Japanese Naked Society Member

Add to FacebookAdd to Twitter

Naked Children

Gambar disamping bukanlah di Jepang. Saya mendapatkannya di Bangkok, dari sebuah presentasi tentang pengelolaan air limbah domestik kota Metropolitan Bangkok. Di bagian akhir presentasi, ditampilkan gambar ini dimana anak-anak dengan riang gembira mandi di suatu perairan dalam keadaan telanjang, naked. Jadi tidak ada hubungan langsung antara gambar disebelah dengan judul posting ini.

Tapi gambar itu menggelitik saya, ketika saya buka-buka arsip dan menemukan gambar ini, saya menjadi teringat seorang teman Jepang dari kota Kitakyushu, namanya Mr. Takeuchi, orang Jepang lebih senang memanggilnya Takeuchi-San. Takeuchi-San datang ke Surabaya sebagai utusan Pemerintah Kota Kitakyushu dalam rangka kerjasama dengan Kota Surabaya. Kala itu, saya menjadi host untuk Takeuchi-San. Dalam berbagai acara dan kegiatan di Surabaya, saya menjadi pendampingnya.

Setahun kemudian, saya mendapat kesempatan berkunjung ke kota Kitakyushu. Kali ini Takeuchi-San menjadi host bagi saya. Ia menemani saya dan Pak Yudha, selama berada di Kitakyushu. Disetiap acara resmi maupun acara informal, Takeuchi-San selalu menemani dan mengajak saya mengunjungi berbagai tempat di kota Kitakyushu.

Karena acara saya di Kitakyushu selama hampir 10 hari, jadi melewati hari Sabtu dan hari Minggu, yang merupakan hari libur di Jepang. Tadinya saya agak bingung juga, mau kemana dua hari libur di Kitakyushu. Tapi rupanya Takeuchi-San malahan sudah jauh-jauh hari merencanakan acara libur Sabtu-Minggu kami di Kitakyushu. Jumat sore, ketika acara resmi berakhir, Takeuchi-San sudah memberitahu, bahwa besoknya Sabtu ia akan menjemput saya dan Pak Yudha jam 9 pagi di hotel untuk dibawa jalan-jalan di Kitakyushu. Perjalanan kami seharian di Sabtu itu sangat padat dan berkesan. Saya masih akan tulis tersendiri nantinya cerita seharian Sabtu di Kitakyushu. Menjelang malam kami baru kembali ke Hotel Rihga Royal yang terletak disebelah Stasiun Kokura.

Minggu pagi-pagi sekali sekitar jam 7, saya dan Pak Yudha sudah dijemput oleh Mr. Takeuchi. Ia didampingi oleh Emiko Murakami dan Yamashita-San. Hari Minggu ini mereka akan membawa kami ke Hiroshima dengan mengendarai mobil. Takeuchi-san menjadi pengemudi, dan kami langsung tancap gas dari hotel menuju jalan tol. Perjalanan dari Kitakyushu ke Hiroshima cukup lama, sekitar 4 setengah jam.

Menjelang tengah hari, sampailah kami di Hiroshima. Tujuan pertama kami adalah Hiroshima Atomic Bomb Museum. Sebelumnya saya sudah pernah mgnunjungi museum ini, jadi bersama Takeuchi-San, ini adalah kunjungan kedua. Tapi Pak Yudha, kunjungan ini adalah yang pertama kali ke Hiroshima.

Dari museum bom atom, kami menuju Miyajima Shrine, yang terletak di pulau kecil bernama Miyajima. Untuk mencapai kuil Shinto ini, harus menggunakan ferri dari pelabuhan yang jaraknya hampir 45 menit bermobil dari Museum Bom Atom. Kuil Miyajima sangat besar, dan sudah berumur ratusan tahun. Karena itu, kuil ini sudah ditetapkan sebagai salah satu “World Herritage“. Kuil ini berhadapan langsung dengan pantai, sehingga bila air pasang, sebagian halaman kuil ikut tergenang. Sebagian bangunan kuil, malahan dibangun diatas air.

Puas menjelajahi Miyajima Shrine, kami bergerak menuju kuil Budha yang juga terdapat di pulau ini. Kuil Budha ini tidak sebesar Shrine Shinto. Tetapi menara kuil Budha ini menjulang tinggi dan bisa terlihat dari pelabuhan ferri. Akhirnya karena sudah sangat siang, kami sepakat untuk makan. Saya mengusulkan untuk makan di salah satu restoran yang ada di sekitar kami. Tapi rupanya Takeuchi-san sudah membooking makan siang di salah satu hotel yang terdapat di Miyajima. Jadi akhirnya saya menurut saja apa yang sudah direncanakan Takeuchi- walaupun tanpa memberitahu saya terlebih dahulu.

