Deburan ombak pantai Watu Ulo

Dennis dan Daniel di Pantai Watu Ulo

Karena tidak ada acara khusus di pagi itu, kami tidak tergesa-gesa untuk segera berangkat. Sampai sekitar jam 9 pagi saya masih berbaring-baring di kamar. Daniel dan Dennis juga masih lebih suka berada dibalik selimut.

Mendekati jam 12 siang barulah kami turun dari kamar untuk check-out dari hotel yang cukup asri itu.

Jadi kita keliling dulu untuk lihat Unije ya“, istri saya berkata setelah di dalam mobil.
Ok, kita lihat sebentar, seperti apa kampus Universitas Jember“, saya meyakinkan anak saya Daniel dan Dennis. Mobil pun meluncur ke arah pusat kota Jember.

Sebelum memasuki alun-alun, kami berbelok ke kanan dan kemudian setelah beberapa belokan lainnya, sekitar 10 menit dari pusat kota, kami sudah berada di depan gerbang kampus Universitas Jember.

Pintu masuk Unije mempunyai gerbang yang cukup besar dan bagus. Gerbang ini dirancang seperti plaza, terkesan megah. Memasuki kampus, seperti memasuki suatu area yang luas.Meski kampus cukup luas, keliling kampus tidak terlalu lama, saat itu kampus sepi, maklum hari Minggu siang, jadi relatif tidak banyak kegiatan. Ada juga sejumlah orang yang terlihat berada di beberapa fakultas.

Tidak lama, kami sudah meninggalkan kampus yang cukup sejuk ditumbuhi pepohonan yang cukup besar-besar itu.
Jadi dari sini kita langsung ke pantai ya“, istri saya menegaskan.
“Sip, pingin tau seperti apa sih pantai Selatan Jember”, saya merespon.

Kami meluncur ke arah Lumajang. Sekitar 10 menit dari pusat kota Jember, terdapat persimpangan ke arah Watu Ulo, di tepi jalan sebelum persimpangan terdapat papan petunjuk arah ke Pantai Watu Ulo. Sayangnya tulisan di papan petunjuk itu terlalu kecil dan buram, sehingga tidak terlalu jelas bagi pengendara.

Menyusuri jalan ke arah Selatan menuju Watu Ulo, sepanjang jalan dipenuhi dengan rumah-rumah, meski di beberapa tempat masih diselingi sawah atau lahan tegalan. Menurut rambu penunjuk jalan, Pantai Watu Ulo dicapai setelah kelewati Ambulu, sebuah kecamatan di Kabupaten Jember. Sebelum mencapai Ambulu, terdapat perkebunan tembakau di kiri dan kanan jalan. Tembakau Jember, konon cukup terkenal sebagai tembakau yang bermutu baik.

Beberapa lahan tembakau di kawasan ini ditutupi dengan jaring-jaring untuk menghindari hama. Jaring itu bahkan cukup besar, sampai menutupi lahan yang luasnya beberapa hektar. Tentu saja dengan menggunakan jaring, biaya produksi tembakau akan semakin besar. Tapi hal itu mungkin terpaksa dilakukan daripada gagal panen karena dimangsa hama tembakau.

Melewati pasar kecamatan Ambulu, lebar jalan semakin mengecil. Tidak banyak lagi kendaraan yang lalu lalang di jalan ke arah Watu Ulo. Kendaraan yang melintas didominasi oleh sepeda motor roda dua.

Setelah menempuh kurang lebih 50 menit dari pusat kota Jember, tibalah kami di kawasan pantai Watu Ulo. Di pintu masuk terdapat bangunan kecil tempat beberapa orang duduk dan kemudian menghentikan kendaraan. Setiap kendaraan dan pengunjung yang masuk ke kawasan pantai harus membayar.

Pantai Watu Ulo, dikelola sangat sederhana, tempat parkir seadanya di jalan makadam dan berpasir. Ketika kami tiba, hanya ada sekitar 10 mobil yang parkir. Ada sebuah “gazebo” sederhana yang berukuran sekitar 5 x 5 meter, dimana orang bisa berteduh. Disekitarnya terdapat beberapa warung yang menawarkan berbagai macam makanan.

Begitu keluar dari mobil, Daniel dan Dennis langsung menghambur ke dataran pasir di tepi pantai. Mereka disambut deburan ombak yang mengulung-gulung cukup besar. Saya sudah memperingatkan agar tidak bermain di air laut terlalu jauh, karena ombak pantai Selatan ini cukup berbahaya. Di sepanjang pantai sudah dipasang peringatan untuk tidak mandi dan tidak berenang.

Di bagian Barat gazebo, terdapat bukit karang, karena benturan ombak ke bukit karang, suara air menggemuruh yang bisa terdengar cukup jauh. Ombak pantai Watu Ulo cukup besar, tinggi ombaknya melebihi ombak pantai Kuta di Bali. Sehingga terlalu berbahaya untuk berenang. Pantai ini hanya untuk dinikmati keindahan dan deburan suara ombaknya.

Deburan ombak di Watu Ulo

Ke arah Timur gazebo, hamparan pasir pantai hampir sekita 2 kilometer, landai dan masih bersih, asri. Dipinggir pantai terdapat pohon-pohon yang bisa dijadikan tempat berteduh. Disini pengunjung dapat berjalan santai, selama tidak sampai masuk ke air laut.

Sayangnya pantai ini belum dikelola dan dipasarkan dengan baik. Itu menurut dugaan saya, karena pada hari Minggu seperti ketika kami datang, tidak banyak pengunjungnya. Padahal, keindahan pantai karang Watu Ulo cukup eksotik untuk dijelajahi. Daerah ini mempunyai potensi yang bagus sebagai destinasi pariwisata.

Daniel dengan latar belakang batu karang Watu Ulo


Pantai Watu Ulo berjarak tempuh 50 menit dari Kota Jember. Silahkan berkunjung kesana. Anda akan mendapati pengalaman tersendiri. Jelajahi pantai Selatan Jawa di Watu Ulo.

One thought on “Deburan ombak pantai Watu Ulo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s