Kelompok mahasiswa pencinta alam atau “Natural Warriors”

Akhir Desember tahun lalu, anak saya Daniel untuk pertama kalinya tidak merayakan Natal bersama kami. Sejak awal kuliah dia rupanya tertarik untuk ikut kelompok mahasiswa pencinta alam di kampusnya. Ternyata jadwal “pentahbisan” baru anggota baru STAPALA STAN diadakan tanggal 27 – 31 Desember 2010. Daniel merasa terlalu boros kalau dia hanya pulang ke Surabaya pada hari Natal, sementara tgl 24 Desember masih ada kuliah.

Daniel memutuskan ikut pentahbisan itu, meski saya sebenarnya lebih senang dia ada bersama kami di saat Natal.  Saya juga agak gusar karena biasanya acara sejenis pentahbisan itu merupakan latihan fisik dan mental yang sangat berat. Bahkan tidak jarang dalam kegiatan kelompok mahasiswa pencinta alam seperti itu terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban bagi calon anggota baru.

Sebelum berangkat, melalui pembicaraan telepon, saya sudah ingatkan agar Daniel menyiapkan sepatu gunung yang baik untuk jalan kaki dalam waktu lama. Sepatu olah raga biasa, belum cukup untuk dipakai di kawasan perbukitan apalagi dalam cuaca hujan yang mengakibatkan jalan licin. Anak saya sangat semangat untuk menjadi anggota STAPALA, jadi dia merasa akan bisa melaluinya dengan baik.

Dijadwalkan pentahbisan akan ditutup di kampus STAN Bintaro persis malam pergantian tahun baru. Sebelumnya peserta anggota baru ikut latihan mencintai alam di kawasan pegunungan di Bogor selama 4 hari, dan kemudian berjalan kaki selama kurang lebih 10 jam menuju kampus STAN. Setelah selesai keseluruhan acara, saya dan istri menelepon Daniel pada pagi 1 Januari 2011, dia mengangkat telepon dan bilang dia masih capek sekali jadi mau tidur lagi.

Kelompok mahasiswa pencinta alam terdapat di hampir semua kampus perguruan tinggi. Organisasi ekstra kurikuler sejenis ini sangat populer bagi mahasiswa. Untuk menjadi anggota, seorang mahasiswa harus mengikuti serangkaian latihan fisik dan mental, termasuk latihan fisik dikawasan alam yang keras seperti pegunungan, pantai karang, atau sejenisnya.

Latihan-latihan fisik mendominasi kegiatan kelompok pencinta alam berupa naik gunung, memanjat tebing, menyusuri gua, mengarungi sungai dan pantai, menjelajah tempat-tempat yang sulit dijangkau. Dari kegiatan itu, diharapkan mahasiswa bisa mencintai alam, mensyukuri nikmat dan berkat Tuhan, serta kontemplasi menyadari keterbatasan diri. Latihan itu pada umumnya meningkatkan “natural survival capacity” anggotanya, sehingga di medan-medan sulit bisa mengatasi segala rintangan berat.

Saya menggarisbawahi kata-kata pencinta alam dan mencintai alam, dan ingin meluruskan pengertian pencinta alam. Kalau pengertian mencintai alam lebih menitik beratkan pada kegiatan-kegiatan peningkatan “natural survival capacity” melalui naik gunung, memanjat tebing, menyusuri gua, mengarungi sungai dan pantai, kelompok itu sebenarnya lebih tepat disebut sebagai penakluk alam atau malahan bisa dinamai sebagai “natural warriors.

Seseorang yang mencintai alam, sesungguhnya tidak harus bersusah payah untuk latihan fisik yang berat. Pencinta alam bisa dengan melakukan kegiatan 3R, tidak  menggunakan kantong plastik, berhemat air, berhemat enerji, dan tidak mencemari lingkungan. Kegiatan-kegiatan ini jelas sangat melindungi alam dari kerusakan. Pencinta alam sejati adalah orang yang melestarikan lingkungan, di rumah sendiri dan di sekitar tempat tinggalnya sendiri. Untuk menjadi pencinta alam cukup dengan melakukannya setiap hari, tidak perlu punya kemampuan fisik yang kuat.

Menjadi penakluk alam atau Natural Warriors sebenarnya cukup baik, tapi akan lebih baik menjadi penyelamat alam dan lingkungan.

2 thoughts on “Kelompok mahasiswa pencinta alam atau “Natural Warriors”

  1. Susno Duadji, peniup peluit itu, tidak pernah mendapat penghargaan, malah diganjar hukuman penjara. Tapi Kakak Najwa, bukan peniup peluit tapi hanya mengaduk-ngaduk perasaan masyarakat dan mengompor ulung, justru diberi penghargaan. Enggak habis pikir gimana kakak wartawati ini, Najwa Shihab, yang enggak ada nyali sedikitpun, dan beraninya hanya membuat acara dari sudut sejarah saja, seperti dalam acara Mata Najwa, bukan segi-segi aktual dan signifikan untuk kepentingan rakyat Indonesia masa kini, bisa mendapat award. Tapi wajar, semua lulusan Barat enggak akan terlalu sulit memperoleh penghargaan seperti itu, sebab ikut mempromosikan kepentingan Barat, atau setidaknya diam terhadap kebergsekan, kemunafikan dan standar ganda Barat. Padahal orang-orang seperti Kakak Najwa enggak mungkin punya mata dan hati serta mengkritisi Barat, sebab dia bekerja di media pengeruk keuntungan juga, bukan media total independen atau dibiayai sebuah yayasan norlaba. Kakak Najwa juga disekolahkan gratisan tepatnya melalui beasiswa dari pemerintah pro barat, dalam hal ini pemerintah Australia. Kalau ada wartawati/wan Indonesia lulusan non-Barat, misalkan lulusan Rusia atau bahkan Korea Utara, lalu mampu mendapat penghargaan itu, baru kita akan salut. Itulah jurnalisme sejati, jurnalisme tanpa berpihak. jadi kita harus sadar hal itu, ini bukan berarti saya kekiri-kirian. Ini bukan soal kiri dan kanan, tapi soal jelas dan nyata adanya kepentingan Barat, yang menyelinap halus di bangsa ini melalui rezim-rezim sejak masa Soeharto, dan diteruskan rapi oleh SBY. Media tempat Kakak Najwa bekerja pun sangat bangga dan sangat ambil manfaat ini, untuk maksud-maksud ekspose, seperti saat membanggakan semu pada wartawati Andini Effendi yang dikirim ke Libia dan negara tetangganya, tanpa menghasilkan liputan-liputan besar, tapi hanya seolah dekat dengan mara bahaya, bom-bom berjatuhan, dan tersirat seakan dia “dekat nyaris kena bom”. Itu bukan berita. Lebih baik ambil dari kantor berita Tv-Tv Barat yang sangat rinci dan canggih dalam melihat kebenaran, dalam melihat siapa yang benar dan siapa yang jelas. Penguasa macam Khadafi justru diam-diam dibela oleh MetroTV, terlihat dari uraian-uraian MetroTV, hanya karena mungkin takut kurang membela umat Islam, itu sebuah blunder Metro TV. Itu semua hanya untuk gengsi-gengsian saja. Tidak ada yang bermakna, melihat kebenaran pun tidak mampu, samasekali.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s