Money vote untuk curi juara reality show

Tadi malam inbox saya kemasukan pesan singkat (sms) yang isinya agar mendukung salah satu peserta talent scout di salah satu stasiun televisi.  “Jangan lupa dukung si Polan dan Si Anu. Ketik xxx Polan dan xxx Anu kirim ke xxxx”. Ini bukan yang pertama kali sms seperti itu dikirimkan kepada saya. Intinya agar mendukung si Polan dalam acara reality show stasiun televisi karena si Polan adalah warga kota yang membutuhkan dukungan sms agar menjadi juara.

Meski sudah beberapa kali dimintai dukungan seperti itu, belum sekalipun saya mengirimkan sms sebagaimana yang diminta. Persoalannya bukan karena saya tidak mau mendukung si Polan menjadi juara, tapi terlebih karena acara itu cuma akal-akalan pengelola reality show untuk mencari keuntungan dengan cara-cara yang menurut saya tidak jujur.

Sejak beberapa waktu lalu sejumlah stasiun televisi menayangkan program reality show untuk mencari orang-orang yang punya bakat bagus. Mereka yang ikut mendaftar diiming-imingi akan menjadi artis televisi dan dapat banyak uang. Karena itu pesertanya biasanya sangat banyak, membludak. Audisi dilakukan dibeberapa kota.

Sayangnya proses seleksinya, ternyata tak seindah seperti yang terlihat di tayangan TV. Menurut sejumlah koran dan tabloid, mereka yang ikut harus mengeluarkan uang yang sangat besar agar bisa melewati babak-babak eliminasi. Uang itu adalah untuk mengejar jumlah sms pendukung. Sanak keluarga, famili dan kerabat diarahkan untuk mengirimkan sms pendukung. Biasanya orang tua pesertalah yang habis-habisan kirim sms agar anak atau keluarganya bisa bertahan di reality show. Ada yang harus menjual harta benda agar bisa bertahan di babak grand final.

Pengelola reality show tau betul bahwa banyak orang yang ingin jadi bintang, karena itu mereka merancang program untuk meraup uang dari peserta yang bisa masuk ke babak akhir. Babak grand final pun diulur-ulur agar semakin banyak sms premium yang didapat.

Saya sangat prihatin dengan akal-akalan pengelola reality show. Mereka mengeruk keuntungan, tapi peserta (dan keluarga) harus merogoh kantong dalam-dalam agar bertahan. Acara reality show semacam ini meniru reality show dari luar negeri. Reality show di luar negeri agaknya lebih bermartabat, karena mereka menerapkan prinsip popular-vote, dimana satu suara untuk satu nomor telepon. Dalam popular vote, seseorang tidak bisa mengirim lebih dari satu sms (vote) dari satu nomor telepon yang sama.  Sehingga hasil dari popular vote bisa lebih obyektif.

Akan halnya di Indonesia, pengelola reality show menerapkan prinsip money vote. Disini anda bisa mengirim banyak sms dari satu nomor telepon HP yang sama. Jadi satu orang bisa mengirim sms tidak terbatas dari satu nomor HP. Pengelola menghitung semua jumlah sms tersebut untuk menentukan ranking dan juara peserta reality show. Sistim inilah yang saya nilai tidak obyektif, tidak jujur dan penuh akal-akalan.

Kasihan sekali masyarakat kita dibawa ke sistim akal-akalan seperti itu. Tidak disadari, ini lah salah satu trik mengakali (baca: menipu) orang dengan iming-iming menjadi juara reality show. Saya tidak tau apakah penipuan semacam ini bisa dituntut secara hukum.

One thought on “Money vote untuk curi juara reality show

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s