Memilih bisa mudah, kadang juga sulit.

Barry menaruh empat keping kayu berbentuk lingkaran sebesar gelas diatas meja. Salah satu keping kayu itu dilengkapi paku yang sangat tajam berdiameter sekitar 7 milimeter dan panjang sekitar 10 centimeter. Paku ditancapkan ditengah lingkaran kayu dan menghadap ke atas.

Barry mengambil kerucut kertas dan menutupkannya ke masing-masing keping kayu. Sehingga masing-masing keping kayu berbentuk sama, dan tidak bisa dibedakan lagi keping mana yang ada pakunya dan keping mana yang tidak ada paku. Kemudian Barry meminta seorang gadis cantik yang duduk diseberang meja Barry untuk menggeser keping kayu secara acak seperti mengacak dadu. Barry memutar tubuhnya membelakangi meja sambil meminta si gadis terus menggeser-geser posisi keping kayu secara acak. Dengan begitu Barry tidak bisa melihat dimana keping kayu yang ada pakunya. Ia akan mencoba menebak keping mana yang berpaku, keping mana yang tidak.

Setelah beberapa kali keping digeser-geser, Barry kembali menghadap meja. Barry bertanya kepada sigadis: “Kerucut mana yang ada pakunya?.”
“Aku tidak tau, aku tidak ingat”.
“Kesinikan tanganmu”.
Kata Barry sambil memegang telapak tangan si gadis lalu menaruhnya diatas salah satu kerucut kertas.
“Yang ini?”, Barry bertanya sambil menaruh tangan sigadis diatas kerucut. Si gadis tersenyum ragu. Kemudian tiba-tiba tangan si gadis dihentakkan ke atas kerucut kertas, sampai kerucut rusak. Wajah si gadis tersenyum hampir pucat.
Barry menggeser tangan si gadis ke atas kerucut yang lain.
Yang ini pakunya?“.
Tanpa menunggu jawaban, Barry menghentakkan tangan si gadis ke atas kerucut. Wajah si gadis tambah pucat.

Sekarang kerucut tinggal dua, dan salah satunya mempunyai paku yang sangat tajam. Bila Barry menekankan tangan si gadis di kerucut yang salah, paku yang tajam akan menembus telapak tangan si gadis.

Sambil menggoda si gadis Barry bertanya lagi kepada si gadis, kerucut yang mana yang ada pakunya. Si gadis kelihatan bingung, karena ia sendiri tidak bisa membedakan kedua kerucut itu. Tiba-tiba Barry menghentakkan tangan si gadis ke salah satu kerucut yang tersisa. Si gadis kaget dan shock, ia mengira tangannya akan menancap di paku. Sambil tersenyum Barry membuka kerucut yang masih tersisa, dan memperlihatkan paku yang sangat tajam.

Barry adalah pesulap. Ia sudah berlatih sulap sejak berumur 6 tahun. Pertunjukan sulapnya termasuk spektakuler dan mencengangkan banyak orang. Ia harus memilih kerucut yang tidak berpaku diantara empat kerucut. Kalau ia salah memilih, maka telapak tangan gadis dan telapak tangan Barry sendiri akan terluka.

**
Memilih terkadang bisa mudah, tapi memilih juga sering jadi persoalan pelik. Ketika belanja buah di pasar, kita dengan mudah memilih buah mana yang akan kita ambil, karena bisa diperiksa dengan teliti. Buah yang sudah mulai membusuk sangat mudah dibedakan dari buah yang masih segar. Tapi kalau harus memilih seperti yang dilakukan si pesulap Barry, memilih menjadi masalah yang rumit dan bisa berakibat fatal.

Saat ini banyak daerah sedang sibuk mempersiapkan pemilihan. Rakyat akan memilih calon kepala daerah, Bupati atau Walikota. Pemilihan Bupati dan walikota, bagi sementara orang, bisa jadi sangat mudah, karena sudah mengenal calon kepala daerah. Masalahnya kebanyakan masyarakat pemilih tidak mengenal calon yang akan dipilih, masyarakat tidak bisa memeriksa dengan teliti kelebihan dan kekurangan si calon. Informasi yang ada tentang calon sebatas spanduk, poster atau baliho yang tersebar dibanyak tempat.

Sudah barang tentu informasi yang ada di spanduk, poster dan baliho, adalah “kemasan” si calon yang sudah dibuat sedemikian rupa. Tidak ada calon yang membeberkan data dan informasi yang lengkap mengenai dirinya dalam spanduk, poster dan baliho. Memang ada beberapa calon yang menampilkan data dan informasi dirinya melalui internet. Tapi itupun merupakan informasi yang sudah dikemas dengan sangat bagus untuk pencitraan positif.

Saya sendiri terkadang menjadi bingung, melihat proses pemilihan calon walikota Surabaya, yang sekarang sedang hangat-hangatnya. Berbagai cara yang dilakukan oleh para kandidat untuk menarik simpati masyarakat. Ada dengan cara yang santun dan bermartabat, tapi ada juga yang terkesan bahwa kandidat itu kebingungan dan tidak memahami bagaimana cara mengkomunikasikan dirinya kepada masyarakat. Ada juga calon yang mengemas sedemikian rupa menggunakan koran setempat dengan cara mem-blow up pemberitaan tentang dirinya.

Menurut jadwal KPU, pemilihan walikota Surabaya akan dilakukan pada 2 Juni 2010. Hari ini, 11 Maret, dimulai pendaftaran pasangan calon yang diusung partai politik. Suhu politik lokal di kota ini semakin tinggi, terutama bagi para kandidat dan tim suksesnya. Rakyat jadi penentu dan penonton.

Sebagaimana biasanya, seberapa besar pun hiruk-pikuk yang terjadi, waktu akan berlalu dan mencatat, apa yang terjadi. Rakyat lebih mementingkan hasil karya nyata ketimbang hiruk-pikuk politik lokal. Pilihlah calon yang benar-benar memberikan gambaran bahwa calon akan bisa menjalankan rencana dan janjinya dengan cara yang benar dan bermartabat. Memilih kadang bisa mudah, tapi bisa juga sulit.