Terminal-3 Cengkareng tidak ramah lingkungan

Untuk pertama kalinya, Rabu (27/01) saya menggunakan Terminal-3 Cengkareng untuk boarding, kembali ke Surabaya. Sebelumnya pernah juga melalui kedatangan terminal-3, tapi karena hanya sekedar keluar dan langsung menuju Jakarta, jadi tidak sempat memperhatikan keadaan terminal. Kemarin, saya “terpaksa” tinggal hampir 5 jam di Terminal-3, jadi sempat mengamati beberapa hal. Kesimpulannya, Terminal-3 Cengkareng, tidak ramah lingkungan, boros energi, tidak sesuai dengan tuntutan jaman sekarang, alias “tidak gaul”.

Ya, untuk masa sekarang, orang yang gaul adalah orang yang peduli lingkungan, berbuat sesuatu memperbaiki dan melestarikan lingkungan. Termina-3 Cengkareng, memang bagus, tapi tidak ramah lingkungan, malahan, bisa dibilang, terminal ini berkontribusi terhadap pengrusakan lingkungan.

Sebelumnya, saya sudah pernah melewati terminal-3 ini, tapi karena untuk kedatangan (arrival gate), jadi hanya melintas saja tanpa sempat mengamati kondisi terminal. Ketika akan take-off itulah, apalagi dengan delay yang sangat lama, saya jadi sempat memperhatikan ini-itu.

Dari tampak luar bangunan terminal-3, tidak terlalu menarik, karena bentuknya hanya sebuah kotak dengan bagian atas yang melengkung. Ibaratnya, bangunan ini hanya seperti sebuah silinder yang dibelah dua, lalu ditelungkupkan, sehingga bagian lengkungan silinder menjadi atapnya. Jadi arsitektur luarnya tidak terlalu menarik. Dibawah lengkungan atap itulah terdapat dua lantai, yang bawah untuk kedatangan, dan yang atas untuk keberangkatan.

Lantai bawah, sebagaimana biasanya bagian kedatangan, terdiri dari tempat pengambilan bagasi dengan belt conveyor, dalam ruangan yang cukup luas. Tempat pengambilan bagasi ini langsung menyatu ke pintu keluar terminal. Diantara tempat pengambilan bagasi dan pintu keluar terdapat tangga dan eskalator ke bagian keberangkatan di lantai atas.

Di lantai atas, sebelum lobby keberangkatan,  terdapat sejumlah konter cafe/kios  mulai dari yang branded sampai, yang belum punya nama. Setelah melewati pintu sekuriti, terdapat ruang tunggu penumpang yang cukup nyaman. Lantai dilapisi karpet tebal yang cukup bagus. Kursi duduk ditata melintang, sehingga memberi kesan dinamis. Atap langit-langit lengkung ditopang rangkaian pipa baja di sepanjang lengkungan atap. Sebagian rangka penopang lengkungan ditutup dengan plafond berwarna silver.

Lengkung atap tingginya kurang lebih 15 meter (taksiran saya) dari lantai ruang tunggu keberangkatan. Dengan ketinggian seperti itu, ruang tunggu terasa sangat luas dan lapang. Ruang tunggu keberangkatan terasa seperti lapangan sepakbola yang dipasang kursi tempat duduk. Lampu-lampu pijar di arahkan ke plafond atap, sehingga cahaya dalam ruangan terasa “sejuk”, tidak silau karena pantulan plafond berwarna silver. Sudah tentu ruang tunggu dan seluruh bagian dalam terminal dilengkapi dengan alat pendingin udara (air conditioner) yang berfungsi terus menerus selama terminal beroperasi.

Kubah atap yang berbentuk lengkung dengan ketinggian sekitar 15 meter itulah yang tidak ramah lingkungan. Peralatan pendingin udara harus mendinginkan ruangan yang luar biasa besar. Untuk itu dibutuhkan enerji listrik yang juga sangat besar. Pemakaian listrik yang sedemikian besar ini tentu sangat boros dan tidak ramah lingkungan. Kalau toh ruangan ruang tunggu dan terminal harus menggunakan pendingin udara, mengapa ruangan harus sedemikian besar yang didinginkan.

