makanan, tentulah bukan kegiatan yang istimewa. Hampir semua orang pernah menyiapkan makanan untuk orang lain, setidaknya untuk keluarga sendiri. (Banyak juga sih bapak-bapak dan para suami di Indonesia yang masih beranggapan bahwa menyiapkan makanan bukan tugas suami,!!, jadi para suami itu tak pernah menyiapkan makanan bagi istri dan anaknya). Tapi kalau menyiapkan makanan bagi warga dilakukan oleh seorang Presiden, hal itu tentulah menjadi suatu yang istimewa.

Seorang Presiden menjadi pramusaji bagi sejumlah warga masyarakatnya. Itulah yang dilakukan oleh Presiden Barack Obama, ia melayani warga masyarakat di suatu kawasan di Washington DC, sebagai pelayan (bahasa Bataknya parhobas). Kegiatan melayani itu dilakukan tanggal 18 Januari 2010 lalu, dalam rangka memperingati Hari Martin Luther King, seorang pejuang ha-hak sipil masyarakat Amerika.

Obama tampaknya sangat santai melaksanakannya. Perhatikanlah gayanya, pakaian dan penampilannya, “gesture” (bahasa tubuhnya). Obama memakai baju kasual yang gombrong kedodoran, lengan panjang digulung. Sepintas ia tak terlihat sebagai seorang presiden negara adidaya. Obama sangat rileks melakoni sebagai pramusaji, layaknya pelayan restoran sungguhan, seolah tak bedanya dengan pelayan warung di pinggir jalan. (Di Amerika juga ada warung pinggir jalan dengan kereta dorong).

Barack and Michelle Obama marked Martin Luther King, Jr. Day January 18 with community service, serving food at a local social services agency. They were also joined by their daughters Malia and Sasha and Michelle’s mother Marian Robinson. Other administration members, including Treasury Secretary Tim Geithner and Attorney General Eric Holder participated in community service projects throughout the Washington, D.C. area.

Saya sangat yakin bahwa pasukan “secret service”, sangat standby disekeliling Obama 24 jam. Meski Obama sedang menjadi pelayan, pasukan Paspampres Amerika itu siap setiap detik untuk mengambil tindakan yang perlu mengamankan dan menyelamatkan Presiden Obama. Pengamanan standar presiden pasti tetap diberlakukan, meski secara kasat mata mungkin tidak terasa. Terasa pemimpinnya membaur dengan masyarakat biasa.

Saya jadi teringat dua kejadian yang agak berhubungan dengan pengamanan Presiden. Kejadian pertama di Filipina. Suatu kali di sekitar tahun 1999, saya diundang menjadi salah satu pembicara di forum pertemuan kota-kota Filipina. Pada malam harinya diadakan jamuan makan malam antara peserta (para walikota Filipina), dengan Presiden Filipina pada waktu itu Mr. Erik Estrada. Acara jamuan makan malam dilakukan di hotel dimana saya menginap. Saya termasuk yang diundang untuk ikut makan malam itu.

Meski acara dilakukan jam 7 malam, sekitar jam 6 sore saya sudah stand-by di loby hotel, sambil memperhatikan persiapan jamuan malam dengan Presiden Estrada. Saya sempat berkeliling di sekitar lobby hotel, situasi sekitar hotel dan di lobby terlihat biasa saja. Tidak terlihat pengamanan yang kentara dari pasukan pengawal Presiden. Sekitar 30 menit sebelum acara dimulai saya memasuki area acara, tidak terlihat pengamanan ekstra, meski tetap harus melawati pintu metal detector. Tak ada pemeriksaan yang ketat, saya bisa masuk ruangan acara dengan santai, walau harus menunjukkan undangan.

Ketika Presiden Estrada tiba, ternyata meja tempat dia duduk hanya dipisahkan satu meja dari tempat saya duduk. Kedatangannya pun tak terkesan seperti kedatangan seorang penguasa yang dikawal dan didampingi banyak orang. Yang terlihat sebagai pengawal hanya sekitar 2-3 orang, ditambah panitia acara. Suasana acara juga tidak terlalu formal, tidak banyak petugas yang kelihatan sibuk, kecuali pelayan hotel yang mempersiapkan hidangan.