Ternyata Takeuci-san-Emiko Murakami dan Yamashita-San benar-benar membuat surprise bagi saya dan Pak Yudha. Maka siang itu sudah dipesan dengan makanan tradisional Jepang. Kami tidak makan di restoran hotel, tetapi di salah satu ruangan khusus. Tempat duduk ala lesehan dengan tatami, tapi dilengkapi semacam kursi tanpa kaki dengan sandaran. Jadi meski saya duduk lesehan, tapi bisa duduk menyandar pada semacam kursi.

Berbagai jenis masakan tradisional Jepang disajikan secara estafet, mulai dari makanan pembuka sampai makanan penutup. Saya tidak tau apa saja nama makanan yang kami makan, tetapi lengkap dari berbagai jenis sayuran, sup, seafood, sampai sushi. Porsi masing-masing makanan memang kecil, tapi karena hampir 10 macam jenis makanan, akhirnya perut benar-benar kenyang.

Selesai makan, Takeuchi-san mengajak kami mandi ari panas alam (hot spring). Jepang memang terkenal dengan pemandian air panas. Katanya, mandi air panas akan sangat menyehatkan, apalagi setelah makan siang. Maka sayapun setuju saja. Kolam air panas berada di ruang terbuka di kompleks hotel. Kolam air panas ini adalah untuk pengunjung hotel dan siapa saja yang ingin berendam. Saya tidak tau harga karcis masuk kolam air panas di hotel ini. Kata Takeuchi-san, itu sudah paket dari makan siang.

Sebelum masuk ke kamar ganti pakaian, Takeuchi-san, mengatakan bahwa orang mandi di kolam air panas di Jepang pada umumnya dengan telanjang bulat tanpa pakaian. Karena itu pemandian wanita dan pemandian pria dipisahkan. Jadi Takeuchi-san mengatakan sebaiknya kita semua mandi dengan telanjang.
“Apa mandi telanjang itu keharusan?“, tanya saya.
“Ya memang tidak ada yang mengharuskan”, jawab Takeuchi.
Saya dan pak Yudha kaget juga, tapi kami sepakat memang ingin mencoba air panas yang menyehatkan itu. Di kamar ganti sudah disediakan handuk, dengan berlilitkan handuk, saya keluar dari kamar ganti pakaian, tapi saya masih menyisakan celana dalam yang belum dilepas dibalik handuk. Pak Yudha juga masih menyisakan celana dalam dibalik lilitan handuknya.

Air kolam memang panas, menurut Takeuchi, temperatur air panas alam itu sekitar 41 derajat Celcius. Begitu tiba di kolam, Takeuchi-San dan Yamashita-San langsung melepas handuk sehingga benar-benar naked dan berendam di air. Di kolam itu sudah ada beberapa orang yang berendam. Saya dan pak Yudha, melepas handuk dan mulai masuk kolam, tapi berdiri sebatas paha, karena masih menggunakan celana dalam. Melihat kami berdua seperti itu, Takeuchi dan Yamashita senyum-senyum saja.
Gak apa-apa telanjang disini, gak dilihat orang kok“, Takeuchi berkata. Saya dan Pak Yudha sama-sama senyum saja. Akhirnya Pak Yudha, melepas juga celana dalamnya, dan mulai berendam. Saya juga akhirnya mengikuti Pak Yudha.
“Nah, gak masalah kan!”, kata Takeuchi-san.
You are now, become a member of Japanese Naked Society he..he…“, Takeuchi-San tertawa.
This is a little bit strange for me, to be naked in a public space“, jawab saya.
Japanese man are naked in the public bath, that is the custom here”.

Air panas alam itu memang membuat tubuh menjadi hangat. Apalagi sehabis makan siang yang sangat kenyang, berendam air panas menjadi kenikmatan tersendiri. Kami berendam air panas sepuasnya, tak peduli lagi, apakah saya telanjang atau tidak. Setelah puas berendam, badan terasa segar kembali, enteng. Air panas alam itu benar-benar membuat tubuh menjadi bugar.

Kami kembali ke Kitakyushu dari Miyajima dengangan pengalaman unik.
This is a new experience for me, and I think I will not forget it”, kata saya ke Takeuchi sewaktu perjalanan pulang. Pengalaman di tahun 2002 itu memang berkesan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s