Sengatan hukum ala “tawon boy”.

Beberapa koran Surabaya, hari ini memuat berita putusan hakim yang membebaskan “Tawon Boy” dari tuntutan hukum. Hakim memutuskan mengembalikan “Tawon Boy”, siswa SD kelas-3 yang berumur 9 tahun, kepada orang tuanya, karena terbukti “melakukan perbuatan tidak menyenangkan” terhadap teman sekelasnya. Sidang pengadilan negeri Surabaya memutuskan bahwa “Tawon Boy” dengan nama inisial DY, dikembalikan kepada orangtuanya untuk dibina dan dibimbing.

Seketika mendengar putusan hakim, DY alias tawon boy“, langsung dielu-elukan oleh teman sekelas, orang tua dan gurunya. Proses penuntutan hukum sempat membuat DY stress, sampai-sampai ia tidak ingat rumahnya. Karena itu sidang pengadilan sempat ditunda, DY si tawon boy” tidak mau disidang. Beruntung, hakim cukup bijaksana dalam memutus perkara anak tersebut, sehingga tawon boy” tidak menderita trauma yang berkepanjangan.

Asal mula tawon boy diadili, adalah ketika ia mennempelkan seekor tawon ke pipi teman sekelasnya bernama Wati (bukan nama sebenarnya). Tawon menyengat pipi gadis kecil itu hingga bengkak. Wati tentu saja melaporkan perbuatan DY ke orangtuanya, Supardi, yang lantas melaporkan perbuatan DY ke polisi. Oleh polisi “perbuatan tidak menyenangkan” yang dilakukan DY diproses hingga ke pengadilan. Prosesnya bisa cepat dan lancar. Supardi, ayah Wati, adalah perwira penyidik polisi di Satreskrim Polda Jawa Timur.

Membaca berita koran itu, saya agak terhenyak sejenak. Inilah potret hukum “yang tidak pandang bulu”. Seorang bocah, diproses ke pengadilan demi hukum. Pelapor dan penyidik, melihat persoalannya dengan “kacamata kuda” bahwa perbuatan anak tersebut adalah pelanggaran hukum. Dan karenanya si bocah harus dituntut demi hukum.

Kasus “Tawon Boy”, tidak ada bedanya dengan kasus “kakao” di Jawa Tengah, kasus pencuri semangka, dan kasus pencuri pisang beberapa waktu lalu. Dalam kasus kakao, seorang nenek, mengambil 3 buah kakao (senilai Rp. 3.000) yang jatuh dari pohonnya ditengah perkebunan kakao. Si nenek kemudian dilaporkan ke polisi dan diproses ke pengadilan. Oleh keluarga si nenek, telah diupayakan damai, namun pelapor tidak bersedia berdamai. Pengadilan memutuskan si nenek bersalah, dan dijatuhi hukuman percobaan.

Kasus kakao masih terbilang “mendingan“, ketimbang kasus semangka yang lebih tragis. Adalah dua orang petani, sebut saja Karyo dan Parto. Mereka berdua adalah buruh tani yang sehari-harinya mencari pekerjaan di desa. Di tengah hari yang terik, karena haus, Karyo dan Parto mengambil sebuah semangka dari kebun di ladang. Perbuatan Karyo dan Parto tertangkap tangan oleh Iyem, pemilik kebun. Iyem kemudian dengan bantuan kerabatnya melaporkan Karyo dan Parto ke polisi. Keduanya dijebloskan ke dalam tahanan dengan tuduhan mencuri semangka yang nilainya tidak sampai Rp. 5.000.

Konon Karyo dan Parto sudah meminta maaf dan bersedia mengganti kerugian sebuah semangka, tapi Iyem dan kerabatnya tidak mau menerima maaf Karyo dan Parto. Kasus Karyo dan Parto dilanjutkan kepengadilan, dan keduanya harus meringkuk di penjara selama dua bulan lebih, sampai kasusnya disidangkan. Karyo dan Parto kemudian bisa menghirup udara bebas, setelah hakim memutuskan hukuman yang “bijaksana“.

