Peterporn: Tipisnya batas “pribadi dan publik”

Setelah lebih dari dua minggu menjadi berita terpanas di negeri ini, saya berkesempatan menyaksikan video porno yang pelakunya diduga Ariel dan Luna Maya. Meski gambarnya tidak terlalu bagus, dengan mudah orang yang melihat bisa yakin mengenal siapa pemain video itu. Akting kedua pemain, terkesan wajar, namun sudut pengambilan gambar sangat vulgar. Bagi saya, video berdurasi beberapa menit itu bisa mejelaskan beberapa hal.

Video kedua pasangan, nampaknya diambil dengan kamera HP atau yang sejenis oleh pemain video itu sendiri. Gambar sebagian besar diambil oleh pemain laki-laki, pada suatu saat kamera diletakkan dipermukaan (meja atau sejenisnya), dan mengambil gambar kedua pasangan. Ada juga spot gambar dimana pemain perempuan yang memegang kamera.

Dengan hasil video seperti itu, dapat dikatakan bahwa kedua pasangan secara sengaja dan menyenangi “shooting” lakon mereka. Ekspresi wajah pemain, terutama yang wanita, terkesan rileks, bahkan menikmati lakon (maaf) sang**ma mereka. Dari ekspresi pemain video tersebut, bisa diduga, lakon mereka bukan yang pertama kali. Artinya, sangat besar kemungkinan mereka sudah berulang kali melakukan adegan semacam itu. Logikanya, kalau mereka baru pertama kali, tentu sulit untuk tampil rileks.

Hal lain yang bisa difahami dari kasus video mirip Luna Maya dan mirip Ariel, bahwa ruang-ruang pribadi di kamar tidur dan ranjang, sangat mudah menjadi terbuka ke penjuru dunia. Lewat dokumentasi “pribadi”, hal-hal yang tadinya dianggap tidak akan diketahui orang menjadi sangat mudah dibeber ke umum. Teknologi kamera, internet dan media, bisa menampilkan sesuatu yang tersembunyi menjadi terpapar ke khalayak ramai. Tidak ada lagi batas-batas antara sesuatu yang pribadi dan sesuatu yang publik.

Kedua pemain video tersebut tak pernah membayangkan bahwa peredaran “gambar hidoep” itu sudah menghancurkan karir selebriti Indonesia, Luna Maya dan Ariel Peterpan. Kasus video mirip Luna Maya-Ariel, juga menenggelamkan berita-berita “top stories” nusantara, seperti kasus Susno Duadji atau kasus Century. Pemberitaan media yang sedemikian hebat, menyedot perhatian publik yang luar biasa.

Padahal awalnya hanya dari pengambilan gambar pribadi, tak disangka, hal pribadi menjadi milik publik yang sangat luas. Batas antara pribadi dan publik menjadi sangat tipis dan hampir tidak nyata.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s