Workshop Eco2 Cities di Vietnam

Bersama sejumlah pengelola kota di empat negara Asia Timur, Indonesia, Philippina, Laos dan Vietnam, Eco2Cities dibahas bersama di Ho Chi Minh City (HCMC) dari tanggal 7 sampai 9 Juni 2010 lalu.

Surabaya, Jakarta, Palembang dan Yogyakarta menjadi kota-kota peserta pertemuan yang agak teknis itu. Pertemuannya menjadi agak teknis, karena membahas mulai dari filosofi kolaborasi sampai contoh beberapa kota yang dinilai melakukan prinsip Eco2Cities.

Eco2Cities adalah pendekatan untuk mengintegrasikan pembangunan perkotaan yang mensinegikan Ekologi dan Ekonomi. Pendekatan ini sebenarnya bukan barang baru, melainkan kemasan baru yang diharapkan untuk membawa semangat baru bagi para manajer kota. Terutama untuk mengakomodasi isu-isu yang lebih sexy saat ini yaitu perubahan iklim.

Ada empat hal yang ditetapkan sebagai prinsip Eco2Cities. Pertama, program Eco2Cities dilakukan dengan pendekatan “City Based“. Dalam kaitan ini, setiap upaya pembangunan perkotaan harus didasarkan melalui proses “bottom-up“. Pembangunan suatu kota dirancang dengan pendekatan rancangan dari bawah. Di Indonesia, dengan kewenangan otonomi yang sangat besar, hal ini sudah dilakukan. Semua proses penyusunan pembangunan perkotaan dilandasi dengan proses yang bottom-up.

Prinsip kedua adalah kolaborasi. Dalam penyusunan program perkotaan berkelanjutan, kolaborasi mutlak dilakukan untuk mendapatkan dukungan dari semua stakeholder. Prinsip ini sudah lama dilakukan di Indonesia.

Prinsip ketiga adalah “One system approach“. Pada pendekatan ini, diharapkan adanya pelaksanaan pembangunan sebagai satu sistem komprihensif, untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Untuk mendapatkan efisiensi penggunaan sumber daya (terutama sumber daya alam), pembangunan perkotaan diharapkan dapat diintegrasikan dalam sebuah kesatuan system terutama dalam pemanfaatan sumber daya alam seperti air dan enerji.

Salah satu contoh penerapan ”one system approach” adalah dalam suatu kawasan kota yang merancang peanfaatan air secara efisien dengan daur ulang dan diintegrasikan dengan pemanfaatan enerji terbarukan seperti panel surya atau kincir angin. Penerapan ”one system approach” tersebut akan menghemat enerji dan menghemat air untuk keberlanjutan lingkungan dan perkotaan.

Prinsip ke empat adalah Investment framework that values sustainability and resiliency. Pendekatan ini mengkaji secara seksama biaya investasi pembangunan berkelanjutan dengan menghitung dan mempertimbangkan ”operational cost” setelah pembangunan selesai. Dengan kata lain, biaya operasi dan pemeliharaan harus memiliki keberlanjutan sehingga tidak menjadi ”beban” pada masa yang akan datang. Implikasi dari pendekatan ini adalah perencanaan program investasi ditentukan oleh keberlanjutan (sustainability) dari biaya operasi dan pemeliharaan, terutama dalam pemanfaatan sumber daya air dan sumber daya enerji.

Pelaksanaan worksop dilengkapi dengan kunjungan ke lapangan untuk melihat pembangunan sanitasi di kota Ho Chi Minh City. Saat ini sedang dilaksanakan pembangunan sistim sanitasi perkotaan dengan cakupan pelayanan sekitar 3 juta orang (penduduk Ho Chi Minh City seluruhnya sekitar 8 juta orang), dengan pembangunan sistim perpipaan sanitasi dari kawasan permukiman di tengah kota kemudian disalurkan melalui perpipaan untuk diolah di lokasi pengolahan.

Pendekatan Eco2Cities secara umum sudah diterapkan dalam beberapa hal di Indonesia. Sistem pemerintahan perkotaan dengan Otonomi merupakan pendekatan city based approach yang sudah dilaksanakan di Indonesia.

Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh pejabat BAPPENAS merencanakan untuk mengadakan pertemuan lanjutan di Jakarta untuk menetapkan sikap Indonesia tentang kemungkinan kerjasama Eco2Cities dengan pihak the World Bank. Pertemuan direncanakan pada minggu ketiga atau minggu keempat bulan Juni 2010.

Ke empat kota yang mengikuti workshop Eco2Cities, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta dan Palembang, disarankan untuk menyiapkan usulan ”Catalyst Project” dari kota masing-masing yang pada saatnya akan diusulkan untuk mendapatkan bantuan dari the World Bank. Keempat kota tersebut direncanakan akan ditunjuk untuk mempresentasikan usulan Catalyst Project dimaksud pada sebuah workshop nasional yang akan dilaksanakan sekitar bulan September atau Oktober 2010, dengan peserta workshop dari kota-kota lain di Indonesia.

PS. Maaf baru sempat posting, sudah sebulan lebih.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s