Mengangkat lagi Environmentally Sustainable Cities

Add to FacebookAdd to DiggAdd to Del.icio.usAdd to StumbleuponAdd to RedditAdd to BlinklistAdd to TwitterAdd to TechnoratiAdd to Yahoo BuzzAdd to Newsvine

Kota-kota di dunia berkembang semakin mengkhawatirkan. Kerusakan dan pengrusakan lingkungan di perkotaan terus berlangsung dengan kecepatan yang membahayakan. Sayangnya masih banyak orang seolah tidak mau tau bahaya lingkungan yang mengancam manusia perkotaan. Kekhawatiran itu terungkap dalam High Level Seminar on Environmentally Sustainable Cities (ESC) yang dihelat oleh KLH di Jakarta baru-baru ini.

Kekhawatiran itu memang sangat beralasan, betapa tidak saat ini lebih dari 65 persen penduduk dunia tinggal di perkotaan. Manusia kota ini menghabiskan lebih dari 75 persen energi dunia. Dari dua informasi ini saja sudah bisa disimpulkan bahwa kota-kota sangat berpotensi mengganngu keseimbangan ekosistim secara global. Informasi in secara jelas juga menggambarkan bahwa kota-kota mempunyai peranan yang sangat penting dalam melestarikan atau menghancurkan ekosistem.

Kalau kota-kota (para manager kota) melakukan langkah dan tindakan cerdas mengelola kota, maka keseimbangan ekosistem akan terjaga dengan baik. Sebaliknya jika para manager kota tidak melakukan langkah-langkah tepat dalam mengelola kota, maka bencana lingkungan di kota hanya akan tinggal menunggu waktu. Persoalan yang sesungguhnya tidaklah sesederhana apakah manager kota cerdas bertindak atau tidak.

Persoalan Environmentally Sustaianable Cities (ESC) itulah yang dibahas oleh banyak pihak di Jakarta awal Maret 2010. Sejumlah pakar dan pembicara berkumpul untuk membahas upaya menjadikan kota-kota sebagai tempat yang nyaman untuk dihuni dimasa kini dan dimasa datang. Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, mengungkapkan hal-hal yang “terlalu normatif” tentang ESC. Menteri ini kelihatannya masih “kesulitan” memberikan arahan yang gamblang untuk merumuskan langkah-langkah nyata untuk perencanaan dan implementasi ESC.

Prof. Emil Salim (mantan MenLH) yang menjadi co-chair seminar, malahan memberikan arahan yang lebih konkrit, agar seminar meghasilkan rumusan yang tajam, terarah dan operasional. Karena peserta berasal dari hampir semua negara-negara di Asia Timur (termasuk Indonesia) dan juga dari sejumlah lembaga internasional, maka hasilnya memang baru pada tahapan kebijakan.

Acara diikuti oleh peserta dari berbagai negara dan sejumlah lembaga internasional, serta dari berbagai kota di Indonesia. Peserta luar negeri antara lain: Jepang, Korea, China, Vietnam, Laos, Cambodia, Philippina, Singapura, Malaysia, Australia, New Zealand dan India. Peserta lembaga Internasional terdiri dari World Bank, Asian Development Bank, ASEAN, IGES, UNCRD, UN ESCAP, Citynet, USAID, Clean Air Initiative. Kota-Kota di Indonesia meliputi Surabaya, Jakarta Pusat, Palembang, Makassar, Balikpapan, Pekanbaru dan Padang. Perwakilan dari Menteri-menteri Lingkungan Hidup dari masing-masing negara juga ikut selain perwakilan dari beberapa kota di negara-negara dimaksud.

High Level Seminar on Environmentally Sustainable Cities adalah rangkaian dari pertemuan internasional untuk merumuskan upaya pengendalian lingkungan secara menyeluruh. Hasil dari pertemuan di Jakarta ini akan dibawa ke pertemuan tingkat Menteri negara-negara ASEAN, yang akan diadakan di Brunei Darussalam dan sekaligus juga menjadi bahan pada pertemuan “Climate Talks” di Mexico akhir tahun ini.

Acara bertujuan untuk membahas berbagai hal mengenai isu lingkungan hidup di perkotaan. Sebagaimana diketahui bahwa sekitar 60% penduduk dunia saat ini tinggal di wilayah perkotaan dan menghabiskan lebih dari 75% energi dunia. Dengan kondisi itu kota-kota mempunyai peranan penting dalam perekonomian dunia dan sekaligus dalam persoalan lingkungan hidup.

Beberapa kota di Asia telah berhasil untuk meningatkan kualitas lingkungan hidup perkotaan. Keberhasilan kota-kota itu perlu didesiminasikan ke kota-kota lain yang masih harus berjuang dengan lebih keras untuk mencapai hasil yang minimal. Karena itu forum-forum seperti Seminar ESC merupakan tempat untuk berbagi pengalaman.

Forum ESC direncanakan akan menyusun indikator kinerja perkotaan yang dapat dijadikan referensi untuk meningkatkan pengelolaan lingkungan. Beberapa parameter utama pengelolaan lingkungan perkotaan yang diusulkan antara lain adalah untuk air minum dengan menghitung persentase jumlah keluarga yang tersambung dengan fasilitas air minum, serta persentase jumlah keluarga yang terlayani dengan air minum yang memenuhi standar WHO.

Pameter untuk emisi dari sumber bergerak adalah persentase kendaraan yang memenuhi baku mutu. Sementara parameter untuk emisi dari sumber tidak bergerak, yaitu persentase industri yang memenuhi baku mutu. Parameter penggunaan energi bersih adalah persentase energi terbarukan yang digunakan. Indikator umum tersebut memerlukan penyesuaian dengan kondisi kota-kota di Asia. Indikator itu diharapkan dapat menjadi instrument pencapaian di masing-masing kota.

Beberapa kota memaparkan “good practices” dalam pengelolaan lingkungan. Sebagai contoh kota Daegu di Korea mempunyai program yang terinci dalam menerapkan “Green Economy” dalam pembangunan kota. Kota Waitakere di New Zealand mempunyai kelompok stakeholder untuk meningkatkan dan mempertahankan keanekaragaman hayati di Waitakere.

Komitmen kota-kota untuk meningkatkan kualits lingkungan disususn dalam pernyataan yang disampaikan oleh masing-masing kota.
Kota Makassar telah menyiapkan model perhitungan luas kawasan pantai yang akan tergenang kenaikan muka air laut pada tahun 2050 dan tahun 2100 sebagai akibat dari pemanasan global. Model tersebut memperlihatkan secara spatial kawasan yang akan terendam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s