Bakteri menjadi sumber bahan bakar masa depan

Bahan bakar fossil akan segera menipis karena tidak dapat diperbarui. Sejumlah ahli terus berupaya mencari pengganti bahan bakar fossil. Penelitian untuk mencari enerji terbarukan, tidak saja untuk antisipasi menipisnya cadangan bahan bakar fossil, tetapi juga untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang semakin mengkhawatirkan. Saat ini sedang dikembangkan bakteri sebagai sumber bahan bakar dengan menggunakan sellulosa sebagai media hidup bakteri.

Dua orang ahli dari University of Manitoba, Canada sedang mengembangkan penelitian untuk menggunakan bakteri sebagai bahan bakar (biofuel). Prof Richard Sparling dan Prof. David Levin, meneliti pengembangan bakteri yang digunakan mengubah bahan-bahan sellulosa seperti kayu, limbah pertanian untuk menjadi etanol.

Prof. Sparling mengatakan, bahwa ide dari penelitian tersebut berasal dari kerisauannya atas menumpuknya cangkir kertas setiap hari di kampusnya. Di University of Manitoba, ada 4 outlet Tim Horton (warung kopi ala Canada) yang setiap hari menyisakan tumpukan cangkir kertas.

Prof. Sparling  memperhatikan bahwa meski cangkir kertas bisa didaur ulang, tapi sebagian besar cangkir kertas itu tidak dimanfaatkan dengan maksimal. “Mengapa cangkir-cangkir itu tidak digunakan sebagai media untuk pertumbuhan bakteri”, pikirnya. Ide sederhana itulah yang kemudian diwujudkan menjadi penelitian mendalam dan serius. Hasilnya sangat menggembirakan.

Kemajuan yang didapatkan kedua peneliti itu sudah mengindikasikan bahwa bahan-bahan sellulosa akan menjadi pilihan sebagai bahan etanol, ketimbang jagung (di Amerika dan Canada), tebu di Brazil (serta kelapa sawit di Indonesia). Penggunaan jagung sebagai sumber etanol menuai banyak kontroversi, karena jagung dimaksudkan juga sebagai sumber bahan pangan.

Penelitian Prof. Sparling dan Prof. Levin dimulai tahun 2009. Mereka sudah mendapatkan dana lebih dari 10 juta Dollar yang akan digunakan selama 4 tahun penelitian itu. Untuk sampai mendapatkan bakteri sebagai sumber bahan bakar secara komersial, masih dibutuhkan beberapa tahun lagi. Tapi hasil dari Canada ini memberikan harapan baru untuk cadangan enerji masa depan.

***

Sebagai salah seorang alumni dari University of Manitoba (UoM), saya merasa ikut bangga, bahwa UoM menjadi yang terdepan dalam pengembangan enerji terbarukan. Saya jadi teringat Professor pembimbing saya dulu bernama Prof. AB Sparling. Jangan-jangan Prof Richard Sparling masih ada hubungan keluarga dengan Prof. AB Sparling, dosen pembimbing saya. Bisa jadi Richard adalah anaknya, soalnya wajahnya mirip, dan Prof. AB Sparling, sudah hampir pensiun ketika saya kuliah disana tahun 1992.

Yang agak menjadi pertanyaan saya ialah bahwa Prof. Richard Sparling mengatakan bahwa bakteri yang dikembangkan dari cangkir kertas eks Tim Horton lebih sesuai daripada cangkir kertas eks Starbucks. Ada-ada saja, bakteri Canada bisa memilih produk Canada ketimbang produk USA.

***

Informasi lanjutan bisa klik disini,  disini,  dan cangkir kertas bekas jadi biofuel .

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s