Rencana tol tengah kota Surabaya masuk domain politik

Setidaknya ada dua koran Surabaya pagi ini (08/10) yang memuat rencana jalan tol tengah kota di halaman muka. Harian Seputar Indonesia memuat pernyataan Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat, yang mendukung rencana pembangunan jalan tol tengah kota. Sementara Harian Jawa Pos, selain memuat pernyataan Anas Urbaningrum, juga memuat pernyataan Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Ir. Sunartoyo yang menentang pembangunan jalan tol tengah kota Surabaya.

Kedua politisi memberikan alasan untuk mendukung pernyataan masing-masing. Opini kedua politisi itu merupakan serangkaian opini yang berkembang di Surabaya dalam dua bulan terakhir tentang pro dan kontra rencana pembangunan jalan tol tengah kota Surabaya. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dalam berbagai kesempatan (yang saya baca di beberapa koran), mengatakan bahwa jalan tol tengah kota sudah tidak sesuai dengan kebutuhan kota Surabaya saat ini. Pemerintah kota Surabaya akan menghilangkan tol tengah kota dari RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) kota Surabaya.

Sementara Pemerintah Propinsi Jawa Timur beranggapan bahwa jalan tol tengah kota merupakan solusi untuk transportasi Surabaya. Dan tol tengah kota sudah menjadi bagian dari sistim jaringan jalan tol pulau Jawa.

Polemik pembangunan tol tengah kota Surabaya sudah berlangsung lama. Sebagaimana diketahui, Pemerintah Pusat (sesuai kewenangannya) sudah menunjuk investor untuk tol tengah kota Surabaya sejak jaman Orde Baru (sekitar tahun 1996). Investor grup Bimantara ditetapkan sebagai pemegang konsesi jalan tol tengah Surabaya. Penetapan itu dilakukan melalui proses penunjukan langsung. Siapa juga tau, pada masa itu kalau grup Bimantara menginginkan sesuatu, tentu tidak ada yang berani menolak.

Kondisi transportasi kota Surabaya pada tahun 1990 an dengan saat ini tentu sudah sangat berbeda. Jadi sangat beralasan, kalau rencana pembangunan jalan tol itu harus dikaji secara menyeluruh dan transparan. Alasan untuk menyetujui atau menolak suatu rencana pembangunan harus didasari oleh kajian dan pertimbangan yang transparan dan secara teknis bisa dipertanggungjawabkan. Jangan sampai solusi yang diambil justru menjadikan kemacetan kota yang semakin parah.

Saya beranggapan, bahwa pembangunan jalan tol tengah kota Surabaya harus dilihat secara utuh, lengkap, komprihensif dan dengan kajian aspek yang yang bisa dipertanggungjawabkan.   Kondisi kota saat ini menjadi pertimbangan utama dalam menentukan apakah suatu rencana masif seperti jalan tol di tengah kota Surabaya masih diperlukan atau tidak.

Dari beberapa referensi yang pernah saya baca, pengalaman di kota-kota besar dunia, jalan tol tengah kota tidak pernah menyelesaikan persoalan transportasi kota secara menyeluruh.  Jalan tol Gatot Subroto di Jakarta misalnya, setelah beberapa tahun, justru menjadi macet dan sudah tidak sesuai lagi dengan ketentuan spesifikasi jalan tol yang sebenarnya.

Walikota Seoul di Korea bahkan merubuhkan jalan layang tol di tengah kota Seoul dan menggantikannnya dengan taman dan sungai yang menjadi kebutuhan kota. Keputusan Walikota Seoul, yang kemudian terpilih menjadi Presiden Korea Selatan, justru disambut banyak pihak dan diapresiasi di seluruh dunia.

Kembali ke jalan tol tengah Surabaya, kalau sekarang perdebatan sudah melebar sampai komoditas para politisi, bisa-bisa persoalannya malah menjadi tambah rumit. Saya kira biarlah keputusan untuk meneruskan atau membatalkan rencana pembangunan jalan tol, jangan terlalu diintervensi oleh kepentingan politik. Biarlah petimbangan penataan kota yang komprihensif yang lebih diutamakan ketimbang alasan-alasan non teknis.

10 thoughts on “Rencana tol tengah kota Surabaya masuk domain politik

  1. iya pak, kalo sudah urusan politik yang lebih dominan, mau teori dan fakta seperti apa pun gak bakalan masuk, terima kasih pak, jadi agak2 ngeh masalah tol tengah kota surabaya yang heboh ini

    Like

  2. sekarang bagaimana caranya dalam mencerdaskan (membuat lebih cerdas lagi) bapak2 DPRD dan pihak lain yang pro Jalan Tol Tengah Kota??? menjadi tanggung jawab kita bersama, pak. Saya juga pihak akademisi. salam.
    -Mahasiswa Planologi ITS-

    Like

  3. isu yang berkembang selama ini memang sangat kental dengan aroma politik praktis. wisnu wardana ketika didemo oleh para akademisi bahkan menyatakan alasan mengapa tol tengah diterima, tidak lain hanya karena ibarat surabaya dikasih emas 9 trilyun, masa ditolak?

    ketika dipaparkan alasan penolakan malah langsung emosional, bahkan adies kadir waktu itu mengusir paksa pendemo yang berusaha interupsi

    warga surabaya menggugat, tolak tol tengah!

    Like

  4. Wah, semakin miris. Yang setuju dengan tol tengah Surabaya argumennya kok njelehi banget ya…
    Saya kok terinspirasi dengan gerakan menggalang massa bakal mampu mengalahkan sang penguasa, yang sebentar lagi ketok palu…dhog…dhog…dhog…, yang akan menghancurkan kenyamanan dan keindahan kota Surabaya yang hari ini nyata-nyata telah kita rasakan.
    Maka saya sengaja bikin blog untuk mengumpulkan massa yang menolak pembangunan Tol Tengah Surabaya (=penghancuran kenyamanan dan keindahan Surabaya) di http://www.toltengahsurabaya@blogspot.com.
    Silahkan berkunjung dan buktikan jumlah massa yang menolak sangat buanyak….monggo

    Like

  5. Pingback: Jawa Timur I (Kota Surabaya, Kab Sidoarjo) | Litsus Caleg DPR 2014

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s