Amoeba …., untuk perubahan kultural

Amoeba, atau lebih mudahnya disebut Amuba adalah mahluk sangat kecil yang kadang bisa masuk kategori binatang, tapi juga kadang masuk kategori tumbuhan. Ukuran amuba sedemikian kecil, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Akan tetapi mahluk kecil itu sangat penting dalam rantai kehidupan.

Meskipun kecil, amuba terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Ada inti sel amuba yang mengendalikan semua pertumbuhan dan pergerakannya. Ada membran yang berfungsi melakukan metabolisma dan pertumbuhan. Bentuk sel amuba dapat berubah-ubah sesuai kondisi dimana dia berada.

Bentuk dan fungsi amuba yang unik, menginspirasi Alan AtKisson untuk mengembangkan metodologi perubahan suatu sistem. AtKisson dalam bukunya The ISIS Agreement : How sustainability can improve organizational performance and transform the world ” (Earthscan, UK : 2008; www.earthscan.co.uk ), menjelaskan konsep perubahan suatu entitas sistem dengan konsep Amoeba. Entitas sistem bisa berupa komunitas, masyarakat, organisasi, birokrasi, perusahaan, kota, atau apa saja sebagai suatu kesatuan sistem.

Analogi amuba yang digunakan AtKisson, memperlihatkan karakter amuba yang selalu berubah menyesuaikan pada kondisi dan fungsinya. Amuba selalu berubah untuk maju. Demikian juga suatu entitas organisasi juga harus selalu berubah menyesuaikan pada kondisi lingkungannya. Kalau dalam sel amuba, perubahan dikendalikan oleh inti sel dan dipengaruhi oleh unsur-unsur sel amuba itu sendiri. Suatu entitas masyarakat dipengaruhi oleh elemen-elemen masyarakat. Secara grafis, Alan AtKisson menggambarkan kultur perubahan “amuba” seperti diagram dibawah.

Komponen-komponen kultur perubahan dalam suatu sistem amuba Alan AtKisson diuraikan sebagai:



Innovators yaitu orang-orang yang menggagas dan menemukan ide-ide untuk perubahan.

Change Agents adalah mereka yang mempunyai keahlian untuk melaksanakan ide-ide dari para innovators, Para change agents mempunyai kemampuan untuk meyakinkan lingkungan dan masyarakat (mainstreamers) untuk melakukan perubahan.

Transformers adalah orang atau lembaga yang menjadi pengendali bagaimana sebuah perubahan dilakukan. Transformers menentukan prioritas perubahan yang akan dilakukan.

Mainstreamers adalah lingkungan atau masyarakat awam, yang kadang-kadang tidak peduli apakah ada perubahan atau tidak. Mereka biasanya hanya mau ikut bila melihat ada manfaat yang diperoleh dari suatu perubahan.

Laggards adalah adalah pihak-pihak yang ingin menunda adanya perubahan. Mereka mendapatkan keuntungan dari status quo dan merasa berada pada comfort zone pada status quo. Laggards hanya mau berubah bila ada kekuatan yang mengharuskan mereka untuk berubah.

Reactioners adalah pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu dan cenderung tidak menghendaki perubahan.

Iconoclasts adalah pihak yang selalu mengkritik “status quo”, mereka umumnya sangat vokal menentang kemapanan.

Menurut Alan AtKisson, pihak-pihak yang telah disebutkan diataslah yang sangat penting dipertimbangkan ketika melakukan perubahan. Kelompok Iconoclast dapat menjadi sangat positif untuk melakukan perubahan, dengan syarat mereka diarahkan dan dikibatkan sesuai tujuan perubahan yang diinginkan.

AtKisson mengidentifikasi fihak-fihak penting lainnya dalam metoda perubahan kultural suatu sistem.

Controllers adalah pihak atau suatu mekanisme yang menetapkan bagaimana perubahan “Amuba” dilakukan, apa tujuannya dan apa target yang ingin dicapai. Controllers memberikan arah perubahan yang dituju.

Curmudgeons adalah pihak-pihak yang sangat pesimis terhadap perubahan. Meski secara terpaksa mereka ikut dalam perubahan, tapi mereka akan selalu mengatakan: “Perubahan tidak akan terjadi, kalaupun ada, perubahan tidak akan membawa perbaikan”.  Curmudgeons dapat mempengaruhi pihak-pihak lain untuk tidak melakukan dan menerima perubahan.

Spriritual recluses adalah individu atau lembaga yang memfokuskan pada visi jangka panjang perubahan. Mereka memberi motivasi dan meningkatkan semangat untuk melakukan perubahan.

***

Dalam mencermati birokrasi sebagi suatu entitas yang memerlukan perubahan berkelanjutan, maka konsep “Amuba” bisa digunakan untuk membantu menjelaskan bagaimana Reformasi Birokrasi harus dijalankan dengan menganalisis komponen-komponen “amuba” birokrasi. Dalam reformasi birokrasi diperlukan inovasi yang akan dijalankan oleh para Change Agents dan Transformers.

Perubahan birokrasi yang diperlukan  di Indonesia terutama mencakup perubahan sistem dan perubahan kultur. Perubahan kultur birokrasi jauh lebih sulit daripada perubahan sistem. Sistem birokrasi yang baik bisa dirancang dan dibuat. Tapi tanpa perubahan kultur birokrasi, maka reformasi birokrasi sulit tercapai. Perubahan kultur birokrasi harus mempertimbangkan dan menganalisis semua komponen yang diindentifikasi oleh AtKisson.

Untuk tujuan perubahan kultur birokrasi, maka semua pemangku kepentingan (dalam metoda AtKisson adalah semua komponen Amuba) harus ikut ambil bagian. Controller harus merupakan lembaga dan individu yang tepat. Para Change Agents diharapkan bisa mengubah Laggards menjadi Transformers atau setidaknya menjadimainstreamers.

One thought on “Amoeba …., untuk perubahan kultural

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s