Mengurai dan memutus “Red Tapes” birokrasi

Professor Rhenald Kasali, gurubesar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Kamis (24/2) menulis tentang carut marut birokrasi, di koran Seputar Indonesia. Tulisan Rhenald Kasali itu, sebagai respon terhadap keluhan Presiden SBY yang disampaikan usai Rapat di Istana Bogor beberapa hari sebelumnya. Intinya, Prof. Kasali mengatakan bahwa persoalan birokrasi di Indonesia sudah menjadi penyakit kronis stadium lanjut. Dan perlu usaha luar biasa untuk menyehatkan birokrasi.

Untuk memutus red tapes (benang kusut) birokrasi diperlukan komitmen tinggi dari pengambil keputusan. Karena benang kusut birokrasi sudah menjadi penyakit kronis stadium lanjut, maka diperlukan dokter ahli yang berkemampuan dan berkemauan tinggi untuk mengoperasi dan menyembuhkan penyakit birokrasi itu. Dokter ahli yang dibutuhkan tidak cukup hanya seorang, tetapi merupakan suatu tim yang dipimpin oleh orang yang berkompetensi tinggi dan berdedikasi tinggi.

Pertanyaannya, siapa saja yang harus menjadi anggota dokter ahli dan bagaimana cara mengurai benang ekstra kusut itu. Pertanyaan ini mendasar dan harus dipecahkan terlebih dahulu. Tetapi solusi untuk pertanyaan ini tidak boleh terlalu berlarut-larut. Kalau terlambat mengobati, ibarat penyakit, bisa-bisa berlanjut ke tahap mematikan. Skak mat!.

 

” …… Birokrasi yang berarti bekerja dengan prosedur dan aturan telah tereduksi menjadi organisasi yang dikuasai berbagai benang kusut (red tapes). Organisasi yang terbelenggu red tapes dapat dikelompokkan ke dalam empat perilaku yaitu terpolitisasi (politicking culture), membeku (frozen culture), kekacauan (chaotic culture), dan pembusukan (predatory culture).

Keempatnya tampaknya telah lengkap ada dalam birokrasi Indonesia dan butuh penanganan yang sangat serius. Ketika para birokrat bekerja dengan fear factor dan putus asa, mereka akan mengambil langkah aman membekukan kegiatan. Birokrasi yang demikian menghalangi kemajuan dan berdiam di tempat, tidak mengambil risiko sama sekali. Itulah frozen culture …..” (Rhenald Kasali)

Sayangnya, Rhenald Kasali, dalam tulisannya itu, lebih banyakhanya mendiagnosa. Pengobatan yang direkomendasikan kurang menggigit, dan kurang bisa diterapkan secara operasional. Rhenald Kasali memang mengatakan bahwa red tapes itu harus diputus. Dari mana memutus, dan bagaimana memutusnya, Prof. Kasali tidak menjelaskan. Apakah karena Prof. Kasali belum menemukanramuan ajaib untuk mengobati, atau mungkin ia menunggu permintaan dari pasien yang sakit.

Apapun alasannya,  benang kusut birokrasi harus diurai satu persatu. Dalam kondisi tertentu, ada bagian yang terpaksa harus diamputasi, dipotong untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Mengurai dan memutus red tapes birokrasi, memang tidak semudah membayangkannya. Ia tidak sesederhana hanya seperti menggunting pita, tidak juga semudah meluruskan untaian melati. Pekerjaan ini pekerjaan luar biasa berat dan rumit. Tetapi pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan dan bisa diselesaikan dengan baik.  Untuk menyelesaikannya, dibutuhkan ketangguhan dan daya juang tinggi. Dalam posting di blog seperti ini tidak mungkin menguraikan bagaimana detail teknis mengurai benang kusut birokrasi.

Sebagaimana ditulis Prof. Kasali, carut marut birokrasi Indonesia sudah menjadi kultur yang buruk (politicking culture, frozen culture, chaotic culture, predatory culture). Kondisi ini menuntut perubahan kultur birokrasi yang disebutkan tersebut. Disinilah persoalan beratnya, untuk merubah kultur, butuh enerji yang besar, butuh waktu, butuh pelaksana (orang dan institusi) yang tekun dan punya komitmen tinggi. Dibutuhkan “leading actor” yang terus menerus bekerja secara konsisten dan berdedikasi tinggi. Hasilnya tidak bisa dilihat dalam kurun waktu singkat.

Kata Alan AtKisson, untuk perubahan kultur, harus mengkaji semua komponen dalam metodologi Amoeba yang dikembangkan AtKisson. Untuk kasus Indonesia, perubahan kultur birokrasi harus melibatkan semua stakeholder birokrasi. Reformasi birokrasi dilakukan oleh birokrasi, tetapi tanpa dukungan stakeholder, hasilnya tidak akan nyata. Karena kultur birokrasi sangat dipengaruhi oleh kondisi dan tuntutan stakeholder. Bila stakeholder pasif, maka bisa dipastikan reformasi birokrasi hanya akan jadi jargon tanpa makna.

Mereformasi birokrasi membutuhkan ketelatenan dan kesungguhan semua pihak. Secara terus menerus harus ada Transformers dan Reformers yang bekerja habis-habisan untuk mendorong reformasi birokrasi.  Untuk itu ketahanan mental para Transformers dan Reformers harus tangguh dan siap menghadapi benturan dan hambatan. Kita semua berkewajiban untuk mendukung Transformers dan Reformers birokrasi.

****

Tulisan Rhenald Kasali selengkapnya klik disini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s