Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah

Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah. Itu jargon yang sering dijumpai masyarakat ketika berhadapan dengan proses birokrasi. Mulai dari bikin KTP, paspor, sampai penyelesaian invoice, seolah semua proses sangat berbelit-belit. Urusan pelayanan birokrasi sepertinya tidak ada yang sederhana, mudah dan murah. Sejumlah oknum bahkan tidak sungkan-sungkan mengucapkan jargon seperti judul posting ini. Alamaaak….. rumitnya menyelesaikan pelayanan di negeri ini.

Saya sendiri pernah bertemu dengan seorang rekan yang benar-benar menganut jargon negatif diatas. Ketika itu, dokumen invoice dari rekanan kami sudah masuk ke kantor. Saya diminta untuk mencek, apakah substansi invoice tersebut sudah lengkap dan benar. Setelah selesai dari saya, dokumen itu disampaikan kepada seorang kolega saya, sebut saja Pak Jamordong (bukan nama sebenarnya), untuk mendapat persetujuan dan tandatanganya, agar bisa ditagih ke kantor kas.

Saya beranggapan, karena sudah diverifikasi, mestinya dokumen itu paling lama satu hari sudah selesai di meja Pak Jamordong, jadi saya tidak perhatikan betul proses selanjutnya. Setelah kurang lebih seminggu, si rekanan bertanya kepada saya tentang invoice itu.

Lho emang belum selesai??“, saya balik bertanya.  Si rekanan mengatakan bahwa dokumen invoice hilang. Akhirnya Pak Jamordong bilang bahwa dokumen itu ketlisut, tercecer, hilang, sehingga belum ditandatanganinya. Kepada saya ia berjanji akan mencari dan segera memproses invoice itu. Sekitar 3 hari kemudian, saya dilapori si rekanan bahwa dokumen invoice itu sudah ditemukan, (ternyata ditemukan dimeja Pak Jamordong tentunya!), dan sudah dalam proses penyelesaian di kantor kas.

Itu kejadian belasan tahun lalu ketika saya baru pindah dari kantor lama ke kantor baru. Waktu itu saya tidak ngeh, bahwa menemukan dokumen yang hilang selama 3 hari itu, ternyata diselesaikan secara adat. Si rekanan akhirnya menempuh cara penyelesaian adat untuk memproses invoicenya yang kemudian ternyata cepat.  Pak Jamordong menerapkan “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah“, persis seperti lakon Pak Ogah dalam lakon boneka Si Unyil.

Birokrasi dari sononya memang sudah dipenuhi aturan. Sebenarnya aturan dibuat supaya tidak kacau, supaya jelas, tidak seperti gambar disebelah ini yang penuh dengan kerumitan. Tetapi banyak petugas birokrasi yang menggunakan aturan sebagai celah untuk mencari keuntungan sendiri atau sekelompok orang.

Tentu saja jargon “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah” tidak bisa dipertahankan lagi di birokrasi Indonesia kedepan. “Apa kata dunia?“, kalau para birokrat masih terkungkung dalam paradigma lama yang buruk. Kultur birokrasi negatif seperti itu sudah harus dikikis habis. Kalau ada yang masih menerapkan itu, para atasan dan pengambil keputusan di unit organisasi bersangkutan sudah harus segera meminggirkan mereka yang masih negatif.

4 thoughts on “Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah

  1. Itulah ‘Indonesia’ ….
    Btw. Harga pembuatan paspor baru/perpanjang berapaan di Surabaya tulang?
    Ada mendekati angka ‘resmi’ Rp 255 ribu?

    Horas jala gabe!

    Like

  2. Menyedihkan!
    Tapi ini masih terjadi bahkan hingga sekarang amangboru :((
    Kapan hari Eka ada urus sesuatu dengan instansi lain, setiap minggu Eka telpon tanya progressnya; ada aja jawabannya. Si pejabat A, B,C gak ditempat terus jadi gak bs ttd.

    Karena udh 2 bulan terkatung2, akhirnya atasan Eka telpon dan bilang nanti kami ada sesuatu untuk bapak deh. Sim salabim gak nyampe seminggu itu dokumen selesai.
    Muak dengan keadaan begini. Tapi ngedumel aja gak akan menyelesaikan masalah ya kan amangboru?
    Yang bisa Eka lakukan, ya mulai dr diri sendiri dan berusa sebarkan energi positif kepada org2 terdekat.
    Semoga birokrasi kita berubah ke aras yg baik. semoga!
    I still have faith🙂

    Like

    • Sampai sekarang masih terjadi di berbagai tempat. Tapi yakinlah bahwa suatu saat semua orang akan menghentikannya dengan cara masing-masing. Mari kita hentikan dengan cara yang beradab, tapi sungguh-sungguh.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s