Amarah dendam berujung maut

Peringatan bagi majikan, bila terlalu keras kepada karyawan, bisa-bisa berujung maut. Koran-koran di Surabaya hari ini (28/2)  memuat berita pembunuhan sadis terhadap ibu dan anaknya. Tersangka pelaku adalah mantan karyawan yang sudah berhenti beberapa bulan sebelumnya. Tan Pratiwi, dan anaknya Mariana diduga dibunuh oleh mantan karyawannya setelah disiksa dan dipaksa menandatangani cek giro. Setelah tewas, mayat korban digauli oleh para tersangka sebelum dibuang dan kemudian dibakar. Sadis, mengerikan, tragis.

Saya bunuh Tacik (panggilan Tan Pratiwi) karena dia sering menghina saya. Dia selalu membodoh-bodohkan saya,” ujar Yanto ditemui di Polsek Tambaksari, Minggu (27/2).

Selain itu, Yanto mengaku tak pernah diberi minum selama tiga tahun bekerja, sehingga setiap kali kehausan, mereka selalu membeli minuman di luar. Di mata Yanto, majikannya juga pelit. Gajinya per hari Rp 29.000 dan tiap tahun hanya naik Rp 3.000. Saat meminjam uang pun, Tan Pratiwi tidak mau memberi.

Berita koran Surya klik disini. Menurut pengakuan sementara tersangka, mereka merencanakan perampokan dan pembunuhan sejak dua bulan lalu. Tersangka Yanto berhenti bekerja sebelum lebaran tahun lalu. Sebagaimana pengakuan tersangka, korban memperlakukan tersangka secara semena-mena. Awal Februari ini, empat orang sekeluarga di Probolinggo dibunuh oleh mantan karyawannya. Menurut polisi, motif pembunuhan adalah dendam. Tersangka mau pinjam uang kepada korban, oleh korban bukannya dipinjami uang, tetapi malah dimarahi dan menurut tersangka ia “dihina” sehingga tersangka sakit hati dan mendendam yang akhirnya membantai habis nyawa 4 orang.

Realita hidup kadang memang sangat tragis, nyawa melayang karena korban diduga menghina tersangka. Sudah begitu, tidak hanya yang menghina yang dibunuh, tapi keluarga yang tidak tahu menahu persoalan ikut jadi korban. Anggaplah benar bahwa korban “menghina” tersangka. Pada saat tersangka dihina, ia tidak melawan, tapi menyimpan dendam. Bahkan tersangka mengajak orang lain merencanakan perampokan dan pembunuhan.  Yang jadi korban, tidak hanya satu orang yang melakukan penghinaan, tetapi juga keluarga korban.

Amarah dendam yang memuncak membuat orang tidak dapat berpikir jernih. Mudah sekali kalap dan merencanakan pembalasan yang sadis. Apa yang terjadi di masyarakat kita sehingga amarah sangat mudah terbakar. Dimana kesabaran dan kemurahan yang sering didengungkan sebagai ciri dan modal masyarakat Indonesia.

“Amarah” adalah hasil dari masyarakat yang sedang sakit.  Nafsu amarah secara kolektif juga semakin sering terjadi. Amuk massa menghakimi orang atau kelompok lain adalah bentuk nafsu amarah massal yang tidak terkontrol. Padahal orang Indonesia mengklaim diri sebagai masyarakat religius yang pendamai. Ada sesuatu yang salah dalam kondisi ini. Adakah pemahaman kemanusian dan keTuhanan kita semakin dangkal sehingga gampang mengkhakimi orang lain.

Ampuni kami Tuhan, kalau kami tidak mampu menahan emosi kami. Mampukan kami untuk mengasihi sesama manusia dengan lebih baik.

One thought on “Amarah dendam berujung maut

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s