Antara narsis, personal branding dan personal marketing

Sudah hampir dua minggu ini saya digelitik oleh sebuah billboard yang ada di Jl. Biliton Surabaya. Pada bill board itu terpampang foto sepasang remaja yang sedang berpelukan mesra. Latar belakang foto tergambar situasi sebuah airport dengan papan pengumuman jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat udara. Sebuah tulisan melengkapi board: Wedding of Ronald – Fanny , 11 Juli 2010.

Saya tidak tau persis apa maksud bill board berukuran kurang lebih 10 x 3 meter itu. Apakah billboard itu merupakan sebuah undangan atau pengumuman perkawinan Ronald dan Fanny. Kalau itu sebuah undangan, berarti semua orang yang lewat di Jl. Biliton Surabaya dan melihat bill board itu boleh diundang. Seandainya bill board itu adalah undangan, mestinya ada alamat tempat pesta perkawinan supaya orang bisa hadir. Sayangnya tidak ada informasi tempat (alamat) pelaksanaan perkawinan tersebut. Kalaupun anda ingin datang karena melihat bill board, anda tidak tau akan kemana untuk menghadiri acara perkawinan Ronald-Fanny.

Kalau itu hanya sebuah pengumuman perkawinan, saya jadi geleng-geleng kepala. Apa maksud pengumuman perkawinan dibuat di bill board yang biasanya dipakai untuk reklame raksasa. Sekedar gagah-gagahan atau pamer diri. Boleh jadi pengumuman perkawinan itu adalah ekspresi keinginan kedua orang itu, supaya kalau bisa semua orang Surabaya tau, bahwa keduanya menikah pada 11 Juli 2010.

Narsis barangkali, entahlah. Sulit untuk menilai bill board seperti itu. Karena bill board itu biasanya berisi reklame, semestinya bill board itu biasanya harus membayar sewa dan bayar pajak reklame. Jadi sepasang sejoli itu mesti merogoh kantong untuk pasang pengumuman di bill board reklame.

Sebenarnya sah-sah saja orang narsis dengan memasang foto di bill board. Pada masa kampanye Pilkada atau Pileg, sudut-sudut kota dipenuhi foto-foto calon Kepala Daerah atau calon anggota legislatif. Mereka berlomba-lomba “jual kecap nomor satu” : “Pilih Aku ya di coblosan nanti”. Narsisnya luar biasa. Tapi itu pada saat menjelang Pilkada atau Pemilu.

Sejatinya semua orang punya rasa narsis. Ada yang sangat ekstrim menunjukkan kenarsisannya, ada yang sekedar diam-diam saja. Adapula orang yang kategori “eksibionis habis“. Ingin menunjukkan keberadaan dirinya supaya diperhatikan dan dilihat orang. Konon orang yang membuat video porno mirip Ariel-Luna, adalah eksibionis ekstrim. Ia ingin menunjukkan ketelanjangan dirinya secara berlebihan. (eiiitt, kok sampai ke video porno…)

Sebagian orang menganggap penonjolan diri adalah bagian personal branding atau personal marketing. Yang satu ini tentu maksudnya suatu upaya menampilkan kompetensi dan kemampuan diri. Seseorang harus menunjukkan kemampuan dan keahliannya, agar bisa menjangkau audiens yang lebih luas.

Tapi saya kira gambar bill board ya jauh dari personal marketing. Atau memang tidak jelas batas antara narsis dengan personal branding atau dengan personal marketing. Entahlah, terserah anda saja.

One thought on “Antara narsis, personal branding dan personal marketing

  1. Pak.. andai poto billboardnya diapajang disini..
    mungkin saya jd bisa ikutan nimbrung ngasih opini😀

    TAS: Ya, saya gak sempat bikin fotonya, soalnya lihatnya pas dari mobil, dan boardnya di atas jalan.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s