Jangan (terlalu) percaya pada tele marketing

Sebenarnya saya sudah tidak ingin menerima telepon yang nomornya tidak terdaftar di memori handset. Karena terlalu sering menerima telepon yang “mengganggu“, saya memutuskan tidak mau mengangkat, kalau nomor telepon tidak terdaftar di memori. Saya beranggapan, kalau penelepon memang merasa penting untuk bicara dengan saya, tentu dia akan meninggalkan pesan teks melalui sms atau teks lainnya.

Telepon yang mengganggu itu ada yang promosi barang, kartu kredit, bisnis saham, asuransi dan promosi lainnya. Telepon itu sering tidak kenal waktu, siang, sore bahkan malam hari. Kadang-kadang ketika ada acara penting dan kegiatan lainnya. Ada juga telepon yang memang mau mengganggu dengan ancaman dari pihak-pihak tertentu. Itulah sebabnya saya sangat jarang menerima penelepon tidak dikenal.

Tapi kalau nomornya berasal dari fixed-phone, kadang-kadang saya terima juga. Apalagi kalau telepon itu bernomor kode area Jakarta. Saya punya keluarga dan teman di Jakarta, kalau mereka menelepon, dan tidak saya angkat, jangan-jangan ada yang penting mau disampaikan. Jadi saya tidak 100 persen menolak telepon tidak dikenal.

Minggu lalu di suatu sore, sebuah nomor Jakarta muncul di layar handset saya. Ya itu, kuatir telepon dari kerabat, atau keluarga, maka akhirnya saya terima.
“Selamat sore Pak, maaf bisa bicara sebentar“.
“Sore, dari mana ya?” tanya saya.
“Saya Lita dari Bank ****”, dia (menyebut salah satu bank penerbit kartu kredit saya.
“Maaf pak, kartu kredit bapak masih aktif kan?”…..
Mulailah si Lita (atau siapapun nama aslinya), nyerocos tentang keuntungan yang bisa didapat kalau ikut program yang ditawarkannya.

Saya tidak berminat terhadap produk yang ditawarkan, tapi karena jengkel, saya biarkan dia bicara berlama-lama. Saya pikir biar dia habiskan pulsanya untuk sesuatu yang tidak akan saya mau. Akhirnya dia bertanya:
“Jadi gimana pak, apakah bapak setuju ikut program ini, kalau bapak setuju kami akan segera mengaktifkan untuk autodebet dari kartu bapak”.
“Saya tidak akan menyetujui apapun, sebelum saya lihat dokumen tertulis tentang produk itu dan syarat-syaratnya”.
“Oh, ini telemarketing pak, jadi dokumennya, nanti dikirim ke alamat bapak setelah bapak menyetujuinya”
.
“Maka itu, saya tidak menyetujui apapun kalau tidak ada penawaran tertulis“.
“Terimakasih ya pak….” telepon kemudian diputus.

Telemarketing melalui telepon, sangat riskan. Bisa jadi akan sangat merugikan konsumen. Dengan syarat tertulis saja, konsumen sering menjadi pihak yang lemah. Syarat-syarat tertulis pun, sering kali banyak yang menyesatkan konsumen. Apalagi kalau hanya berdasarkan penjelasan di telepon. Karena itu saya tidak pernah mau ditawari sesuatu produk melalui pembicaraan telepon.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s