Pedagang Tomok, sekarang okelah

Begitu kapal “Berjona-3” merapat di dermaga, kami segera bergegas turun. Siang yang cerah, tapi tidak terlalu panas, ditambah tiupan angin danau, membuat perut mulai tak sabar untuk diisi. Sejak awal sudah disepakati bahwa kami akan makan siang di Tomok. Jadi saya dan anak-anak bergegas mencari tempat makan, karena sudah hampir jam 13. Tapi seperti biasa, kaum perempuan tidak tahan melewati deretan kios souvenir tanpa mampir melihat-lihat. Begitu turun dari dermaga, sudah terdapat kios souvenir.

Di kios terdekat saya bertanya, dimana rumah makan terdekat.
“Oh, di jalan di depan belok kiri ke arah pelabuhan ferry, disitu ada beberapa rumah makan”, si ibu menjawab. Saya segera menuju arah yang disebutkan si ibu sambil mengajak rombongan lainnya. Benar saja ada beberapa rumah makan di sekitar pelabuhan ferry, ada rumah makan minang, ada rumah makan khas Batak. Tujuan kami adalah rumah makan khas Batak.

Di laci etalase, dipajang makanan khas Batak, saksang B2, panggang B2, tombur, lengkap dengan sayur daun ubi tumbuk. Rombongan saya yang lumayan banyak masuk rumah makan secara bertahap, karena sebagian asyik di kios souvenir. Saya pesan tombur, ikan mujair Danau Toba yang dipanggang dengan sambal khas Batak. Melihat pajangan ikan mujair panggang, sudah tak sabar ingin segera menyantap.

Ditengah asyiknya makan dengan anak saya dan keponakan, seorang laki-laki paruh baya diiringi 3 orang ABG, yang saya yakin anaknya, masuk ke rumah makan. Pria itu berkulit cerah, matanya agak sipit. Dari penampilan fisiknya, saya yakin dia keturunan Tionghoa. Mereka berempat menempati meja yang besebelahan dengan meja saya makan. Ketika memesan makanan si pria tadi berkata:
“Baen hamu jolo ito panggang dohot tombur, dang pola di hami saksang”.
Logat bicaranya, benar-benar logat Batak, padahal dia keturunan Tionghoa.

Anak saya Daniel langsung menggamit tangan saya sambil setengah berbisik.
“Pa, dia berbahasa Batak lho pa”.
Daniel kaget mendengar seorang laki-laki keturunan Tionghoa menggunakan Bahasa Batak dengan logat Batak yang kental. Sejak TK sampai SMA, teman-teman sekolah Daniel lebih banyak warga keturunan Tionghoa, sebagai orang Batak ia heran, karena dia sendiri tidak bisa bicara bahasa Batak. Di Tomok dan Tapanuli, tentu saja banyak orang Tionghoa yang fasih berbahasa Batak.

Secara estafet, rombongan kami satu persatu menikmati tombur di rumah makan itu. Jenis makanan yang lain, nampaknya tak mampu menyaingi tombur bagi kami. Setelah selesai makan, perjalanan “hunting” dilanjutkan lagi sampai ke kawasan makam Raja Sidabutar. Tidak banyak yang kami dapat dalam maredang-edang (jalan-jalan) di kawasan Tomok. Sedemikian banyak kios yang berada di Tomok, barang yang dipajang hampir sama dan seragam. Jadi di kios manapun kita mampir, barangnya tidak jauh beda dengan kios lainnya.

Ada hal yang membuat saya kagum dan salut pada para pedagang di Tomok. Mereka melayani calon pembeli dengan keramahtamahan yang sangat baik. Sangat jauh berbeda dengan kesan yang saya dapat ketika terakhir ke Tomok sekitar tahun 2004 yang lalu. Kini mereka menawarkan dengan baik.
“Mampir lah dulu bang, tengok dulu kaus ini, tak usah pun beli, tengok aja, bagus ini”.
Begitu si ibu menawarkan dagangannya. Kebanyakan pedagang di Tomok dimana saya lewat di depan kiosnya menawarkan dagangannya dengan kalimat yang seperti itu. Ini tentu kemajuan yang sangat penting di Tomok. Keramah tamahan pedagang merupakan modal penting untuk menarik pengunjung ke kios mereka, bahkan ke Tomok secara keseluruhan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s