“Mura-mura” di pasar Ben Tanh, Ho Chi Minh

Kodok yang terkuliti mencoba meloncat.

Untuk pertama kalinya saya ke Vietnam, tepatnya ke ibu kota Ho Chi Minh City (HCMC). Beberapa kali ke luar negeri, dan bertemu orang Vietnam, saya mendapat kesan bahwa orang Vietnam, adalah orang-orang pekerja keras. Sejarah perjuangan Vietnam, mungkin menjadikan mereka menjadi pejuang tangguh. Mengalahkan Amerika dalam perang Vietnam, menjadi modal semangat juang orang Vietnam. Kota Ho Chi Minh, sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kota-kota di negara berkembang yang pernah saya kunjungi, hampir sama dengan Surabaya, Manila, Bangkok, New Delhi atau Jakarta.

Sedang tidur-tiduran di kamar, tiba-tiba telepon berdering, Pak Heru, Asisten Deputy dari Kementerian Negara Lingkungan hidup, menelepon.
“Bu Tati, dan saya mau jalan-jalan keluar, mau ikut enggak??”.
“Ya ikut dong, sebentar ya, saya turun”.
“Kalau gitu kami tunggu di lobby ya”.

Setelah membasuh muka dan berganti baju, saya turun ke lobby.
Kemana kita?, saya baru sekali ini datang ke Ho Chi Minh“, tanya saya.
“Ayo jalan sajalah dulu”, kami bertiga bergerak keluar lobby, lalu menyeberangi jalan. Saya belum bisa menentukan mana arah Timur-Barat dan Utara-Selatan. Sekitar 50 meter di arah belakang hotel, kami sampai di persimpangan jalan. Di salah satu pojok terdapat Gedung “Opera House Saigon“, tempat pementasan kegiatan kesenian. Lalu kami berjalan menuju arah depan Opera House, menurut peta yang dipegang Pak Heru, di arah depan Opera House akan terdapat deretan toko-toko dan pasar. Pasar “Ben Thanh Market” itulah yang menjadi tujuan kami.

Setelah melalui beberapa persimpangan, kami sampai Pasar Ben Tanh, Ho Chi Minh City. Bangunan pasar tidak terlalu luas, mungkin hanya sekitar satu hektar, tidak bertingkat, hanya ruangan dengan los-los yang berjejalan. Kalau mau dibandingkan, mirip seperti kondisi pasar Tanah Abang Jakarta, atau Pasar Turi di Surabaya (sebelum terbakar), atau Pasar Chatuchak di Bangkok. Segala macam kebutuhan sehari-hari ada di pasar ini, mulai dari aneka tekstil dan pakaian jadi, sampai bakso dan sayuran. Barang-barang kerajinan juga ada, begitu pula makanan camilan buatan Vietnam.

Kami bertiga lau menjelajah pasar, setelah sepakat, ketemu lagi sekitar jam 5 sore. Hari itu saya hanya mau survey saja, tidak niat membeli sesuatu. Saya pikir besok masih ada waktu, apalagi pasarnya tidak jauh dari Sheraton, hotel dimana saya menginap. Maka saya putar semua bagian pasar yang memang tidak terlalu luas. Sampai juga saya ke “pasar basah” dimana dijual aneka sayuran dan kebutuhan dapur termasuk ikan dan daging.

Agak kaget juga melihat setumpuk kodok yang baru saja dikuliti, tapi masih bisa bergerak-gerak. Berarti kodok-kodok itu baru dikuliti beberapa menit lalu. Saya tak habis pikir, kenapa kodok itu tidak langsung dibuat mati, baru dipajang di baskom, kenapa dibiarkan tersiksa sampai akhirnya mati sendiri. Saya berdiri beberapa menit di depan pajangan kodok itu. Ada kodok meski sudah tidak ada kulit, dan sebagian kepalanya dipotong, tapi masih bisa bergerak mencapai pinggiran baskom. Foto diatas memang tak bisa memperlihatkan gerakan si kodok. Saya bergidik membayangkan mahluk yang disiksa sebelum dinikmati manusia dijadikan kodok goreng mentega yang lezat.

Ketika saya lewat, ada penjual yang bahkan bisa berkata: Mura-mura, karena melihat penampilan saya yang orang Indonesia. Saya juga berpapasan dengan beberapa rombongan turis dari Malaysia, yang nampaknya banyak datang ke Ho Chi Minh.

Pasar Ben Tanh, agaknya memang dirancang untuk turis yang berkunjung ke Ho Chi Minh, lokasinya sangat strategis, ada di pusat kota, dimana banyak sekali hotel, tempat para turis menginap. Lokasi pasar ini ada jelas tertulis dan ditandai dalam peta yang terdapat di hotel. Para penjual, pada umumnya sudah bisa diajak tawar menawar dengan bahasa Inggeris, para turis akan bisa menikmati suasana tradisional dengan gaya tawar-menawar yang alot.

Pasar tradisional di tengah kota, memang bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi turis. Bila dirancang dan dikelola dengan baik, pasar tradisional bisa menjadi aset yang sangat berharga, sekaligus menarik wiatawan domestik dan internasional. Pasar Ben Tanh di Ho Chi Minh, dan Pasar Chatuchak di Bangkok, adalah bukti yang tak terbantahkan. Di Surabaya, Pasar Keputran, sangat potensial untuk dijadikan seperti Pasar Ben Tanh, Ho Chi Minh. Kenapa tidak….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s