Yang tua yang bahagia

Yang tua yang bahagia. Entah karena sudah berumur kepala lima, judul diatas menjadi menarik bagi saya, setelah secara kebetulan saya baca artikel tentang kecenderungan orang yang semakin berumur di situs Stanford University di California. Hasil penelitian terbaru membuktikan bahwa semakin tua seseorang maka ia semakin bahagia.

Saya memang sudah beberapa kali membuat “permenungan kecil-kecilan”, bahwa saya sudah semakin berumur (bahasa terangnya semakin tua, atau bahkan sebenarnya semakin uzur). Terpikir akan bagaimana hidup setelah umur melewati lima puluh, lalu setelah pensiun akan berbuat apa.  “Ngapain ya enaknya setelah umur double five”. Pemikiran-pemikiran itu mulai terlintas dibenak saya.

Dikala membuat permenungan kecil-kecilan itu, sejujurnya kadang timbul kegamangan. Tapi saya cepat-cepat mengatakan pada diri sendiri: “Every body has to be old, why bother!. No matter how we face it, growing older will be there”.  Dengan peringatan dini pada diri sendiri itu, biasanya, kegamangan akan sirna.

Sebuah penelitian membuktikan bahwa semakin tua seseorang, maka ia cenderung semakin bahagia. Kesimpulan itu diungkapkan oleh Prof.  Laura Carstensen, dari Stanford University, Amerika.

Laura Carstensen, seorang Professor dalam bidang psikologi, juga  merupakan direktur dari the Stanford Center on Longevity. Lembaga penelitian ini memfokuskan riset tentang para senior (lanjut usia). Profesor yang saat ini berusia 56 tahun mengatakan bahwa diusianya sekarang ia merasa lebih bahagia dari pada waktu-waktu sebelumnya. Foto dibawah ini adalah Prof. Laura Carstensen. Di usia 56, memang sudah terlihat guratan di wajahnya, tapi aura wajahnya mencerminkan happiness.

Prof. Carstensen melakukan penelitian selama kurang lebih 8 tahun dari tahun 1993 sampai 2005 terhadap 180 orang yang berumur antara 18 sampai 94 tahun. Penelitian yang dilakukan di Amerika itu termasuk penelitian yang paling lama dalam mengamati perilaku dan kondisi psikologis manusia.

Laura Carstensen dan timnya menemukan bahwa semakin senior (tua) seseorang, kondisi emosinya semakin stabil. Karena itu mereka berkesimpulan bahwa semakin senior seseorang, produktivitasnya kehidupannya juga semakin baik, dan membawa manfaat yang lebih baik pula.

“As people get older, they’re more aware of mortality,” researcher Laura Carstensen said. “So when they see or experience moments of wonderful things, that often comes with the realization that life is fragile and will come to an end. But that’s a good thing. It’s a signal of strong emotional health and balance. As people get older, they’re more aware of mortality,” Carstensen said. “So when they see or experience moments of wonderful things, that often comes with the realization that life is fragile and will come to an end. But that’s a good thing. It’s a signal of strong emotional health and balance.” (Laura Carstensen.)

Meski penelitian itu dilakukan di Amerika, rasanya bisa juga diambil hikmahnya disini. Fasilitas negara untuk senior citizens di Amerika memang jauuuh lebih baik dari pada di Indonesia. Tapi boleh jadi penelitian itu juga merupakan kecenderungan universal yang berlaku dimana saja.

Saya pikir saya harus mencerna lebih dalam penelitian di Stanford University. Apalagi saya sedang memasuki apa yang di Amerika disebut “Golden Years“. Bagaimana menjadikan golden years menjadi golden happiness. Kenapa tidak ??.

***

Carstensen said. “Aging isn’t going to turn someone grumpy into someone who’s happy-go-lucky. But most people will gradually feel better as they grow older.”

Kalau mau lebih jelas sila klik disini.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s