Gerakan LOCAVORE, hemat enerji, selamatkan lingkungan

Upaya paling penting dalam pelestarian lingkungan adalah perubahan perilaku. Kesadaran masyarakat untuk melestarikan dan menyelamatkan lingkungan dilakukan dengan kegiatan sehari-hari. Salah satunya adalah dengan merubah pola konsumsi makanan sehari-hari. Saat ini sedang bertumbuh gerakan perubahan pola konsumsi makanan yang disebut dengan LOCAVORE MOVEMENT.

Gerakan Locavore mengajak orang untuk mengkonsumsi makanan lokal. Gerakan ini hanya mengkonsumsi bahan makanan yang berasal dari lokasi produksi dalam radius sekitar 175-200 km. Sampai sekarang ini, kita sering mengkonsumsi bahan makanan seperti daging, beras, sayuran, buah-buahan yang berasal dari tempat-tempat yang cukup jauh dari tempat kita. Bahkan tidak jarang kita mengkonsumsi bahan makanan impor dari negara-negara yang sangat jauh. Kalau anda mengkonsumsi buah apel washington yang perkebunannya di California, Amerika Serikat, maka jarak tempu buah apel dari perkebunan sampai ke meja makan anda mungkin lebih dari 20.000 kilometer.

Kalau sumber makanan kita hanya berjarak kurang dari 200 kilometer, artinya waktu tempuh dan jarak dari daerah penghasil ke meja makan kita relatif pendek. Sehingga enerji yang terpakai dalam proses transportasi relatif kecil. Kalau saya sedang di rumah di Surabaya makan ayam goreng, daging ayam di beli di pasar dekat rumah. Ayamnya berasal dari peternakan di Jombang, maka enerji yang terpakai untuk menyiapkan ayam goreng mulai dari peternakan di jombang sampai di priring saya relatif rendah. “Carbon print” yang timbul selama proses itu juga relatif rendah. Tapi kalau ayam goreng itu, berasal dari ayam yang diternakkan di Cirebon, maka “carbon print” sepotong ayam goreng dari Cirebon lebih besar dari pada ayam yang berasal dari Jombang. Apalagi kalau ayamnya berasal dari Cina atau Australia, “carbon print” nya menjadi jauh lebih besar lagi. Padahal, yang saya konsumsi cuma sepotong ayam goreng.

Carbon print adalah istilah yang digunakan untuk mengetahui jejak ekologis suatu produk atau suatu proses. Dengan mengetahui carbon print, maka enerji yang dibutuhkan untuk suatu produk atau suatu proses dapat dihitung. Semakin besar carbon print, berarti semakin besar enerji yang dikonsumsi untuk suatu produk tertentu. Enerji yang digunakan semakin besar, berarti, semakin besar pula lingkungan yang dieksploitasi. Ujung-ujungnya, semakin besar pula limbah yang terjadi atau lingkungan yang dicemari.

Jadi sangat jelas, kalau saya di Surabaya makan untuk sepotong ayam goreng kampung yang berasal dari Jombang, carbon print nya lebih kecil dibandingkan sepotong ayam goreng dari Australia.  Ketika saya mengkonsumsi aym Jombang, maka itu sudah dari bagian Locavore.

11 thoughts on “Gerakan LOCAVORE, hemat enerji, selamatkan lingkungan

  1. Betul pak….kami sekeluarga sudah melakukannya….belanja dekat rumah..cuma jalan kaki…masak lauk pauk seadanya…yang praktis…hemat di ongkos

    Like

    • Dear Ibu Mida,
      Kalau saya boleh usul, mari kita merintis upaya menyediakan beberapa
      bahan pangan, utamanya sayuran, yang dapat kita tanam di sekitar rumah kita masing-masing. Misalnya menanam cabai dengan pot, sampai kaleng-kaleng bekas cat.Silakan mencoba. Di blog Locavore Indonesia ada cerita ringan tentang hal itu. Salam locavore.

