We wish you have a pleasant flight (1)

“We wish you have a pleasant flight”. Itulah kalimat yang sering terdengar dari suara pramugari ketika pesawat siap lepas landas. Di penerbangan domestik, kalimat itu sering di bahasa Indonesiakan menjadi: “Kami berharap anda menikmati penerbangan ini”.

Tentu ada perbedaan yang sangat mendasar dari dua kalimat “We WISH you have a pleasant flight”, dengan “Kami berharap anda menikmati penerbangan ini”. Guru bahasa Inggeris saya bilang, kalau pakai kata WISH, itu berarti yang mengucapkan tidak tau apakah kalimat yang diucapkan akan terjadi atau tidak.

Jadi dalam kalimat “We WISH you have a pleasant flight”, si pramugari tidak pernah tau apakah penerbangan itu akan menyenangkan atau tidak. Si pramugari hanya berandai-andai bahwa penerbangan itu akan menyenangkan.

Dalam kenyataan yang sebenarnya, seorang pramugari atau bahkan pilot, tidak pernah tau apakah penerbangan mereka akan menyenangkan atau tidak. Ketika akan mulai bertugas terbang, awak pesawat tidak tau seperti apa yang akan mereka hadapi dalam penerbangan itu. Pilot mengetahui segala informasi penerbangan, setelah dia berada di kokpit. Tentu ia tau tujuan penerbangan yang akan ditempuh. Informasi tentang cuaca, iklim selama penerbangan dan di tempat tujuan, barulah diperoleh setelah pilot berada dalam kokpit.

Di rute penerbangan bisa saja ada awan tebal, hujan atau badai yang menghadang. Dalam kondisi cuaca yang baik, tentu saja tidak ada yang perlu dirisaukan. Tapi dimusim dan kondisi cuaca yang tidak menentu, situasi tidak terduga bisa saja terjadi.

***
Ketika berjalan menuju tangga pesawat di Bandara Minangkabau, Padang rabu lalu (25/8), angin bertiup cukup kencang. Penumpang yang duduk dibagian belakang diminta masuk melalui tangga, sementara penumpang bagian depan masuk melalui “rampway“. Karena saya duduk dibagian belakang, saya ikut naik melalui tangga, sehingga tiupan angin bisa saya rasakan. Gerimis mulai turun, sementara awan tebal bergerak di langit.

Setelah duduk, saya memperhatikan ke luar jendela, awan masih menggantung di atas bandara Minangkabau. Saya mulai merasa kurang nyaman dengan penerbangan ini. Jadi ketika pramugari mengatakan “We wish you have a pleasant flight”, saya tak menghiraukan ucapan itu. Kalimat itu tak berarti apa-apa buat saya.

Penerbangan JT- akan membawa saya ke Jakarta, untuk kemudian transfer dengan JT-580 ke Surabaya. Mesin pesawat meraung ditengah gerimis saat lepas landas. Getaran pesawat membuat saya harus berpegangan pada lengan kursi. Dalam keadaan menuju ketinggian, dan dengan kondisi langit berawan, menjadikan pesawat mengalami guncangan-guncangan. Saya berdoa dalam hati:
Tuhan, lindungi kami dalam penerbangan ini...”.
“We wish we have a pleasant flight”.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s