We wish you have a pleasant flight (2)

Sudah menjadi standar pelayanan bagi crew pesawat udara untuk menyatakan keinginan pelayanan yang terbaik bagi penumpang. Hal itu dibuktikan dengan ucapan standar pramugari ketika hendak lepas landas: “We wish you have a pleasant flight. If there is any we can do to make your flight comfortable, please let us know”.

Jujur saja, saya tidak terlalu meyakini apa yang diucapkan oleh sang pramugari (kadang-kadang audio itu berupa rekaman yang diputar), seperti yang diutarakan diatas. Sering kali, pengumuman pramugari tidak menyatakan kondisi yang sesungguhnya. Contoh sederhana saja, kalau ada kerusakan teknis pesawat yang menyebabkan pesawat menunda keberangkatan, maka pramugari akan memberi pengumuman:
“Maaf, penerbangan mengalami keterlambatan karena alasan operasional”.
Padahal bisa saja keterlambatan karena ada kerusakan pada pesawat, dan ada yang harus segera diperbaiki.

Penumpang tidak akan pernah diberitahu kalau keterlambatan pemberangkatan karena alasan teknis. Sebenarnya hal itu adalah lumrah dalam bisnis penerbangan. Sebab, kalau saja penumpang diberitahu bahwa pesawat baru saja mengalami perbaikan, hal itu bisa menimbulkan kepanikan pada penumpang.

Jadi sebagai penumpang, kita seringkali tidak diberi tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam suatu penerbangan. Istilahnya, penumpang harus “pasrah bongkok” kepada maskapai penerbangan. Dalam iklim persaingan penerbangan yang ketat, bila tidak diimbangi dengan pengawasan yang baik, seringkali faktor keselamatan menjadi berkurang. Kesalahan kecil bisa terabaikan. Padahal dalam dunia penerbangan, kelalaian kecil saja berakibat fatal pada keselamatan.

***
Beberapa waktu belakangan ini saya sering menyaksikan program “Air Crash Investigation”. Program di saluran TV ini menggambarkan hasil-hasil penyelidikan kecelakaan pesawat terbang. Dalam tayangannya, digambarkan detik-detik menjelang terjadinya kecelakaan. Suasana ketegangan di dalam pesawat, baik pilot, pramugari maupun penumpang.

Dalam tayangan “Air Crash Investigation” (ACI), suasana ketegangan yang terjadi divisualkan sedemikian rupa, gambaran orang-orang yang sedang menghadapi detik-detik maut. Suasana dalam program ACI sangat menegangkan dan mengerikan. Meski pramugari berusaha menenangkan penumpang, tapi digambarkan suasana kepanikan yang terjadi sampai ledakan atau kejatuhan pesawat.

Kalau menyaksikan program ACI, kecelakaan pesawat bisa saja terjadi hanya karena kelalaian yang kecil. Penyebab kecelakaan bisa karena kelalaian teknis kecil, bisa karena hambatan psikologis kecil awak pesawat, dan berbagai hal-hal yang terabaikan secara sepele. Tapi kelalaian kecil mengakibatkan tewasnya puluhan bahkan ratusan orang. Berikut contoh kecil kelalaian yang mengakibatkan jatuhnya pesawat dan menewaskan penumpangnya.

Suatu ketika, sebuah pesawat penumpang berbadan lebar jatuh di Amerika Selatan. Seluruh penumpang dan awak pesawat tewas. Komite Keselamatan Transportasi Amerika melakukan penyelidikan yang seksama. Berbagai temuan di lokasi kecelakaan dan informasi dari berbagai sumber dikumpulkan. Ada informasi sebelum pesawat terbang, data kondisi pesawat, keadaan cuaca, informasi dari bandara dan informasi lainnya.

Setelah penyelidikan yang panjang, Komite Keselamatan Transportasi berkeyakinan bahwa kondisi pesawat sangat prima, awak pesawat adalah orang-orang terlatih. Komite menemukan bahwa pilot mengikuti informasi yang salah dari peralatan komputer pesawat. Berbagai percakapan kokpit menunjukkan bahwa pilot menindaklanjuti informasi yang tidak benar. Indikator kecepatan pesawat menunjukkan bahwa kecepatan pesawat terlalu rendah saat akan menjelang pendaratan. Dalam kenyataannya, kecepatan pesawat masih cukup tinggi.

Akibat kesalahan informasi itu, pilot keliru dalam persiapan pendaratan. Air Traffic Controler (ATC) melalui radar sudah bisa melihat bahwa kecepatan pesawat terlalu tinggi, dan sudah memerintahkan untuk mengurangi kecepatan. Tapi pilot percaya pada indikator di kokpit, dan baru menyadari setelah semua terlambat. Pesawat jatuh pada saat akan mendarat.

Penyelidikan menemukan informasi bahwa sebelumnya pesawat “tidak digunakan” cukup lama, sekitar 21 hari. Jadi selama itu pesawat parkir di bandara, yang berada dikawasan banyak binatang serangga.

Sejenis tawon yang membuat sarang dari bahan tanah diduga menjadi penyebab kecelakaan pesawat. Karena parkir cukup lama, serangga dikawasan bandara sejenis tawon diduga membuat sarang di pesawat, tepat pada salah satu lobang kecil peralatan sensor pesawat. Sarang yang terbuat dari tanah itu telah menutupi alat sensor, sehingga sensor tidak berfungsi dengan baik. Dalam persiapan penerbangan, sensor kecil yang tertutup sarang tawon, tidak teramati oleh petugas. Informasi dari sensor itulah yang kemudian secara salah terbaca di kokpit. Dan akibatnya pesawat jatuh.

Banyak contoh-contoh kelalaian kecil yang mengakibatkan kecelakaan pesawat. Ada kecelakaan yang diakibatkan karena adanya alat sebesar peniti yang tidak terpasang sempurna, dan mengakibatkan jatuhnya pesawat. Ada juga pesawat jatuh karena pilot yang secara psikologis mengalami kejenuhan terbang.

Kalau menyaksikan program ACI di televisi, saya sering menjadi tidak berani naik pesawat terbang. Saya sering tegang di pesawat, kuatir, kalau ada apa-apa dengan penerbangan.

Pertanyaan:
1. Perlukan kita menyaksikan program televisi “Air Crash Investigation”, agar kita lebih siap menjadi penumpang.
2. Bagaimana hak-hak konsumen penumpang penerbangan untuk mengetahui informasi yang sesungguhnya tentang penerbangannya.
3. Apakah ada aturan yang membenarkan awak pesawat tidak memberi tahu penumpang tentang kondisi pesawat yang kurang prima.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s