      Like

  2. Hmmm bener juga amangboru, ide ini yang belum banyak terpikirkan banyak orang…

    err… tapi kalo misalnya ngidam makanan yg jauh2 gimana ya?😀

    Like

  3. Banyak dari kita yang nggak mikir sejauh itu ya. Jadi sadar nih. Selama ini hanya pengen makan sesuatu, beli, makan, bayar, kenyang, puas.

    Like

  4. Dear Bung Togar Silaban, terima kasih untuk info dan komentar Anda. Mari kita saling bergandeng tangan dan berbagi semangat untuk terus mengabarkan tentang gerakan locavore ini di negara kita.

    Saya senang akan tulisan Anda ini, di mana Anda telah mampu membuka wawasan dan pengetahuan para pembaca Anda. Masih bergairah untuk terus nulis topik penting ini, bukan ? Saya tunggu. Salam dan sukses selalu.

    Like

  5. Saya baru sekali ini baca ada Gerakan Locavore ini.
    Baru ngeh tentang carbon print.

    Ito, bagaimana dengan kebiasaan berbelanja di Supermarket, karena pelanggan supermarket pada umumnya memang sudah terbiasa dengan merk yang ada di situ. Kita ambil contoh jeruk. Kita semua tahu jeruk yang manis adalah jeruk Medan, jadi otomatis kalau disuruh memilih jeruk lokal dalam rangka locavore, konsumen pasti akan tetap memilih jeruk Medan karena belum ada jeruk lokal lain yang bisa menandingi.

    Selaras dengan permintaan akan jeruk Medan, para petani di Berastagi juga selalu menjual hasil pertanian ke luar daerah, bahkan sampai eksport ke Singapura. Apakah mungkin dengan adanya gerakan locavore ini, secara tidak langsung kita mempersempit ruang distribusi petani?

    Like

    • @zee: Prinsip utama Locavore adalah memperpendek “jejak ekologis” atau carbon print dari suatu produk/proses. Semakin pendek carbon print (kadang disebut juga “ecological print”), maka semakin kecil emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Kita tau emisi gas rumah kaca itulah biang kerok Global Warming yang mengakibatkan perubahan iklim. (Kan udah merasakan kalau sekarang ini naik pesawat semakin sering “turbulence”, dulu goncangan turbulensi sangat jarang). Tentu gerakan Locavore hanyalah sebagian kecil dari upaya “mitigasi” dan “adaptasi” perubahan iklim.

      Adapun produksi petani kita yang diekspor ke luar negeri, itu bagus untuk menambah penghasilan mereka. Setau saya yang diekspor itu adalah kualitas nomor satu (KW-1). Begitu juga mestinya yang kita impor mestinya kualitas prima (walau kadang kita temui juga buah impor yang jelek).

      Sebagai bagian dari Locavore, gerakannya juga adalah mengembangkan produk lokal, jadi kalau jeruk Medan (jeruk Brastagi sebenarnya ya) kualitasnya bagus, bagaimana supaya jeruk Brastagi bisa ditanam di Cipanas dan kualitasnya juga bagus. Atau pisang barangan Medan bisa juga ditanam di Cirebon atau Gresik. Ini kan tantangan dibidang pertanian, dan memajukan pertanian lokal. Jadi jeruk Brastagi yang bagus itu bisa dinikmati di Siantar (selama ini yang bagus diekspor, yang masuk pasar lokal yang KW-2 atau KW-3).

      Di California, orang juga mengkampanyekan locavore sekarang ini. Jadi ada kemungkinan orang Singapur juga suatu saat stop impor Jeruk Brastagi, karena mereka (orang Singapur) nantinya mengembangkan urban farming atau bahkan aerofarming. Kalau kita terlambat, kasian juga petani Brastagi, karena mereka cuma mengincar pasar Singapur.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s