Aerofarming untuk dukung Gerakan Locavore

Belakangan ini sejumlah negara mulai mengkhawatirkan akan terjadinya krisis pangan. Salah satu penyebabnya adalah karena rentannya sumber-sumber pangan akibat perubahan iklim. Musim yang berubah-ubah mengakibatkan hasil sejumlah pertanian turun. Harga cabe yang pada awal Januari 2011 mencapai Rp. 150 ribu perkilo, konon karena gagal panen akibat perubahan iklim. Untuk mengadaptasi perubahan iklim, sejumlah pihak terus berupaya mencari solusi, adaptasi sistim terhadap perubahan iklim. Salah satunya adalah pengenalan teknologi oleh AeroFarms, yang mengklaim bahwa teknologi mereka rendah emisi rumah kaca.

Perusahaan Amerika itu mengklaim telah menemukan teknologi masa depan pertanian. Aerofarm menggunakan teknologi yang mereka namai  aeroponic farming technology; teknologi ini tidak lagi menggunakan tanah sebagai media tanaman, melainkan kain/tekstil. Kemudian bibit tanaman diletakkan pada media kain lalu disemprot dengan uap air. Sinar matahari digantikan oleh lampu LED (light-emitting diode) untuk mendukung proses pertumbuhan. Ilustrasi sistim aerophonic seperti pada gambar dibawah.

Pada awalnya, teknologi ini dikembangkan untuk skala laboratorium oleh DR. Ed Harwood, seorang peneliti yang kemudian secara total mengembangkan teknologi aerofarm. Dengan disain yang hemat ruang dan bisa ditempatkan dimana saja, teknologi Aerofarm memang menjanjikan sesuatu yang baru. (Sayangnya, informasi mengenai harga teknologi ini belum saya dapatkan). Tetapi dalam beberapa hal teknologi ini memang mengurangi emisi gas rumah kaca dibanding dengan metoda pertanian konvensional.

Karena bisa diterapkan didalam ruangan, bahkan di rumah, maka, ongkos transportasi untuk mendapatkan hasil pertanian bisa ditekan. Kalau mau panen, anda tinggal memetik sayur atau buah di dalam ruangan dapur anda atau di ruang garasi mobil. Tidak perlu ada ongkos untuk bensin atau bahan bakar. Untuk kawasan perkotaan yang padat, teknologi ini sangat menjanjikan.

Pada saat yang sama, bila Aerofarming digunakan secara luas, maka hal itu juga akan mendukung Gerakan Locavore. Dengan begitu kebutuhan dapur dari sumber pertanian, dapat sejalan dengan prinsip Locavore.  Para pendukung Gerakan Locavore akan sangat senang dengan adanya teknologi Aerofarming.

Arab Saudi sudah menggunakan Aerofarming, paket aerofarm sudang dipasang di Jeddah sebagai pilot proyek.

Informasi lengkap klik disini.

***************

So it is fitting that the next really major advance in farming comes to the city of Jeddah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s