World Cup, semangat, emosi dan tidur

Piala Dunia Afrika Selatan memasuki babak perempat final. Lebih dari seperempat penduduk dunia akan mencorongkan mata dan perhatian ke layar TV menyaksikan bintang-bintang sepakbola beradu ketangkasan. Para pelatih tim sedang berjuang keras mengatur strategi untuk mengalahkan lawan dan merebut kemenangan.

Sebagian orang mengorbankan jam tidurnya untuk bisa menyaksikan para jagoan bola bertarung di lapangan. Ada yang NOBAR (nonton bareng), yang bahkan di organisir secara profesional. Banyak yang nonton di rumah saja sambil menyiapkan camilan.

Tak heran, banyak karyawan kantoran yang tiba di kantor dalam kondisi setengah mengantuk lantaran begadang nontol World Cup. Kalau sudah begitu, kantor biasanya menjadi toleran, “Ya tidak apalah, World Cup toh cuma sekali empat tahun”.

Saya termasuk yang suka nonton juga, tapi saya tidak mampu menahan kantuk kalau pertandingan berlangsung dini hari. Meski keinginan menyaksikan secara langsung masih kuat, tapi panggilan alam untuk tidur lebih kuat dari “panggilan” world cup. Saya beranggapan, kalau mau menyaksikan serunya pertandingan, toh masih bisa nonton siaran ulangan, itupun kalau sempat dan jadwal tidak bentrok.

Menyaksikan tayangan World Cup seperti menyaksikan drama kehidupan. Saat pemain pujaan bermain bagus, penonton dengan antusias memberi dukungan. Berbagai cara dukungan, mulai dari teriakan, nyanyian, pakaian dan berbagai asesoris lainnya. Ketika tim kesayangan kalah, seperti ketika Inggeris keok, banyak yang menangis sesenggukan. Para pendukung tim Inggeris di seluruh dunia menjadi loyo seperti orang linglung.

Semangat dan emosi di aduk-aduk pada perhelatan World Cup. Tidur terganggu, tapi semua seperti tersihir oleh pesta sepakbola sejagat nan meriah. Semangat pemain, semangat penonton, dan semangat penyelenggara sangat tinggi menyambut pesta bolamania.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana semangat dan kekecewaan warga Argentina, kalau nanti tim Argentina sampai tersisih dan tak berhasil masuk final. Begitu juga harapan warga Jerman yang sangat besar untuk menjadi juara lagi.

Yang pasti sejalan dengan waktu, pada tanggal 11 Juli 2010, hanya akan ada satu tim yang akan jadi juara. Setelah itu, kehidupan kembali seperti sediakala, tidur bisa dinikmati dengan nyaman, syukur-syukur semangat World Cup bisa memberi inspirasi untuk kesuksesan kita semua.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s