Kasus Tawon Boy, Kakao dan semangka, adalah potret keadilan dan hukum yang disikapi secara “buta”. Hukum memang harus ditegakkan, dan tidak ada kompromi mengenai hal itu, tapi keadilan juga harus dijunjung, agar martabat manusia tetap bisa dihargai dengan baik. Penegakan hukum yang “buta” dan tidak mempertimbangkan keadilan dan kebijaksanaan, hanya akan menghasilkan “hukum yang abu-abu”. Kasus hukumnya mungkin selesai, tapi persoalan keadilan dan martabat manusia tidak terselesaikan.

**
Kasus pengadilan pencuri semangka mengingatkan saya pada masa kecil saya. Ketika itu saya harus membantu orang tua berladang dan berkebun. Kami biasanya menanam padi di sawah, atau kacang dan palawija di ladang. Di kawasan ladang dan sekitar sawah biasanya banyak tumbuh pisang, pepaya dan tanaman-tanaman lainnya termasuk juga ada di kebun kami. Kadang-kadang petani tetangga ada juga yang menanam semangka, atau jagung.

Di suasana berladang dan berkebun seperti itu, “kenakalan” anak-anak saya muncul ketika melihat pepaya atau pisang di kebun tetangga mulai matang ranum. Tidak jarang saya “mengambil(baca mencuri) buah pepaya tetangga untuk dimakan di ladang hari itu juga. Saya mengambilnya bukan untuk dibawa pulang ke rumah. Kenakalan seperti itu, sudah tidak asing di wilayah kami. Anak-anak lain juga sering melakukannya. Bahkan orang dewasapun ada juga yang melakukan itu.

Setelah lelah bekerja di kebun dan diladang, ketika istirahat dan menikmati pepaya (yang belum matang betul), menjadi bagian dari keseharian di ladang. Kalau tidak ada pisang atau pepaya, kadang kami membakar ubi atau singkong. Menikmati “camilan desa” seperti ubi bakar, adalah hiburan di sela-sela istirahat bekerja.

Kadang kala sewaktu mengambil buah milik tetangga, kami juga tertangkap tangan oleh pemilik kebun. Kalau sudah begitu, permohonan maaf kepada pemilik kebun biasanya sudah cukup. Sebaliknya buah pisang di kebun kami juga sering dicuri orang. Persoalan kehilangan di ladang dan dikebun biasanya tidak berlanjut, dan tidak menjadikan hubungan bertetangga menjadi bermusuhan. Kejadian seperti itu sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan di desa.

Kalau saja pada waktu itu, saya dilaporkan ke polisi, karena mengambil pepaya dari kebun tetangga, hal seperti itu dianggap sangat berlebihan. Tapi rupanya di era hukum sekarang ini, hal-hal seperti itu perlu dicermati, agar orang tidak terjebak dalam proses hukum yang konyol.

3 thoughts on “Sengatan hukum ala “tawon boy”.

  1. Memang Hukum sangat tajam buat orang yang lemah…

    da tumpul bagi para penguasa…

    lihat saja kasus Century,sampai sekarang belum kelar2..

    bahkan ada berita yg menyatakan bahwa akan ada barter perkara…

    Hukum macam apa ini??

    saya sebagai Mahasiswa dan pengamat Hukum sangat kecewa sekali akan Hal ini….

    Like

  2. mental para koruptor diajarkan dari kampus kampus hukum… mahasiswa pada nyontek, ngepek agar punya IPK tinggi tinggi… dan kalau mahasiswa tidak terima dengan sebagai hal.. maka anarki dan kekerasan adalah jawabannya… tidak pake otak.. hanya pake otot.. tidak pake pikiran hanya pake sogokan…

    macam apa mahasiswa hukum sekarang ini… mahasiswa hukum bolos.. nanti menjadi penegak hukum yang mangkir dari kerjaan… mahasiswa hukum menyentek .. maka nanti jadinya korupsi berjamaah…

    Buktikan kau tidak mengincar harta dan tahta… baru hukum bisa tegak…

    Pilih menjadi miskin dan biasa biasa saja dari pada makan uang haram hasil korupsi… Konyol tenan…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s