Ijin untuk Rumah Tuhan

Sebagai salah seorang jemaat HKBP, saya sangat prihatin mengikuti penganiayaan terhadap HKBP Ciketing, Bekasi Timur.  Berbagai perasaan bercampur baur, sedih, geram, dan tak habis pikir. Mengapa hal seperti itu masih saja berlangsung. Apalagi menyaksikan berbagai tanggapan dari berbagai pihak tentang peristiwa HKBP Ciketing  Bekasi Timur.

Penusukan dan penganiayaan terhadap pendeta, sintua dan jemaat HKBP Ciketing Bekasi adalah salah satu puncak dari persoalan proses pendirian rumah ibadah di negeri Indonesia ini.

Wajah garang dihadapi senyum lembut Pendeta HKBP Bekasi Timur, Polisi itu ngapain aja ya ??

Peristiwa penusukan di Ciketing Bekasi bukanlah sebuah kriminal biasa. Itu adalah hasil dari ketidak konsistenan sistem negara, terutama dalam hal perijinan rumah ibadah. Kejadian di Ciketing adalah yang kesekian kali terjadi.

Sejatinya pendirian rumah ibadah adalah hak azazi umat beragama. Ulil Abshar Abdala, tokoh Islam Liberal berpendapat bahwa beribadah dan mendirikan rumah ibadah adalah hak asasi manusia. “Menurut Ulil, pendirian tempat ibadah adalah hak setiap warga negara. Oleh karena itu, aturan yang menyatakan larangan rumah pribadi untuk dijadikan tempat ibadah adalah suatu hal yang keliru. “Aturan rumah pribadi dilarang dijadikan tempat ibadah itu bertentangan. Harusnya aturan itu direvisi, seharusnya tiap orang beribadah dimana pun adalah haknya,” tandas Ulil”.

Apalagi rumah ibadah dianggap dan dipandang sebagai Rumah Tuhan. Dari segi pemahaman spiritual, Pendirian Rumah Tuhan  mestinya tidak perlu diatur negara. Pemikiran ini sangat logis, apalagi Undang-Undang Dasar 1945 (amandemen tahun 2000)  juga mendukung pemikiran ini. Tapi aturan teknis malahan mengebiri UUD 1945.  Pusat Studi Budaya dan Agama Universitas Gadjah Mada Yogyakarta bahkan melihat Peraturan Bersama (PBM) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tentang rumah ibadah sudah tidak mendukung tujuan PBM itu sendiri.

…. “PBM sesungguhnya tidak hanya mengatur masalah perizinan tempat ibadah. Tapi juga berbicara dalam kerangka yang lebih luas mengenai penjagaan kerukunan beragama dan peran kepala daerah untuk tujuan itu”.

Peraturan Bersama Menteri (PBM) Agama dan menteri Dalam Negeri, mestinya mempermudah orang dan ummat untuk melaksanakan ibadah. Pendirian bangunan rumah ibadah semestinya disamakan saja seperti peraturan mendirikan bangunan fasilitas umum lainnya seperti rumah sakit, sekolah atau fasilitas umum lain.

Kemudian disamping ijin mendirikan bangunan, maka pengoperasian rumah ibadah diatur dalam suatu ijin operasional rumah ibadah. Dalam ijin operasional inilah diatur hal-hal yang menyangkut pelaksanaan ibadah sampai kepada masalah ketertiban dan gangguan yang mungkin timbul ke lingkungan sekitar.

Bila pelaksanaan ibadah ummat disuatu tempat, merusak, atau mengganggu ummat lainnya, maka itulah yang perlu dilakukan tindakan hukum. Ijin operasional rumah ibadah perlu diatur dengan suatu Peraturan Presiden. Peraturan Menteri Agama tidak cukup kuat untuk mengatur, Peraturan Presiden mempunyai kekuatan hukum yang lebih kuat.

Substansi ijin operasional rumah ibadah adalah untuk memberikan kepastian agar ibadah sekelompok ummat tidak mengganggu ummat lainnya. Kriteria gangguan harus terdefinisi dengan jelas dan tidak mengandung multi tafsir. Sehingga aturan itu tidak bisa dipelintir untuk kepentingan sekelompok orang.

PBM yang sekarang, (PBM No 8 dan 9 Tahun 2006) jelas mempunyai kelemahan disana-sini dan tidak sejalan dengan semangat UUD 1945, juga bertentangan dengan Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM. Karena itu menjadi kewajiban Presiden dan seluruh bangsa Indonesia untuk mengevaluasi perijinan rumah ibadah.

Pertama agar tercipta kerukunan umat beragama, kedua, agar terdapat konsistensi antar peraturan perundang-undangan.

Bila Presiden tidak cepat melakukan tindakan, maka  tidak berlebihan kalau kemudian banyak orang berpendapat :

Di  Indonesia, lebih mudah mendirikan rumah bordil daripada mendirikan Rumah Tuhan”.

Pendapat ini sangat menyakitkan, tapi banyak fakta mendukung hal itu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s