Bak tetesan embun di pagi hari

Mendapatkan setetes embun di pagi hari adalah kenikmatan alam yang jarang diperhatikan. Kalau mendapatkan tetesan embun penyejuk seperti itu, dahaga yang dirasakan seolah seketika menghilang. Menikmati pemberian alam seringkali membutuhkan kejelian untuk bisa menimatinya.

Saya tidak bermaksud menulis prosa atau puisi, tapi saya sungguh terkesan dengan pernyataan dukungan dari seorang anggota legislatif (DPRD Kota Surabaya) Kamis siang. Dalam suatu rapat Panitia Khusus (Pansus) DPRD kemarin, saya beserta jajaran dengan didampingi oleh Tim Anggaran Eksekutif (Perencanaan, bina program dan keuangan) diminta menjelaskan kinerja kantor kami selama 2006-2009 di depan Pansus DPRD.

Tentu saja penjelasan itu sifatnya umum. Saya menjelaskan bahwa selama periode itu kantor saya (BLH), dibebani target penerimaan daerah (PAD) yang terus meningkat. Sementara dari segi sumber daya (manusia, peralatan dan anggaran), BLH terus menurun dari 2006 ke 2009. Kondisi inilah salah satu yang saya ungkapkan di depan rapat Pansus. Bagaimana mungkin kami bisa mencapai target penerimaan yang terus ditingkatkan sementara jumlah petugas berkurang, peralatan operasional yang kadaluwarsa (menyusut karena umur), dan biaya operasional, tidak bertambah. Meski setiap tahun kami mengusulkan untuk mengganti peralatan (komputer dan kendaraan operasional), tapi selama 4 tahun tidak pernah disetujui.

Mendengar itu, salah satu anggota DPRD tersebut, Pak Masduki Toha, minta penjelasan dari Tim Anggaran Eksekutif. Mengapa target penerimaan ditingkatkan dari tahun-ke tahun, sementara realisasi tidak mungkin tercapai, karena keterbatasan sumber daya.
Kalau begitu, Kepala BLH nya nanti dibilang tidak bisa kerja. Kasihan dong, kalau dibebani target yang tidak realistis, tapi tidak diberi alat yang cukup” Pak Masduki berkata.
Tim Anggaran Eksekutif tidak bisa memberi penjelasan yang memadai.

Pembelaan Pak Masduki, saya nilai sangat positif, dan secara pribadi saya tersentuh. Saya tidak berusaha membela diri, saya menjelaskan fakta-fakta yang ada. Fakta-fakta itulah yang berbicara yang kemudian menjadikan DPRD mendukung. Dukungan itulah yang saya anggap seperti tetesan embun di pagi hari. Apakah saya berlebihan, entahlah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s