Malam itu Presiden Estrada sangat santai, makan malam ikut bersama undangan lainnya diselingi acara kesenian Filipina. Ketika memberi kata sambutan, Presiden Estrada juga santai, sambil menyelipkan beberapa joke. Presiden Estrada menggunakan Bahasa Inggeris, ditengah-tengah peserta yang lebih dari 95 persen orang Filipina. Peserta Non-Filipina hanya beberapa orang, dari World Bank, Asian Development Bank, dan termasuk saya satu-satunya orang Indonesia. Presiden berbaur dengan hadirin dalam suasana rileks.

Kejadian kedua adalah di Jakarta, persisnya di istana presiden. Saya mendapat undangan untuk ikut hadir di istana dalam rangka peringatan hari lingkungan hidup sedunia. Acara dimulai jam 10 pagi, tapi oleh panitia dan protokol istana, undangan diminta sudah hadir di istana jam 8 pagi. Karena saya berangkat ke istana bersama rombongan besar, sekitar jam 7.30, bis yang membawa kami sudah bertolak ke istana. Memasuki istana, bis melalui pemeriksaan di pintu penjagaan masuk bagian belakang istana. Di pintu penjagaan pertama ini penumpang tidak perlu turun dari bis. Setelah turun dari bis, saya dan rombongan masuk ke halaman melalui pintu penjagaan kedua. Dimana semua orang harus meninggalkan tanda pengenal lalu kemudian melalui pintu metal detector untuk masuk kehalaman istana.

Pintu penjagaan ketiga masih tertutup, sekitar jam 8 pagi peserta undangan mulai masuk melalui penjagaan pintu ketiga. Disini petugas dengan body yang kekar atletis mengawasi setiap orang yang akan masuk. Bila tidak ada undangan di tangan, jangan harap bisa melewati pintu ini. Pemeriksaannya sangat teliti, semua tas dan peralatan harus melalui metal detector. Setelah melalui, pintu ini, kita bisa masuk ke beranda istana (saya tidak tau apakah itu gedung Istana Negara atau Istana Merdeka). Ketika masuk ke ruangan, saya masih harus melewati pintu (ke empat) yang dijaga petugas Paspampres. Sekali lagi undangan di cek, sebelum pintu masuk. Jam 9 pagi saya sudah duduk di deretan kursi undangan. Saya mendapati deretan kursi yang agak jauh dari depan. Di barisan depan adalah untuk undangan VIP.

Sekitar jam 9.30, satu persatu undangan VIP mulai berdatangan. Petugas dan panitia hilir mudik mengatur segala persiapan acara. Banyak sekali jumlah petugas yang terlihat di ruangan. Kalau ditambah dengan petugas di luar ruangan, mungkin jumlahnya bisa lebih dari seratus orang.

Acara di istana dimulai tepat waktu, Presiden SBY datang didampingi Ibu Ani Yudhoyono. Beliau terlihat sangat formal dan jumawa. Setiap gerak tubuhnya sangat terkontrol. Beberapa menteri mendampingi di daretan kursi VIP. Ketika acara formal selesai, Presiden memberi kesempatan untuk bersalaman dengan seluruh undangan yang hadir di ruangan itu. Didampingi oleh ibu negara dan menteri negara LH, Presiden SBY menyalami hampir 400 orang undangan.

Setelah selesai acara bersalaman, acara dilanjutkan dengan ramah tamah, sambil menikmati hidangan snack dan minuman. Begitu selesai menyalami undangan, Presiden SBY dan ibu Ani kembali masuk ke ruang dalam istana, tanpa ikut acara ramah tamah yang dilaksanakan.

Ketiga kejadian diatas, Presiden Obama, Presiden Estrada dari Filipina dan Presiden SBY, tentu tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Apalagi kejadiannya dan konteksnya berbeda. Meski sama-sama Presiden, karakter mereka berbeda, aturan protokoler yang tidak sama. Acara formil dan acara santai Presiden, menjadi sulit dibedakan. Barangkali memang tidak mudah bagi seorang pejabat tinggi untuk melakukan hal yang sederhana.

Link terkait : Obama today

3 thoughts on “Sekali-sekali Presiden jadi pramusaji

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s