Pengoperasian pendingin udara seperti itu mengluarkan emisi gas rumah kaca yang sebenarnya tidak diperlukan. Boleh jadi design Terminal-3 Cengkareng, hanya sekedar latah, ikut-ikutan mencontoh terminal beberapa bandara internasional dunia. Dalam kurun 10-15 tahun terakhir, sejumlah bandara internasional, dirancang dengan bangunan besar yang arsitekturnya mempunyai plafond yang sangat tinggi. Untuk menyebut beberapa contoh antara lain, Kuala Lumpur – Malaysia, Svarnabhumi – Bangkok, Osaka – Jepang, Pudong-Shanghai dan lain-lain. Bangunan terminal bandara itu mempunyai arsitektur dengan atap dan plafond yang sangat tinggi. Sangat berbeda dengan terminal Changi Singapore, yang kompak, tapi fungsional.

Kegiatan pemborosan dan pengrusakan lingkungan di Terminal-3 Cengkareng adalah pengoperasiaon sejumlah outlet tempat makan. Selama menunggu hampir 5 jam di Terminal-3, saya sempat makan bakmi di salah satu outlet yang terletak di lantai bawah dekat pintu keluar. Outlet yang sudah punya nama di Jakarta ini, tidak menggunakan piring dan cangkir sebagai sarana tempat makanan. Yang digunakan adalah peralatan sekali pakai yang terdiri dari kertas dan plastik. Peralatan sekali pakai inilah yang menjadi sampah yang merupakan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan.

Saya memesan semangkuk bakmi ayam dan segelas teh panas seharga Rp. 22.730 (termasuk pajak). Tapi sampah yang timbul dari pesanan ini ternyata luar biasa mencemari lingkungan. Betapa tidak, coba kita perhatikan sisa dari semangkuk bakmi ayam dan segelas teh panas yang terdiri dari:

1 buah mangkuk plastik (tempat bakmi) diameter lebih kurang 18 cm, dan tinggi lebih kurang 9 cm
1 buah mangkuk plastik (tempat kaldu) diameter lebih kurang 9 cm, dan tinggi lebih kurang 6 cm
1 buah sendok plastik
1 buah sachet plastik bekas sambal (ukuran lebih kurang 9 x 7 cm)
1 buah sachet plastik bekas tempat teh celup
1 buah plastik pembungkus sumpit kayu
1 buah sedotan plastik kecil panjang kurang lebih 12 cm
1 lembar kertas tatakan (lebih kurang 30 x 20 cm)
1 buah sumpit kayu
1 buah gelas kertas volume lebih kurang 200 ml
1 sachet kertas teh celup bekas
2 buah sachet bekas tempat gula pasir
1 lembar tissue kertas.
sisa kaldu dan serpihan bakmi

Kalau dihitung secara cermat boleh jadi harga bakmi ayam plus teh manis sebesar Rp. 22.730, lebih besar untuk biaya yang menjadi sampah.  Harga bakmi dan teh yang sesungguhnya terdiri dari 5 komponen yaitu yang menjadi sampah, ada yang berupa makanan dan minuman, biaya pelayanan, ada keuntungan dan ada pajak. Diantara kelima komponen itu, yang menjadi sampah tampaknya lebih besar nilainya.

Semua samah sisa makanan tadi langsung dikumpulkan ke dalam kantong plastik tempat sampah. Kalau saja outlet tersebut menggunakan piring dan gelas keramik serta sendok stainless steel, tentu sampah yang timbul akan jauh lebih sedikit. Tapi outlet itu tampaknya tak mau repot mencuci piring. Atau boleh jadi terminal tidak menyediakan atau tidak memperbolehkan fasilitas cuci piring.

Kalau saja pengelola outlet dan pengelola terminal punya kesadaran lingkungan yang memadai, maka sistem yang digunakan adalah piring keramik dan gelas yang bisa dipakai ber ulang-ulang.  Pengelola Terminal-3 perlu dipaksa untuk merubah sistem pengelolaan terminal agar menjadi ramah lingkungan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s