Ngurus paspor (hari-1), “tak seindah warna aslinya”

Kurang dari 6 bulan lagi, paspor saya akan habis masa berlakunya. Terakhir kali saya gunakan, petugas imigrasi di bandara Juanda Surabaya, sudah mengingatkan saya supaya diperpanjang. Karena itu saya harus memperpanjangnya, supaya bisa digunakan. Sebelumnya, kalau bikin paspor dan memperpanjang, saya minta bantuan orang dari Travel Agent untuk prosesnya. Kali ini saya mau coba mengurus sendiri, selain mengikuti anjuran dan kampanye dari Ditjen Imigrasi sendiri. Saya ingin tau juga berapa lama dan bagaimana lika-liku mengurus paspor.

Sesuai informasi di internet, saya menyiapkan persyaratan mengurus paspor adalah membawa fotocopy KTP dan aslinya, fotocopy Kartu Keluarga dan aslinya, fotocopy Akta Pernikahan dan Aslinya, foto copy ijazah dan aslinya, (saya tidak punya Akte Kelahiran, jadi menggunakan ijazah), serta menyiapkan meterai Rp. 6.000.

Setelah siap, sayapun menuju Kantor Imigrasi Surabaya, yang terletak di Jl. S. Parman Sidoarjo. Kantor ini tidak mempunyai tempat parkir yang cukup untuk melayani customer nya. Tempat parkir yang tersedia, hanya untuk sekitar 20 an mobil. Pagi itu banyak kendaraan yang harus parkir di tepi jalan yang sangat sibuk, sehingga menambah kemacetan poros jalan Sidoarjo-Surabaya.

Di pintu masuk sudah terpampang papan peringatan :
“Jangan melalui Calo, langsung menghubungi petugas di Loket”.
Menurut saya bagus juga pengumuman itu. Di bagian belakang kantor, tempat pelayanan permohonan paspor, tulisan pengumuman seperti di depan ada beberapa buah. Sesuai petunjuk pengumuman, maka saya langsung ruang pelayanan paspor . Di ruangan ini terdapat ruang tunggu yang diisi beberapa deret kursi, didepan ruang tunggu terdapat loket-loket pelayanan. Loket pengajuan permohonan, yaitu Loket-3. Saya menghampiri petugas yang ada di loket-3.
“Mau perpanjang paspor pak”.
“Oh silahkan bapak ke loket informasi dulu”.

Sayapun meninggalkan Loket-3, kembali kebagian luar ruang pelayanan, dimana terdapat loket informasi, yang letaknya terpisah dari loket pelayanan. Di loket informasi, saya menemui petugas disana (ada dua orang).
“Mau perpanjang paspor pak”.
“Silahkan beli map dulu di Koperasi, nanti kembali lagi kesini untuk ambil formulir isian”
.

Di loket Koperasi, yang berada di sebelah mushola, saya beli sebuah map berwarna hijau tua, bertuliskan kantor imigrasi seharga Rp. 10.000,-. Di dalam map tersedia formulir surat permohonan pembuatan paspor dan sampul plastik unutk paspor. Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa map untuk dokumen negara menggunakan map bertuliskan koperasi, dan harus beli senilai Rp. 10.000. Kan harga rata-rata map sekitar Rp. 2.500 – Rp. 3.000.

Kembali ke loket informasi, saya diberi formulir isian untuk permohonan.
“Setelah diisi dan dan dilengkapi persyaratan, bapak ke Loket-3”.
“Fotocopy persayaratan rangkap berapa pak?”
“Sekali saja, tapi ukuran kertas fotocopy harus A4, supaya bisa discan. Bapak fotocopy dulu ke kertas A4”.

Saya menuju ke tempat foto copy yang berdempet dengan koperasi. Disini banyak orang antri untuk fotocopy. Saya coba antri, tapi karena terlalu lama, akhirnya saya putuskan untuk menggunting saja fotocopy yang sudah saya bawa dan menjadikannya hampir seukuran A4.

Kembali ke Loket-3, petugas berkata:
“Silahkan ambil nomor antrian”.
Di mesin nomor antrian, saya tekan tombol, dan keluar nomor A103. Saya melihat jam, sudah menunjuk pukul 09.32, lalu saya lihat monitor pelayanan, sekarang sedang melayani antrian nomor A21. Berarti harus menunggu lebih dari 80 antrian lagi. Sambil mencari tempat duduk, saya menuju papan informasi. Di pengumuman itu dijelaskan, untuk mendapatkan paspor, harus 3 kali datang ke kantor imigrasi. Hari pertama, adalah untuk mengisi formulir dan memasukkan permohonan. Hari kedua untuk pengambilan sidik jari, rekam data bio metrik, foto, membayar biaya dan wawancara. Kedatangan ketiga untuk pengambilan paspor yang sudah selesai. Berarti hari pertama ini saya hanya untuk mengisi formulir, tandatangan dan memasukkan.

Karena saya ada rapat jam 11.00, maka saya minta tolong rekan yang menyopiri tadi (sewaktu datang) untuk menunggu antri memasukkan formulir dan saya kembali kekantor. Sekitar jam 13.20, saya telpon ke rekan yang menunggu, dan diberi tahu kalau antrian masih di nomor 65. Jam 14.55, saya telpon lagi, antrian di nomor 95. Saya jadi membatin dalam hati, apakah Kantor Imigrasi kelas I Sidoarjo hanya mampu melayani 100 customer permohonan pengajuan paspor dari pagi sampai jam 15.00 siang. Rasanya tidak masuk akal.

Saya jadi curiga, jangan-jangan para biro jasa, yang menjadikan pelayanan kantor imigrasi ini jadi lambat. Di ruang tunggu, saya memang melihat ada beberapa orang yang membawa tumpukan map. Ada yang sampai sekitar 20 an map. Rasanya tidak masuk akal, kalau kantor imigrasi Sidoarjo hanya mampu melayani 100 pengajuan permohonan dari jam 09.00 sampai jam 15.00. Kalau dugaan saya benar, berarti ada banyak sekali “biro jasa” (baca calo) yang beroperasi di kantor imigrasi ini.

Ini pengalaman hari pertama, besok saya akan menjalani hari kedua yang mungkin lebih “seru“. Tunggu saja.

One thought on “Ngurus paspor (hari-1), “tak seindah warna aslinya”

  1. Bang, akhirnya berapa total biaya yg dikeluarkan?
    Teman2 saya (lokasi Sidoarjo) jg rencana mo bikin paspor baru.
    Mohon infonya ya? TKs

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s